Dimulai dari Piring (2)

Di masa pandemi ini, seluruh dunia cemas tidak saja pada virus yang sekarang berkecamuk, tetapi pada ramalan bahwa akan makin banyak jenis virus dan bakteri baru yang tidak bakal sanggup diatasi manusia. Dunia memang makin berubah, pertama-tama bukan karena faktor-faktor alamiah tetapi karena ulah manusia. Karenanya, para ahli menyebut jaman ini sebagai era antroposen, yakni periode apokaliptik bumi dimana faktor-faktor penentu kehidupan berubah bukan karena kehendak alamiah bumi itu sendiri tetapi akibat intervensi manusia.

Ada pepatah lama yang patut dikemukakan berulang-ulang pada jaman ini. “Lain padang lain belalang lain lubuk lain ikannya”. Kemanapun engkau pergi, dimanapun engkau berada, di setiap tempat ada adat dan tata kramanya. Karena itu, “dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung..”

Tahu diri alias jangan sombong dan serakah dalam berelasi, apalagi di negeri orang, seringkali diutarakan sebagai makna dari dua pepatah legendaris ini. Namun, bukan tanpa alasan pepatah ini mengambil metafor alam. Leluhur yang bijak mengutarakan itu dalam pergulatan mereka dengan relasi dunia sosial sekaligus lingkungan tempat ia dibesarkan. Mereka paham sepenuhnya, tanda-tanda alam yang digunakan pada kata, tidak hanya bermakna sosial antara manusia dan manusia. Tetapi juga relasi ekologis. Antara manusia dan alam, bahkan manusia dengan Pencipta. Karena itu, ketika nasihat pada pepatah itu dilanggar maka bukan hanya relasi sosial yang babak belur, tetapi juga relasi ekologis.

Asal muasal dari refleksi ini berawal dari pertanyaan-pertanyaan berikut. Pernahkah kita berpikir, kenapa kita lahir, dibesarkan kemudian bertumbuh di tempat dimana kita ada saat ini, dengan iklim yang panas, matahari sepanjang tahun, makanan utama nasi, jagung, dan seterusnya? Kenapa kita tidak lahir sebagai orang Inggris yang makan roti dan susu?

Ilmu biologi mengajarkan anak-anak sejak dari Sekolah Dasar bahwa apa yang kita makan membentuk diri biologis yang menyusun sel, rangka, otot, otak, dan semua indera yang kita miliki. Karena itu, hidup dan besar di suatu tempat berarti tulang belulang, darah dan daging seseorang juga dibentuk oleh tanah itu, bumi tempatnya berpijak. Relasi ekologis kita dibina dari sana yang berwujud pada tubuh dengan kompleksitas senyawa pembentuknya. Itulah relasi ekstrinsik (ekologis) yang menjelma menjadi komponen intrinsik (biologis).

Dimensi ekstrinsik yakni alam itu sendiri, jujur apa adanya. Ia tidak membesarkan suatu kehidupan yang secara asali tidak mendukung kehidupan itu. Misalnya, saya orang Indonesia dihadirkan di tanah tropis karena alasan asali saya memang tepat di iklim tropis. Karena itu, “lain padang lain belalang, lain lubuk lain ikannya” adalah ekspresi ekologis ekstrinsik sekaligus intrinsik bahwa kita lahir, dibesarkan dan bertumbuh di suatu tempat karena pada alam setempat itulah relasi kehidupan kita berkembang. Alam percaya bahwa pada ekosistem itulah logaritma biologis akan menetapkan perkembangan tubuh dan apa yang cocok untuk orang itu, sekaligus cocok dalam relasinya dengan alam setempat. Termasuk disana adalah apa yang layak untuk tubuh hingga tampilan fisik yang mengasosiasikan orang itu dengan tempat asalnya (fenotipe). Karena itu, ketika berhadapan dengan orang tertentu kita dapat menduga-duga asal muasalnya. Dia mewakili alam tempatnya bertumbuh.

Namun demikian, tubuh juga elastis menerima perubahan dan perbedaan. Daya lenting adalah bagian dari adaptasi yang telah menjadi bagian dari cara kehidupan berkembang. Dalam kasus manusia, migrasi dan akhirnya globalisasi membuat batas antarkebudayaan dan juga batas biologis menjadi lentur. Di antara mereka relasi sosial berjalan, dipadu dengan inovasi dan teknologi untuk menghasilkan perubahan yang mungkin diharapkan. Dalam perkembangannya, batasan adaptasi yang tadinya lentur itu berubah jadi lumer. Ukuran sana serta merta dianggap cocok disini. Tidak ada lagi filter mengikuti hukum adaptasi; yakni bahwa yang cocoklah yang digunakan. Sementara yang tidak, jangan dipakai. Dus, terjadilah globalisasi pada semua aspek. Tidak hanya sistem sosial, sikap, perilaku. Tetapi juga selera makan.

Hari-hari ini, orang yang nongkrong di sudut satu kota tropis, tidak lahir dan besar di Italia bisa memesan keju mozarella yang diperah dari sapi-sapi pegunungan selatan Italia, hanya dalam sekejap. Cukup dengan menjentikkan jari tangan pada pelayan restoran. Abrakadabra! Keju mozarella siap dilahap.

Pasar menyadari perkembangan ini, maka berkembangbiaklah industrialisasi makanan. Tidak cukup dari ekosistem sendiri. Petualang lidah meronta kemana-mana mencari menu yang berbeda dari hari ke hari. Dalam satu piring makanan, menunya bisa berasal dari banyak negara. Ikan salmon dari Norwegia, kacang ijo dari Brazil, domba panggang dari New Zealand, minyak zaitun dari Turki, bawang bombay dari India, semuanya ada dalam satu piring.

Apakah ini tidak ada dampaknya?

Tidak banyak orang yang mengajukan pertanyaan ini. Bahkan mungkin tidak ada yang berpikir soal dampak negatif. Umumnya, mereka yang mengambil peran sebagai intelektual publik memandang kebebasan memilih makanan sebagai sukses besar globalisasi yang harus dirayakan. Bahwa kehidupan dewasa ini lebih mudah untuk menjawab pertanyaan “mau makan apa” dibandingkan dengan era ketika leluhur kita hanya berhadapan dengan talas rebus dan jagung bakar. Masa itu, dunia demikian sempit dan “miskin”. Tidak ada pilihan menu bagi orang-orang tua yang menyedihkan itu, selain mengambil dari kebun dan halaman mereka sendiri.

Kalaupun ada sikap kritis pada globalisasi, analisis umumnya diarahkan pada soal-soal eksternal seperti sistem politik, ekonomi, perubahan sosial, dan barangkali dampak lingkungan. Sejauh-jauhnya analisis pada sikap subyek adalah terkait pada keengganan, resistensi, atau bahkan akseptansi seseorang pada perubahan nilai yang dampaknya adalah psikologis dan politikal. Dalam hal ini, rasa cemburu dari kelompok yang rendah akses pada dunia yang kosmopolitan terakumulasi menjadi sikap politik (psikologi politik) resisten seperti Trumpism atau populisme. Mereka menemukan bentuk ekstrimnya pada radikalisme. Karena itu, dunia demokrasi demikian takut pada gerakan ini sampai-sampai banyak pimpinan negara berusaha mencari cara menggali kembali semangat nasionalisme awal abad 20 yang telah lapuk di era teknologi nano saat ini. Barangkali kecemasan itu benar. Tetapi tidak ada yang tahu persis, kapan dan dimana. Kita hanya bisa menduga-duga bahwa dunia politik dan sistem sosial terus berubah dan tidak ada yang tahu kemana perginya.

