1421 Saat China Menemukan Dunia

Screen Shot 2017-08-16 at 12.07.53Buku ditulis oleh Gavin Menzies, seorang bekas perwira angkatan laut Inggris yang memiliki rasa ingin tau sangat besar terhadap sejarah penemuan dunia. Salah satu yang dia kemukakan dalam buku ini adalah bahwa bukan Columbus yang menemukan Amerika tapi bangsa China di bawah dinasti Ming, tepatnya di bawah kekuasaan Kaisar Zhu Di.

Bagi saya Menzies dalam arti Orwell telah merajut kebenaran sejarah yang berusaha menggulingkan para pemenang dari panggung sejarah yang mapan. Hal serupa pernah dikerjakan oleh banyak sejarahwan, seperti Sartono di Indonesia yang berusaha menggali sejarah komunitas, jauh dari gemerlap sejarah elit yang biasa ditulis oleh sejarah mainstream.

Salah satu potongan isi buku ini menulis bahwa Zhu Di adalah putra keempat Zhu Yuanzhang yang tumbuh menjadi kaisar Ming pertama, meskipun berasal dari keluarga rendahan dengan ayah seorang buruh bayaran di kawasan termiskin China. Dialah orang pertama yang mulai membangun imperium Ming untuk menghadang gelombang kekuasaan mongol atas China. Setelah merebut Nanjing (1356) dan menekuk Beijing (1368), Zhu Yuanzhang mendeklarasikan lahirnya dinasti baru, Ming, dan menyatakan diri sebagai Kaisar pertama dengan mengambil alih gelar dinasti Hong Wu. Adapun Zhud Di lahir tahun 1360 dan kemudian menjadi salah satu komandan lapangan ayahnya untuk menentang kekuaasaan Mongol yang masih menguasai pegunungan Yunnan di barat daya yang membatasi Tibet dan Laos modern.

Ayah Zhu Di, kaisar Hong Wu, yang makin renta dan paranoid menyingkirkan para pejabat militernya secara sistematis, membersihkan siapa saja yang mungkin memberikan ancaman terkecil sekalipun. Banyak perwira senior yang memilih bunuh diri daripada harus membawa kehinaan dan menanggung malu terhadap keluarga dan leluhur mereka dengan cara dibubarkan atau dieksekusi. Hong Wu kemudian memilih cucunya Zhu Yunwen, keponakan Zhu Di, untuk menggantikannya. Dia tidak percaya pada Zhu Di karena menyangka bahwa dia orang Mongol.

Zhu Yunwen meneruskan upaya kakeknya menyingkirkan para ”ancaman” termasuk Zhu Di. Namun selalu gagal. Zhu Di dibantu para kasim (orang-orang yang kemaluannya dipotong) justru memukul balik dan berhasil merebut Beijing, seterusnya ibu kota Nanjing. Zhu Di kemudian naik tahta dan memproklamirkan dirinya sebagai kaisar dengan gelar dinasti Yong Le. Kaum Kasim kemudian mendapat kedudukan politik yang lebih strategis daripada orang Mandarin, yang semasa Yunwen diberi tempat lebih baik daripada kasim. Salah satu kasim ternama adalah Kasim Agung Cheng Ho yang mendapat julukan San Bao atau ”Tiga Harta Karun” merujuk pada tiga raisons d’etre bagi kaum Budha: Budha, doktrin dan meditasi. Sebagai seorang kasim, Cheng Ho menyimpan penisnya yang keras di dalam kuil.