Namun soal biologis demikian nyata karena terkait langsung dengan kesehatan. Kita tahu persis, jika wajah kesehatan publik masih terus seperti ini, masa depan dunia sudah pasti suram. Itu dimulai dari diri seseorang. Bahwa ketika seseorang didiagnosa cancer, lupus, diabetes, esok dan lusa sekurang-kurangnya dompetnya sendiri, harta istri dan anak-anaknya akan terkuras untuk biaya pengobatan. Ironisnya, semua obat yang rupa macam jenisnya tidak pula menjamin akan datang jam dan detiknya untuk sembuh. Belum lagi soal psikis yang hampir pasti ikut tergoncang.

Di samping itu, jelas dan gamblang bahwa proyek globalisasi makanan diikuti dengan kenyataan epidemik hingga pandemik. Tiap waktu ada saja jenis penyakit baru yang belum ketemu obatnya. Bukan saja atas dasar laporan ilmiah, tiap hari amat mudah kita menemukan masalah kesehatan. Misalnya, orang dengan obesitas hampir ada di setiap tempat dan waktu. Dampaknya, tentu saja tidak hanya masalah kesehatan tetapi juga sosial bahkan ekonomi.

Karena itu, ada beberapa premis spekulatif yang layak untuk dipikirkan terkait globalisasi makanan, ekologi lokal dan kesehatan tubuh.

Premis pertama, tak kenal maka tak sayang. Globalisasi makanan mengubah dan barangkali membuat tubuh disorientasi karena mengalami sesuatu yang tidak ia kenal (asing). Tadinya lokal yang bertopang pada pangan lokal dan ekosistem pendukungnya yang dikenal tubuh, sekarang berubah global yang tidak jelas muasalnya dari mana. Para ahli ekologi telah bersepakat bahwa prinsip dasar hubungan ekologis yang sehat berdiri di atas relasi saling kenal. Dalam hal ini, tubuh telah berelasi erat dengan ekologi lokal melalui pertemuan rutin yang dia alami sehari-hari. Karena itu, makanan yang masuk ke tubuh adalah jenis yang telah dikenalnya dan berelasi sehari-hari. Karena berelasi maka tubuh menerima asupan alam dari tempatnya bertumbuh sebagai suatu kesinambungan. Asupan itu membuat ia bertahan dan berkembang baik sesuai tuntutan dan panggilan bumi yang membuatnya hidup. Ini merupakan keniscayaan eksistensial ekologis. Bahwa tanpa alam lokal, tubuh biologis itu tidak ada.

Premis kedua, gangguan pada mekanisme adaptasi. Bahwa perubahan asupan pada tubuh biologis memerlukan adaptasi. Namun perubahan yang terus menerus pasti membingungkan mekanisme adaptasi. Seperti paradoks keledai buridan, terlalu banyak pilihan akhirnya mati lemas karena bingung memilih. Tiap waktu tubuh harus mengalami penataan ulang terus menerus untuk berkenalan dengan jenis makanan dari ekologi yang berbeda-beda dan terus berubah tiap waktu seiring dengan berubahnya pola makan. Hasilnya, bukan suatu bentuk tubuh baru yang gagah perkasa sakti mandraguna seperti Gatot Kaca. Tetapi suatu tubuh yang chaos, yang tidak menentu akan jadi apa. Ia tidak lagi berkembang menjadi diri yang merupakan satu kesatuan dengan bumi tempatnya berpijak tetapi tercerabut dan tercerai berai. Sel-sel pembentuknya tidak kompatibel dengan jejaring lingkungan yang lebih luas, akhirnya terbuang. Tubuh semacam itu adalah paria dalam ekosistem setempat. Wujudnya yang paling nyata adalah tubuh tersebut sakit, sehingga lebih senang berdiam di rumah sakit daripada di alam bebas.

Dengan demikian, begitu banyak jenis sakit dan penyakit hari ini jangan ditanyakan pada industri farmasi dan medis. Mulailah dengan memeriksa piringmu sendiri, dari relasimu dengan makanan. Kamu makan dari sumber yang mana? Jangan-jangan seperti dua premis di atas. Terlalu banyak keramaian di piring makan maka lalu lintas dalam tubuh pun tak terkendali. Akhirnya, relasi antara aspek pembentuk kehidupan kacau balau. Semuanya serba asing. Makanan asing, sel asing, penyakit juga asing. Itulah derajat kesehatan kita belakangan ini.

Dimuat di: https://www.lensanews.co/dimulai-dari-piring-bagian-2/

Dimulai dari Piring (1)

Small is beautiful. Sebuah frasa klasik yang diluncurkan Ekonom Inggris kelahiran Jerman, E.F. Schumacher melalui bukunya Small Is Beautiful: A Study of Economics as If People Mattered (1973), kiranya relevan untuk berbagai konteks. Dalam buku itu, Schumacher mengkritik ekonomi arus utama yang mengagungkan ekspansi raksasa dan eskalasi ekonomi skala besar, namun membawa dunia pada krisis energi dan lingkungan. Penulis itu meyakini bahwa teknologi yang simpel dan pemberdayaan ekonomi skala kecil lebih lebih bisa diandalkan untuk memberdayakan lebih banyak orang “kecil”.

Hal-hal kecil memang jarang diperbincangkan sebagai ukuran kebijakan publik atau bahkan aturan kehidupan bersama pada skala mikro. Dalam isu lingkungan hidup pun demikian. Tidak sedikit omongan kelestarian lingkungan dilakukan dengan macam-macam konsep dan pendekatannya hendak menggapai hal-hal besar. Yang kerap kita dengar, misalnya, tanam pohon 1 milyar, mengatasi masalah ozon, pengurangan emisi global, dan seterusnya. Semuanya adalah daftar target-target makro yang terekam dengan mudah dalam catatan statistik. Program pemerintah ditentukan oleh proyeksi dan catatan naik dan turunnya angka-angka itu. Para pengusungnya pun gemar dengan narasi besar. Tak jarang seabrek gelar dipajang untuk menguatkan potret diri seseorang, bahwa memang benar yang dia bicarakan itu ada gunanya.

Mungkin semua itu benar dan dalam hal tertentu perlu. Apalagi narasi pengetahuan kita dalam berbagai metodologi dan sistem ilmu membutuhkan mayoritas untuk dapat dikatakan sebagai bukti. Soal kuantitas. Tetapi ada hal-hal kecil yang sederhana dan jarang dibahas dalam pembicaraan lingkungan hidup. Bahkan dianggap sepele, remeh, tidak masuk hitungan, meski hal itu umum dan lumrah ditemukan. Salah satu yang lumrah itu adalah soal apa yang kita makan. Soal nasi sepiring, lauk sepotong, dan sayur setumpuk.

Pernahkah kita berpikir berapa banyak biaya dan beban yang harus dipikul lingkungan untuk menghidangkan sepiring nasi beserta lauk pauknya. Bahwa untuk sampai di ujung sendok, nasi membutuhkan mata rantai yang panjang dan sarat dengan ongkos lingkungan. Belum lagi ketika orang-orang yang hebat di kota doyan steak impor, buah impor, sayur impor. Ongkosnya makin bertambah.

Mari kita berhitung sederhana. Misalnya, dari padi menuju nasi. Hamparan sawah butuh air mulai dari penyemaian hingga menjadi bulir-bulir yang siap dipanen. Ketika hendak dihidangkan di atas meja pun, dia butuh air. Beberapa bulan awal, anakannya yang baru tumbuh sempoyongan membutuhkan suplai air yang konsisten. Sejumlah catatan penelitian menyebutkan kebutuhan air untuk pola sawah konvensional adalah 10.000 m3/ha/musim atau sama dengan 10jt liter/ha/musim (6 bulan). Angka ini setara dengan konsumsi air 794 orang dalam satu musim (2100 liter/bulan). Jika harga per liter air dihitung hanya Rp. 3.000 saja, maka nilai air untuk sawah per hektar tiap musim adalah sebesar Rp. 30 Milyar.

Saat ini banyak sistem pengairan tidak lagi ditopang irigasi sungai tetapi mengandalkan sedotan air tanah. Setelah berkurangnya debit sungai-sungai besar, petani tidak lagi mendapatkan suplai air yang konsisten. Agar bertahan dengan sistem pertanian sawah, tidak ada pilihan lain selain mengebor air tanah. Bisa dibayangkan berapa air tanah yang disedot untuk 1 ha sawah. Seluruh tanah jawa diperkirakan mempunyai total luas sawah kurang lebih 3.458.000 ha. Seandainya separuh saja yang mengeruk air tanah, milyaran liter air dihisap untuk mengairi sawah.

Itu baru nasi. Bagaimana dengan lauk pauk. Ikan sepotong yang diusahakan nelayan, dan rekan-rekannya di atas piring. Semuanya minimal membutuhkan bahan bakar, biaya transportasi, pengemasan, penyimpanan, dan seterusnya. Berapa biaya yang harus keluar untuk membuat semua pabrik rasa itu sampai ke kerongkongan, yang sayangnya tidak menghasilkan emas dan berlian. Tapi kakus dan tempat sampah.

Betapapun ongkos untuk menghidangkan nasi sepiring amat besar, upaya melayani rasa tidak berhenti. Industri memfasilitasi kebutuhan rasa, agar tidak hanya soal kenyang tapi juga nikmat, sedap, dan kalau perlu candu. Rasa macam ini diciptakan. Sehingga meski hanya tinggal di “cikot”**, selera orang bisa melanglang buana hingga ke Kentucky Texas Amerika, pusat pabrik rasa KFC.

Akibat kecanduan rasa, banyak industri menggenjot produksi hingga berlebih. Secara global, diperkirakan sepertiga dari semua makanan yang diproduksi berakhir menjadi sampah. Jumlah itu setara dengan 1,3 milyar buah-buahan, sayur, daging, susu, makanan laut, kacang-kacangan yang diproduksi berlebihan, rusak selama proses distribusi, sisa konsumsi yang terbuang di restoran, hotel, sekolah, hingga dapur rumah tangga.

Makanan yang terbuang jelas merupakan soal lingkungan. Sama halnya dengan produksi beras di atas, makanan yang terbuang juga menyia-nyiakan energi dan air yang digunakan selama proses untuk membuatnya tumbuh, panen, transportasi, dan pengemasan. Makanan yang dibuang itu pada akhirnya memproduksi metan yang turut menyumbang emisi gas rumah kaca yang bikin panas planet bumi. Kurang lebih 11 % emisi Gas Rumah Kaca dapat dikurangi jika kita menata sistem pengelolaan makan agar lebih hemat dan berhenti membuang makanan. Di Amerika saja, emisi dari sampah makanan setara dengan emisi dari 37 juta kendaraan.

Membuang makanan juga merupakan soal keadilan. Jumlah makanan yang berakhir di tong sampah seharusnya cukup untuk memberi makan mulut-mulut lapar di negeri-negeri yang mengalami krisis. Sayangnya, hasrat untuk stok makanan menjadi gelombang baru, meskipun pada akhirnya hanya menjadi riasan semata. Distribusi yang sering jadi momok keadilan, seringkali bukan soal jalur transportasi yang buntu, tapi kikir dan rakus adalah motif utama. Makanan bukan lagi soal konsumsi tapi gaya. Pernah ada laporan sebuah media mengenai kelompok arisan sosialita di Jakarta yang menghidangkan makanan mewah di restoran bukan untuk dihabiskan tapi sekedar buat foto-foto.

Lebih konyol lagi, para pakar yang bicara lingkungan hidup enggan mengkoreksi piringnya sendiri. Hipokrit dimulai dari piring. Ada orang yang belepotan bicara neoliberalisme dan sibuk menuding tekanan pasar global sebagai pemicu kapitalisasi alam. Tetapi piringnya sendiri penuh dengan tumpukan daging impor yang sarat dengan beban emisi. Bagaimana bisa menuduh orang lain sedemikian rupa, tetapi diri sendiri adalah konsumen utama semua produk yang mencelakakan ibu bumi.

Bicara ekologi dan keberlanjutan lingkungan hidup tentu tetap perlu data dan konsep. Namun semua omongan itu harus sejalan dengan sikap pribadi. Apalagi membedah ekologi, oikos (rumah) dan logos (ilmu). Ilmu yang menekuni perilaku kehidupan, suksesi, materi dan interaksi antara mereka dalam membangun rumah tangga yang disebut bumi. Memang, tidak semua pernyataan harus tercermin pada setiap perilaku. Tetapi minimal dimulai dari hal kecil yang lebih sering tidak dianggap, tetapi amat menentukan masa depan lingkungan hidup karena rutin dijalani setiap waktu. Yang paling mudah tentu saja soal menu sehari-hari, dimana tidak perlu teori-teori hebat. Hanya butuh konsistensi dan kepedulian yang persis terjangkau tangan dan dompet.

Karena itu, mulailah dengan makanan lokal yang tidak perlu ongkos kargo. Selain menghidupi ekonomi petani setempat, makanan seperti talas, pisang, jagung, umbi-umbian dan sejenisnya dijamin lebih sehat bagi diri dan lingkungan. Sikap ini sejalan dengan wacana konseptual ekologi yang pada dasarnya membahas rumah bersama. Yang utama dan pertama-tama dalam urusan rumah adalah perilaku diri dari masing-masing orang, bukan perilaku orang lain. Ekologi diri adalah dasar untuk memulai itu semua. Tidak perlu besar. Cukup dari piring masing-masing.

Kini setelah hampir 50 tahun berlalu, karya Schumacher kembali bergema. Banyak kampanye saat ini mempromosikan ekonomi skala kecil. UMKM adalah salah satunya. Bahkan di negara kita, UMKM dan koperasi menjadi salah satu kementerian yang keberadaannya terus dipertahankan hingga sekarang ini. Dalam sejumlah laporan yang merefleksikan kembali krisis ekonomi 1998, UMKM inilah yang mampu bertahan membawa ekonomi pada tingkat akar rumput tetap menghidupkan transaksi antara para pelaku ekonomi. Sudah selayaknya, ekonomi skala kecil digaungkan. Selain daya lentingnya yang fleksibel menghadapi terpaan krisis ekonomi, manajemen “piring bisnis” pada skala kecil dapat ditata lebih cepat dan terkontrol untuk mengantisipasi risiko lingkungan dari usaha yang dikelola. Tidak perlu yang besar-besar untuk kehidupan sehari-hari dari mayoritas orang kecil yang mengisi planet ini. Cukup bisnis kecil.