Zhu Di kemudian meninggalkan Nanjing dan membangun kota baru Beijing dengan menghabiskan separuh kayu keras dengan menggunduli ratusan ribu hektar Annam dan Vietnam sehingga memicu pemberontakan pertama atas penguasa China. Pembangunan juga mengerahkan 300.000 pekerja untuk memperbaiki dan memperlebar kanal utama. Pembangunan yang menyedot banyak energi dan menghabiskan stok makanan menggoyahkan politik dalam negeri Zhu Di terutama kaum mandarin yang sejak awal kekuasaan Zhu Di tersingkir oleh kaum Kasim. Namun dengan tipu muslihat, kota terlarang Beijing akhirnya selesai. Pada tahun baru china, 2 Februari 1421 ibukota baru ini pun diresmikan dengan dihadiri oleh utusan berbagai negara dari hampir seluruh pelosok dunia. Satu hal yang penting adalah Zhu Di menggunakan kekuatan diplomasi kaum Kasim untuk menundukan negara-negara tersebut dan menempatkan mereka dalam kontrol upeti China.

Pada tanggal 3 Maret 1421 para utusan dari berbagai negara dilepaskan dengan upacara resmi. Dari Tangu di Laut Kuning mereka disambut oleh lebih dari 100 armada kapal besar yang belum pernah ada sepanjang sejarah. Kapal-kapal tersebut dilengkapi dengan berbagai peralatan tempur canggih, termasuk meriam dan juga berbagai stok makanan, tumbuhan, jenis-jenis obat. Cheng Ho sendiri memimpin rombongan penghantar ini.

Salah satu cerita yang menarik juga adalah kapal ini juga membawa selir yang direkrut dari berbagai rumah bordil terapung di Kanton. Perempuan-perempuan itu berasal dari etnik Tanka, keturunan orang-orang yang bermigrasi dari pedalaman terpencil ke wilayah pantai China untuk bergabung dalam penangkapan mutiara. Selir tidak dianggap sebagai profesi hina. Sebaliknya, mereka dianggap bagian masyarakat yang sudah lama ada, resmi dan penting. Malahan, seks dipandang sebagai perilaku suci. R.H. van Gulik dalam bukunya Sexual Life in Ancient China (Leiden, 1961), menulis:

Dari sepuluh ribu yang diciptakan surga, laki-laki adalah yang paling mulia. Dari semua yang membuat laki-laki sejahtera, tidak ada yang sebanding dengan hubungan sexual. Ini mengikuti jejak surga. …….semua laki-laki bebas memilih selir, derajat dan kekayaan tidak akan berarti dalam pemilihan karena satu-satunya standar adalah kecantikan fisik.

Menurut Menzies, banyak duta besar diberi pelayanan sexual yang memuaskan sehingga undangan ke Beijing diterima dengan serta merta. Disana mereka diberi berbagai produk bantuan sexual termasuk obat pembangkit gairah. Zat pembangkit gairah yang paling terkenal adalah sepasang cicak merah yang ditangkap ketika sedang bersenggama dan dimasukan ke dalam kendi minuman. Anggur itu disimpan selama satu tahun sebelum kemudian dijual. Zat lainnya adalah alat kelamin binatang kotor, berang-berang dengan obat untuk melumuri penis. Sementara ”bagian kepala ayam” sangatlah terkenal. Nama itu diambil dari cerita Shu, nama orang yang meminum obat mujarab itu, ketika ia berumur 70thun. Istrinya sangat kelelahan dengan kejantanan barunya sampai-sampai dia tidak bisa duduk ataupun berbaring dan bersikeras agar suaminya membuang ramuan itu. Sang ayam jantan lalu memakannya, kemudian menaiki sang betina dan melanjutkan persenggamaan beberapa hari tanpa henti, mematuki kepala sang betina hingga benar-benar botak.

Bagi saya cerita ini adalah bagian yang paling lucu dalam buku ini dan sekaligus menunjukan peradaban China yang luar biasa. Mereka mengalami kemajuan dari ilmu pengetahuan sampai urusan syahwat. Bahwa dulu sex adalah proses terbuka yang tidak menjadi alasan bagi kelompok tertentu untuk menghina atau menghukum perilaku sex orang lain. Tapi sekarang di banyak tempat di Indonesia, entah mengalami dekadensi atau tata nilai yang buruk, sex menjadi alasan untuk menghukum dan menghabisi orang lain.

Jakarta, 21 Juli 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s