Mengenang Pak De Sridadi

Tinggi, kekar, dan tegap. Melihatnya sekilas bisa segera kita pastikan, ia adalah pekerja keras yang menguras tenaganya sebesar-besarnya agar bumi bisa dituai dan kehidupan tumbuh dan berkembang. Pak De Sridadi, demikian kami memanggilnya, adalah petani ulet yang tak lelah menyambangi tanah dan air dan mempercayakan disana kebajikan pada dunia tempatnya bertumbuh sebagai Pujian akan Allah.

Keuletan dan ketangguhan yang sama pula ia tujukan pada imannya akan Kristus. Ketika Khatolik ditawarkan sebagai pilihan keselamatan pasca gejolak politik 1965, ia adalah tokoh terdepan di kampungnya untuk mewartakan itu. Seutas rosario besar berayutan di leher Pak De Sridadi untuk mengundang orang, bahwa Kristus tidak lain adalah jalan keselamatan itu sendiri. Petani sekaligus pewarta ternyata dua hal yang secara mudah bertemu dalam diri Pak De. Itu semua ditopang keuletan, konsistensi, sekaligus kebajikan. Karena itu pula, dua anaknya meneruskan pewartaan itu sebagai Imam. Berkah Allah tidak jatuh jauh dari pohon.

Secara pribadi, pertemuan dengan Pak De Sridadi tidak mudah dilupakan. Meski hanya beberapa kali kami berjumpa, senyumnya yang lebar meyakinkan saya, ia adalah orang baik. Dia membuka jabatan tangannya dengan cengkraman erat dan senyum lebar. Menyapa dengan amat sangat ramah, ditimpali suaranya yang halus seperti semilir angin yang meniup hamparan sawah, tempatnya bergulat tiap hari.

Orang baik itu pula yang menyirami kepala saya dalam acara siraman pernikahan kami beberapa tahun silam. Saya bersyukur dia menjadi salah satu di antaranya sebagai pengingat pada saya dan istri akan cinta dan kesetiaan. Tanpa ia berkata pun, saya menyadari siramannya itu adalah ekspresi kebajikannya. Puji Tuhan sudah mempertemukan kami.

Dalam perjalanan waktu, kami bertemu kembali di rumahnya setelah didahului oleh suatu pelayanan kesehatan di Granting Klaten; suatu kegiatan yang bertopang pada ajaran Kristus. Ketekunan dan kebaikannya pula yang saya yakini mempertemukan kami di tempat itu. Pak Anton yang mengajaknya berdialog tegas mengatakan “Orang tua ini adalah orang baik..kebaikan itu pula yang membuatnya hampir tidak mengenal sakit”.

Pak De, Selamat Jalan…

Engkau dipanggil sang khalik karena memang waktunya.

Syukur pada Tuhan bahwa kami pernah mengenalmu

Selamat bertamasya di kehidupan kekal.

Ada kata-kata bijak bilang “seutas senyum tulus di bibirmu adalah cinta sedalam samudera…”

Engkau akan terus kami kenang sebagai wajah kasih dalam senyummu yang lebar sedalam lautan..

Jakarta 31 Mei 2021

20 Mei

Buat bangsa dan negara, 20 Mei adalah Hari Kebangkitan Nasional. Buat saya tanggal itu spesial secara personal. Hari kelahiran.

Kata ibu saya, tepatnya pagi hari setelah Apel Bendera, saya lahir. Ketika itu, musim panen raya padi sawah sedang berlangsung. Ibu saya, tidak paham itulah harinya. Tidak ada ukur usia kehamilan masa itu seperti jaman now yang mirip bikin meteran rumah. Hanya modal rasa, feeling. Hatilah yang bicara bahwa saatnya tiba. Namun, meski sudah pernah mengandung dan melahirkan dua kakak saya, pengalaman kelahiran tentu selalu baru buatnya. Ada-ada saja yang beda. Tidak luput pula hari itu. Tetap baru adanya.

Dia sedang aktif ikut panen di kebun opa dan oma. Maklum usianya masih terhitung muda ketika itu, 23 tahun. Sama halnya dengan ibu-ibu seusia dia di kampung saya, kerja kebun jadi petani adalah lumrah. Tinggal diam di rumah dianggap pemalas. Itu pula yang terjadi pada ibu saya di pagi itu. Meski sedang hamil tua, ikut mengetam padi adalah keharusan. Tetapi, maksud hati mau ke kebun, perutnya malah mules.

Setelah beberapa jam bergulat, sayalah yang dia jumpai, suatu panenan baru yang beda. Seorang anak manusia yang meskipun sama-sama dibentuk oleh tanah dan berbau tanah seperti padi dan jagung, namun mempunyai derajat sebagai Citra Allah. Seperti kata Pencipta di hari ke-6, manusia Ia ciptakan sama seperti citraNya (rupanya) dari debu tanah dan dihembuskanNya napas hidup ke dalam hidungnya.  

Saya lahir di kamar tidur opa dan oma saya. Mungkin demikian terburu-buru ketika itu antara ikut panen dan prosesi kelahiran, tidaklah sempat mencari kamar khusus. Ketika apel bendera merayakan 20 Mei, Kebangkitan Nasional hendak dimulai, rasa mules mulai menggerayangi kaki hingga perut ibu saya. Saat air ketuban mulai mengalir, ketika itu pula memorinya tentang kelahiran dua kakak saya sebelumnya, muncul kembali. Kini saatnya tiba.

Tidak beda dengan anak-anak lain di kampung saya, kami lahir ditolong dukun beranak. Buru-buru mereka datang ke rumah opa oma saya pagi itu. Satu mendahului yang lain. Yang senior mengerjakan tugasnya di dalam. Satu lagi menunggu sembari komat kamit membaca mantera. Apapun itu, semuanya berguna untuk menghantar saya ke dunia yang fana ini.

Dukun beranak itu hebat. Mereka tidak dibantu ilmu kebidanan yang bergulat di meja belajar tiap tahun. Mereka menjalani misi dukun sebagai anugerah yang diterima dari rupa macam petunjuk. Sebagiannya menerima peran itu sebagai warisan dari pendahulu mereka. Tidak ada upah. Tidak ada honor ini dan itu. Hanya sumringah karena sukses menolong orang.

Jelang pukul 10 pagi, saya pun lahir. Prosesi lain pun mengikuti, seperti potong pusar dan tentu saja sukacita anggota keluarga. Namun kali ini, meski tetap saja bergembira suasana kelahiran agak bernuansa lain, karena ahhh…laki-laki lagi. Sekarang 3 orang.

Ada keinginan orang tua saya untuk punya anak perempuan. Di tempat saya dengan tradisi patriarkhi yang kuat, punya anak laki memang membanggakan. Dialah yang membantu orang tuanya tikam kepala mengerjakan kebun. Tetapi, tiga orang sudah…Ada saja bisik-bisik yang bilang, “itu bakal menyusahkan”.

Lagi, dalam tradisi kami laki-laki harus membayar belis (mahar) yang sangat mahal untuk mendapatkan istri. Apalagi kalau perempuan itu dari keluarga terpandang. Runyam sudah. Orang tua saya tentu sedikit terpengaruh. Di samping membanggakan, sudah mulai membayangkan ongkosnya. Akan berapa kerbau, kuda, kambing, babi, dan uang yang dikeluarkan untuk tiga orang.

Tetapi cerita keresahan gara-gara belis cukup disitu. Yang penting adalah 20 Mei buat saya dan keluarga saya, seorang anggota keluarga baru hadir dan memberi warna bagi dunia ini. Ibu saya, walaupun lelah, tetap sumringah hari itu. Dia berdoa menutup keresahan sekaligus telinganya dari omongan orang.

Doa itu terbayar sudah. Ibu saya, membayarnya mahal dengan berjuang tikam kepala hingga akhir hayatnya untuk mengongkosi kami kuliah, agar kami jadi orang dan bisa menghidupi diri kami sendiri. Tidak seperti bisik-bisik orang-orang itu, bahwa punya anak laki-laki merepotkan.

Untukmu bapa-mama, yang melahirkan dan berjuang membuat aku bisa sekolah dan memiliki hidup seperti saat ini. Hanya seutas terima kasih yang bisa aku katakan di hari ini. Rinduku buat mu mama. Semoga engkau turut merayakannya dalam lingkar kehidupan yang lain. Tulisan ini juga untukmu.

Mengapa Kita Harus Kurangi Makan Daging

Setiap kita bukan hanya warga lokal, tapi juga nasional dan global. Sebagai warga lokal dan barangkali nasional, ada hal-hal sepele untuk menjalankan panggilan itu. Misalnya, tidak semena-mena membuang puntung rokok. Ratusan ribu hektar kebakaran hutan acapkali berawal dari jentikan ibu jari puntung rokok. Demikian halnya dengan plastik, bungkus ini dan itu  dan seterusnya yang tidak hanya sulit terurai, tetapi juga tersangka utama banjir hebat di kota-kota besar.

Nah..dalam status sebagai warga planet, setiap individu umat manusia diminta bertanggung jawab terhadap planet bumi. Salah satu yang paling mungkin dilakukan adalah mengontrol menu makan. Setiap orang dapat melakukannya karena jenis makanan berada dalam jangkauan tangan, bukan hasil diskusi politik berbusa-busa di luar sana. Menu makan jelas ditentukan oleh alasan subyektif seperti selera, kesehatan atau isi dompet yang terbatas. Karena itu pertimbangan-pertimbangannya personal. Alasan ini pula, di samping peluangnya untuk berhasil juga menjadi soal utama karena menyangkut keleluasaan atau kebebasan individu.  

Lalu apa urusannya makanan dengan kelangsungan bumi?

Dalam tahun-tahun belakangan ini setiap orang pasti mengalami sendiri perubahan lingkungan yang signifikan. Contohnya iklim mikro. Banyak tempat yang dulunya dingin sekarang berubah hangat. Di banyak daerah, makin rutin dialami bencana akibat cuaca ekstrim. Belakangan ini, muncul pula virus-virus baru yang mendadak keluar dari kepompong mereka akibat lonjakan temperatur yang berlangsung permanen. Di sektor pertanian, hama mengganas. Selain karena secara perlahan musuh petani itu makin lentur dengan insektisida yang disemprotkan puluhan tahun, rombongan biang baru pun muncul yang diindikasikan sebagai akibat perubahan iklim.

Perubahan iklim ini terjadi akibat meningkatnya Gas Rumah Kaca (GRK) dalam atmosfer bumi. Gas-gas ini  cukup banyak. Selain karbondioksida (CO2) yang sering dikutip oleh berita lingkungan, ada juga dinitrogen oksida (N2O) dan metana (CH4). Untuk mempermudah hitungan emisi GRK, para pakar mengkonversi  semua gas ini dalam satu unit hitungan yakni karbondioksida.

Disebut gas rumah kaca karena gas-gas ini terperangkap dalam atmosfer bumi. Penjelasan mudahnya adalah dari awal ciptaan atmosfer berfungsi sebagai selimut dimana di dalamnya terdapat gas-gas ini yang tidak dilepas keluar angkasa, tetapi dipantulkan kembali oleh atmosfer ke bumi mirip cara kerja rumah kaca. Peran utama mereka adalah menghangatkan suhu bumi. Karena itu, dalam ukuran proporsional, gas-gas ini secara alamiah memberi manfaat besar bagi kehidupan bumi. Tanpa GRK, suhu rata-rata bumi bisa melorot jauh sampai -180C. Tidak ada manusia yang dapat bertahan dalam suhu konstan seperti itu.  

Namun sejak revolusi industri 1750, konsentrasi GRK dalam atmosfer bumi meningkat drastis sebesar 45 %. Dari angka 280 ppm (part per million) pada 1750 menjadi 415 ppm pada 2019. Para ahli menyimpulkan peningkatan tersebut terjadi akibat ulah manusia.

Ulah paling dominan berasal dari konsumsi bahan bakar fosil seperti minyak bumi, batu bara dan gas alam. Selama ini, tiga energi utama ini menopang 80 % energi dunia yang digunakan untuk berbagai kepentingan pembangunan. Meskipun mendatangkan manfaat ekonomi, ongkos lingkungannya juga amat besar. Pada 2018, penggunaan fosil fuel menyumbang 89 % dari emisi global. Sumbangan terbesar berasal dari batu bara yang mencapai 40 % dari total emisi global. Di samping itu, penggunaan batu bara juga mengemisi merkuri yang sangat berbahaya bagi kesehatan.

Solusi dari bahan bakar kotor tersebut adalah energi terbarukan (renewable energy). Berbagai inisiatif revitalisasi industri dan pencarian energi terbarukan masih terus berlangsung. Tantangan utamanya adalah menemukan teknologi ramah lingkungan dan ramah biaya. Dalam kasus di Amerika, misalnya, pakar energi Philip Rossetti menyebutkan investasi sebesar 5,7 Triliyun USD diperlukan untuk membuat suplai dan penyimpanan energi di negara itu 100 % terbarukan. Angka itu lebih besar dari APBD setahun negeri Paman Sam yang tahun ini dipatok sebesar 4,79 Triliyun USD. Selain berbiaya mahal, menghijaukan industri juga bertarung dengan konfigurasi politik yang pelik. Perusahaan-perusahaan minyak raksasa adalah pelobi politik yang handal. Mereka tidak menerima begitu saja keputusan politik yang mengganggu dapur dan kelangsungan industri. Karena itu, kelompok-kelompok ini selalu merecoki kampanye politik. Seringkali sukses. Contohnya, kasus Trump saat ini.

Sulitnya berurusan dengan fosil fuel tidak menghentikan alternatif lain. Yang dipandang relatif lebih mudah adalah pertanian dan peternakan. Disini isu menu makan amat relevan. Pada 2019, 107 ilmuwan yang tergabung dalam IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) menemukan bahwa budaya kuliner global saat ini membuang terlalu banyak makanan. Emisi global yang diduga terkait dengan penghambur-hamburan makanan mulai dari posesnya di lapangan hingga ke dapur mencapai 8-10 %. Tidak hanya boros, perilaku itu juga merusak planet bumi.

Selain itu, produksi makanan massal saat ini mengkonsumsi banyak energi dan boros karbon karena melibatkan mata rantai panjang. Ilmuwan memprediksi 26 % emisi global disumbang oleh proses menghasilkan makanan dan sampah yang ditinggalkannya. Lebih dari separuh persentase itu disumbang oleh produk hewani, terutama sapi dan domba. Dalam laporan BBC (2019) disebutkan bahwa peternakan dianggap bertanggung jawab hingga 14% dari semua emisi rumah kaca dari aktivitas manusia. Laporan ini sejalan dengan sejumlah temuan ilmiah, antara lain dari Universitas Michigan. Pada diagram di atas disebutkan bahwa dari 10-30 % sumbangsih emisi makanan terhadap total emisi global, kontribusi terbesar berasal dari daging (56 %).

Di samping karbon dioksida, pertanian menghasilkan dua gas lain dalam jumlah besar: dinitrogen oksida dari penambahan pupuk dan limbah ke tanah, dan metana. Yang terakhir ini sebagian besar dikeluarkan oleh hewan pemamah biak – terutama domba dan sapi – dan menyumbang lebih dari sepertiga dari total emisi pertanian. Rata-rata hewan pemamah biak menghasilkan 250-500 liter metana sehari. Gas metana adalah komponen utama pada gas alam yang menghasilkan panas per satuan massa yang lebih besar dari hidrokarbon lainnya. Karena itu, penumpukan gas ini di atmosfer bumi meningkatkan dampak gas rumah kaca berupa pemanasan global.

Studi-studi ilmiah ini tidak hanya bukti gamblang yang bikin mata melotot. Lebih dari itu mengajak kita mengambilnya sebagai tindakan personal. Agar menjadi bagian dari mereka yang berkontribusi pada pengurangan 14 % emisi global. Memang kelihatan kecil. Tapi melakukan hal kecil itu juga tidak mudah. Apalagi semua yang disebutkan itu enak buat lidah dan nikmat di kerongkongan. Daripada omdo cinta lingkungan, barangkali baik dimulai dari piring sendiri. Pada akhirnya, kita turut menyelamatkan planet bumi dengan mengambil sebagian beban yang akan dipikul generasi berikut, anak dan cucu dari generasi saat ini.

Amat relevan kiranya pesan-pesan bijak di Kitab Suci berbagai agama agar tidak rakus makan. Kalau berlebih, bisa berbagi. Karena membuang makanan bikin runyam ibu bumi. Kurangi makan daging. Tidak hanya itu baik buat tubuh, tetapi sehat juga buat bumi.

Bruce Lipton: Bukan Genetis, Tapi Spiritualitas Yang Menentukan Kesehatan Manusia

Banyak pertanyaan selama ini mengenai korelasi dan interkorelasi antara gen dan pertumbuhan sel. Apakah gen berjalan sendiri mempengaruhi pertumbuhan sel, atau dipengaruhi oleh faktor-faktor non-genetis. Biology of Belief karya Bruce Lipton yang telah diluncurkan terjemahan Indonesianya oleh Javanica, mengupas hal itu. Tesis dasarnya adalah kesehatan kita tidak dikontrol oleh faktor genetik tapi perkawinan yang mesra antara pikiran, makanan (lingkungan) dan relasi sosial.

Bagi mereka yang belum mengenal siapa Bruce Lipton, mungkin pernah membaca atau mendengar mengenai transplantasi organ. Misalnya, seorang yang jantungnya bocor mendapatkan cangkok jantung dari orang lain. Atau orang yang mengalami kecelakaan parah mengambil jaringan hewan tertentu untuk ditambal sulam pada bagian tertentu. Bruce Lipton adalah seorang tokoh ternama di bidang ini. Teknik eksperimental transplantasi jaringan yang dia kembangkannya bersama koleganya Dr. Ed Schultz dan diterbitkan dalam jurnal Science tahun 1973 digunakan sebagai bentuk baru dari rekayasa genetika manusia.

Dalam perjalanannya, perspektif Lipton bergeser ekstrim. Dari pemuja tubuh menjadi seorang yang menghayati spritualitas. Dia menolak atheisme. Lebih dari itu, dia mencurigai ada yang salah secara fundamental dalam pengembangan ilmu-ilmu medis. Konsentrasi terlalu besar pada tubuh manusia melupakan fakta bahwa kita hidup dalam suatu jaringan kehidupan yang kaya, yang dalam turunan bidang studi biologi disebut dengan ekologi. Lipton memandang bahwa pengobatan konvensional selama ini beroperasi atas dasar pandangan yang kolot bahwa kita dikendalikan oleh gen sebagai faktor dalam. Pandangan ini menyalahi prinsip bagaimana biologi bekerja sebagai suatu studi tentang kehidupan dan organisme yang hidup dimana faktor lingkungan mengambil peran yang sangat penting dalam menentukan kehidupan.

Sebagai alternatif, Lipton menawarkan konsep baru yang melawan determinisme genetik, yakni teori epigenetik. Melalui konsep ini, Lipton mengajukan tesis bahwa perubahan yang diwariskan dalam fenotip (karateristik yang nampak  seperti warna kulit, bentuk rambut, dan tampilan fisik yang nampak) atau perwujudan gen disebabkan oleh mekanisme yang terjadi di luar atau tidak serta merta berkaitan dengan perubahan dalam urutan DNA yang mendasarinya.

Lipton menganalogikan gen seperti kendaraan. Dalam analogi itu, bukan kendaraan itu sendiri yang bertanggung jawab menghentikan dirinya sendiri, tapi sopir.

Siap sopir itu? Menurut hasil studi Lipton, sopir adalah gaya hidup atau cara hidup yang menentukan bagaimana kita memelihara kehidupan, yang berkisar pada tiga hal: berpikir positif, makan yang sehat dan gerak tubuh atau olahraga. Dengan cara begitu kita tidak akan babak belur sampai harus membutuhkan spare part baru atas tubuh kita.

Lipton merujuk pada pekerjaan Dr. Dean Ornish yang merawat pasien kardiovaskular dengan memberikan mereka asupan bukan obat-obatan kimia tetapi perubahan pada gaya hidup (menu makan yang lebih baik, teknik mengurangi stres, dan seterusnya). Hasilnya penyakit kardiovaskular sembuh. Menurut Ornish, jika dia mendapatkan hasil yang sama dengan obat, setiap dokter akan mewajibkan resep itu untuk pasien-pasien mereka. Tentu saja. Apalagi jaman now yang doyan propaganda obat. Jenis sakit apa saja, seolah-olah harus pake obat, pake vaksin, dan seterusnya. Lupa, bahwa tubuh adalah benteng terbaik untuk dirinya sendiri.

Epigenetik

Lalu, bagaimana dengan kanker? Bukankah telah menjadi pengetahuan medis bahwa predisposisi genetik mengakibatkan sakit kanker. Bahkan dengan cara hidup yang ketat pun tidak akan menghilangkan peluang itu. Dalam hal ini, dipercayai oleh pakar-paker biologi terkemuka bahwa gen mutan adalah sebab kanker. Bagaimana perubahan pola hidup dan lingkungan bisa menyembuhkan kanker.

Uji coba yang dilakukan Lipton menjawab pertanyaan ini, sekaligus memperkenalkan konsep epigenetik.

Lipton menempatkan satu jaringan sel ke dalam wadah kultur, yang kemudian mengalami pembelahan setiap sepuluh jam. Setelah dua minggu, ada ribuan sel di dalam wadah itu, dan semuanya identik secara genetik karena diturunkan dari sel induk yang sama. Lipton lalu membagi populasi sel dan menginokulasi mereka dalam tiga cawan budaya yang berbeda.

Percobaan berikutnya menentukan. Dia memanipulasi media kultur — modifikasi lingkungan sel— di setiap wadah. Di satu wadah, sel-sel itu berubah menjadi tulang, di wadah lain menjadi otot, dan di wadah terakhir, menjadi lemak.

Hasil ini menunjukkan bahwa gen tidak menentukan nasib sel karena semua wadah itu memiliki gen yang persis sama. Lingkunganlah yang menentukan nasib sel, bukan pola genetiknya. Jadi, jika sel berada dalam lingkungan yang sehat, mereka juga sehat. Jika mereka berada di lingkungan yang tidak sehat, mereka jatuh sakit.

Dr. Lipton kemudian mengambil langkah lebih jauh, yang membawa kita kembali ke pertanyaan tentang kanker. Berikut ini hubungannya.

Dengan lima puluh triliun sel dalam tubuh anda, tubuh manusia setara dengan cawan petri yang dilapisi kulit. Memindahkan tubuh dari satu lingkungan ke lingkungan lainnya akan mengubah komposisi ‘media kultur,’ yakni darah. Sifat kimiawi media kultur tubuh menentukan sifat lingkungan sel di dalam diri. Kimiawi darah sebagian besar dipengaruhi oleh bahan kimia yang dipancarkan dari otak. Kimia otak menyesuaikan komposisi darah berdasarkan persepsi seseorang tentang kehidupan. Jadi, ini berarti bahwa persepsi seseorang tentang hal tertentu, pada saat tertentu, dapat memengaruhi kimiawi otak, yang, pada gilirannya, memengaruhi lingkungan tempat sel berada dan mengontrol nasibnya. Dengan kata lain, pikiran dan persepsi anda memiliki efek langsung dan sangat signifikan pada sel.

Hal ini menggaungkan kembali dari sudut pandang yang sangat ilmiah, apa yang telah dianjurkan oleh para penyembuh intuitif dan spiritual selama bertahun-tahun. Bahwa pikiran anda dapat dan pada dasarnya berkontribusi pada penyebab dan penyembuhan apa pun yang membuat anda sakit — termasuk kanker.

Selain pikiran, dua faktor lain yang memengaruhi nasib sel, menurut Dr. Lipton: racun dan trauma. Racun berasal dari makanan atau lingkungan yang buruk yang tidak cocok dengan diposisi tubuh. Misalnya, jika sudah tahu makan daging bikin jantung huru hara, harusnya stoplah makan daging. Sementara trauma muncul dari relasi sosial yang jelek. Contohnya, doyan marah-marah, gosipin orang, dan sebagainya. Ketiga faktor tersebut telah dikaitkan dengan timbulnya kanker.

Menurut Dr. Lipton, aktivitas gen dapat berubah setiap hari. Jika persepsi dalam pikiran tercermin dalam kimiawi tubuh kita, dan jika sistem saraf kita membaca dan menafsirkan lingkungan dan kemudian mengontrol kimiawi darah, maka kita benar-benar dapat mengubah nasib sel dengan mengubah pikiran. Lipton menggambarkan bahwa dengan mengubah persepsi kita, pikiran dapat mengubah aktivitas gen dan menciptakan lebih dari tiga puluh ribu variasi produk dari setiap gen. Dia menjelaskan lebih rinci dengan mengatakan bahwa program gen terkandung di dalam inti sel, dan seseorang dapat menulis ulang program genetik tersebut dengan mengubah kimiawi darah. Kuncinya adalah pikiran yang sehat, makanan yang baik, dan relasi sosial yang sehat.

Jadi, sederhananya, kita perlu mengubah cara berpikir kita untuk menyembuhkan kanker. Seperti dikatakan Lipton dalam buku ini, “Fungsi pikiran adalah menciptakan koherensi antara keyakinan kita dan realitas yang kita alami,”. Artinya, pikiran kita akan menyesuaikan biologi dan perilaku tubuh agar sesuai dengan keyakinan kita. Jika anda diberi tahu bahwa anda akan mati dalam tiga bulan dan pikiran anda mempercayainya, kemungkinan besar anda akan mati dalam tiga bulan. Itulah yang disebut efek nocebo, hasil dari pikiran negatif, kebalikan dari efek plasebo, di mana penyembuhan dimediasi oleh pikiran positif.

Mungkin buat Lipton, konsep itu disebut Epigenetik. Buat saya konsep yang dia uraikan adalah spiritualitas. Dalam hal ini, spiritualitas bukan soal ritual (rajin berdoa 20X sehari). Tetapi pikiran yang sehat yang mempengaruhi atau dipengaruhi oleh sikap hidup yang baik terhadap sesama, penghargaan terhadap lingkungan hidup, tidak rakus. Rasa-rasanya semua ini ada dalam beberapa kitab. Buat saya pribadi, ada pada satu kitab yang mungkin telah lama ditinggalkan orang. Kitab yang kerap dianggap kuno karena bercerita tentang kisah seorang tokoh dan ajarannya lebih dari 2000 tahun yang lalu. Rupanya studi Lipton mengembalikan kita semua atau setidaknya saya pribadi, kesitu.

Selamat membaca buku yang keren ini

Dimuat di Pojok Bebas: https://www.pojokbebas.com/bruce-lipton-bukan-genetis-tapi-spiritualitas-yang-menentukan-kesehatan-manusia/

Perubahan Iklim Akan Bikin Budidaya Kopi Arabica Flores Tinggal Kenangan

Secara alamiah, Flores adalah wilayah ekosistem semi-arid yang berlahan kering, sehingga alokasi tata ruang pun seharusnya disesuaikan. Pertanian adalah salah satunya (Mulyani et al, 2013). Topografi Flores yang berbukit-bukit dan tanahnya dangkal menyebabkan tangkapan air pada musim hujan tidak maksimal. Akibatnya, daya tampung untuk air tanah secara alamiah relatif kecil. Pada musim kering yang berdurasi lebih panjang, kelembaban sisa pada musim hujan segera menguap dan tanahnya cepat kering.

Di samping itu, tekanan eksternal dari pemanasan global memperparah kondisi ini dimana siklus hidrologi makin cepat dan air permukaan segera menguap yang mengakibatkan lahan akan makin kering. Laporan Intergovernmental Panel on Climate Change 2018 memperkirakan dampak itu makin parah di Pulau kecil dan sedang serta berlahan kering. Sayangnya, Flores memenuhi kriteria itu.

Studi dampak perubahan iklim memproyeksikan dampak-dampak serius pada pertanian. Kopi adalah salah satunya. Kajian terbaru mengenai pengaruh perubahan iklim terhadap komoditas kopi telah dikeluarkan oleh beberapa peneliti terkemuka. Salah satunya adalah Götz Schroth dkk pada pada 2015. Mereka menganalisis dampak perubahan iklim terhadap produksi kopi arabica di beberapa daerah: Aceh, Sumatera Utara, Jawa Timur, Bali, Sulawesi Selatan, Flores (Ngada dan Manggarai).

Menurut para peneliti, bilamana semua wilayah produksi ini mengalami kenaikan temperatur mencapai 1.7 °C, maka akan terjadi perubahan curah hujan yang berbeda antara pulau-pulau besar bagian utara seperti Sumatera dan Sulawesi yang diperkirakan akan lebih basah antara 5-14 %, sementara di pulau-pulau yang lebih kecil sebelah selatan seperti: Jawa, Bali, Flores diproyeksikan lebih kering.

Sumber: Götz Schroth et al 2015

Para peneliti lebih lanjut memperkirakan pengaruh signifikan perubahan iklim adalah pada kesesuaian lahan tanam. Seperti yang diutarakan pada tabel, di Flores, total luas lahan produktif kopi arabica pada 2015 mencapai 16.518 hektar dan masih dapat dinaikkan hingga 24.128 hektar. Akibat perubahan iklim maka pada 2050 luas itu berkurang menjadi 230 hektar lahan yang efektif dan hanya bisa ditambahkan seluas 85 hektar dari lahan yang saat ini belum ditanami arabica (lihat tabel). Situasi yang lebih beruntung dialami oleh Sulawesi Selatan dimana perubahan ilkim mengkondisikan iklim wilayah itu lebih cocok dengan budidaya kopi arabica. Sementara untuk Flores, para peneliti menyimpulkan bahwa perubahan iklim akan menempatkan Pulau Flores dalam kategori pulau yang secara efektif tidak lagi cocok untuk kopi arabica. Banyak wilayah yang sebelumnya cocok dengan budidaya arabica, pada 2050 hampir semuanya lenyap (lihat peta).   

Sumber: Götz Schroth et al 2015

Apa yang Seharusnya Dilakukan

Beberapa ahli dalam negeri telah mengidentifikasi tantangan iklim terhadap pengembangan kopi arabica. Rekomendasi antisipasinya pun sudah sering didiskusikan. Syakir dan Surmaini (2017), misalnya, menganjurkan persiapan dini berupa introduksi budidaya kopi yang memperbanyak tanaman pelindung dan memperkuat konservasi tanah. Dua peneliti ini menegaskan bahwa berbagai teknologi budi daya kopi yang adaptif perubahan iklim sudah dikembangkan, namun tingkat adopsinya oleh petani sangat lambat. Oleh karena itu, upaya percepatan adopsi teknologi perlu segera dilakukan sebagai strategi adaptasi. Penerapan teknologi tersebut diharapkan dapat meningkatkan produktivitas dan sistem usaha tani kopi yang toleran perubahan iklim. Kedua peneliti menganjurkan agar para ahli dan pengambil kebijakan harus berpacu dengan waktu untuk mengakselerasi adopsi inovasi teknologi oleh petani karena dampak perubahan iklim telah dirasakan dan akan terus berlangsung. Jika adaptasinya terlambat maka biaya yang dikeluarkan akan jauh lebih besar dan kerugiannya tidak akan tertutupi.

Di samping peluang adaptasi, perlindungan ekosistem yang menjadi rumah budi daya kopi haruslah sejalan. Makin banyaknya pembukaan hutan alam di Flores akan mengancam fungsi hutan sebagai salah satu penyerap utama air permukaan di wilayah itu. Ancaman ini menjadi beban ekstra bagi ekosistem lokal. Akumulasi semua persoalan ini tentunya sangat menyulitkan penggunaan teknologi adaptasi lokal sebagaimana dianjurkan para ahli.

Selain itu, bukaan hutan yang makin lebar tanpa disertai rehabilitasi yang serius mengintensifkan longsor di beberapa wilayah yang meninggalkan struktur tanah yang tidak stabil dan curam, sehingga mempersempit ruang untuk mencari model kombinasi antara pertanian dan hutan di masa depan.

Trajektori pembangunan saat ini juga menunjukan bahwa alih-alih melindungi hutan, Pemerintah Daerah berkecenderungan untuk memilih pembangunan ekstraktif seperti pertambangan. Ke depan pilihan seperti ini akan menambah beban ekologis terutama intrusi polutan yang akan mengganggu daya tahan ekosistem yang sudah terlanjur rentan. Konsumsi air untuk pertambangan juga akan berkompetisi dengan budidaya pertanian dan juga kebutuhan warga sehari-hari. Karena itu, rencana pembangunan daerah harus berbenah jika ingin Pulau Flores tetap bertahan secara efektif menghadapi gempuran dampak perubahan iklim.

Artikel ini dimuat di https://voxntt.com/2020/11/12/perubahan-iklim-mengancam-budidaya-kopi-arabica-flores-apa-yang-seharusnya-dilakukan/72281/

Kota Mauk !!

Siapa bilang nama tidak punya dampak. Beberapa nama lokal atau bahasa lokal amat mengganggu untuk sebagian orang. Tidak aneh untuk bahasa yang satu, tapi amat seronok atau jorok menurut bahasa yang lain. Kekayaan relasi dalam keberagaman persis disitu. Jika diucap begitu saja bikin dongkol. Tetapi kalau ditempatkan dalam konteks, tentu akan bikin harimu tersenyum lebar.

Kota Mauk adalah contohnya. Berlokasi di Tangerang, kota ini masuk daerah industri. Banyak pendatang menyerbu kesana. Selain harga kos masih terjangkau, biaya hidup di tempat itu masih terhitung murah dibandingkan daerah lain. Tak ayal, banyak orang ambil kontrak disana. Tidak ketinggalan pula perantau asal Manggarai.

Mauk, barangkali suatu memori penting dalam sejarah etnis Tionghoa. Tetapi buat Orang Manggarai harus pikir ulang. Dalam Bahasa Manggarai, kata itu berarti amat jorok. Sama dengan kue pukis serta sejenisnya. Hanya sebuah kata sih. Tapi yang namanya sebut bagian “tertentu” itu, tetap saja bikin sedeng. Jangan sendengkan telingamu. Sebab bisa keluar laknat dan sumpah serapah. Hahahaha…

Meski awalnya tidak terlalu yakin dengan pilihan ke tempat itu, karena alasan harga murah, banyak enu* manggarai ikut pula kontrak di tempat ini. Tidak sedikit yang dapat kerja disitu. Bertahun-tahun mereka ngontrak, tanpa diganggu. Tetapi itu semua bukan tanpa rasa malu (ritak) tiap kali ditanya oleh sesama perantau manggarai. Misalnya, “enu, tinggal dimana?”. Kalau sebatas alamat kos, mungkin cukup. Tetapi ada saja orang yang mau tahu sampai nama kota, desa dan kecamatan. Naas memang. Nama yang bikin tutup mulut itu terpaksa terucap. Tamat sudah!!

Alhasil belakangan ini, banyak enu manggarai yang migrasi dari tempat itu. Mereka makin tidak tahan karena tiap sore di perhentian bus atau angkot selalu kena “dowek” dari Sopir Angkot. “Mauk, mbakkk..! Ayo masuk”. Kadang-kadang sopir-sopir itu dengan jari telunjuk agak naik dan alis mata sedikit diangkat, “Mauk.., masih muat dua”. Mereka tidak tahu arti kata bodok itu. Tapi enu-enu ini gerah. “Ta…nana maram kos deu aaa, yang penting jangan tiap sore kena tindek dari jari telunjuk sopir angkot..”, kata mereka. Demikianlah, seorang enu sedang tunggu taxi di pinggir jalan untuk pindah kos. “Mauk mbak…mau pake? Murah aja..Kebetulan lagi sepi..” Dalam hati si enu menggerutu, “murah sempula** de hau..***” Hahahaha…

Istilah manggarai

*enu: mbak

**sempula: goblok

***de hau: punyamu