Sisi Lain Dari Kehancuran Ekologis Akibat Tambang

Sore ini saya dijemput oleh amang Alex, adiknya Jhon Umat, adik ipar amang Hendrik Wadus ke rumahnya amang Hendrik. Sayang sekali beliau kerja malam, sehingga saya hanya ketemu sama tanta sisi atau mama Ori. Kami tidak ketemu selama kurang lebih 18thn, waktu yang tidak pendek. Tapi semua cerita dan memori tentang kampung dalam pertemuan seperti ini selalu menjadi bagian yang menarik dan disitu saya selalu terkesan. Betapa memori kampung atau dalam presentasi David Butterworth pagi ini yang buat penelitian di Sikka NTT selalu berkembang biak jika banyak orang yang terikat memori itu berkumpul bersama.

Tapi cerita yang lebih menarik bagi saya adalah pengalaman mereka sebagai perantau dan cerita di balik pilihan merantau. Banyak di antara mereka menggadaikan hari demi harinya untuk mengais perut bumi dengan mengais bahan galian atau tambang, sementara yang lain menengadah langit menjadi pemetik sawit. Dua isu itu dalam perspektif saya sebagai orang yang berjuang di isu lingkungan adalah sesuatu yang sedapat mungkin dikritik bahkan bila perlu dihentikan. Bagi saya, tidak ada pilihan terbaik menyelematkan lingkungan Indonesia yang terpuruk selain mengurangi aktivitas merusak, antara lain sebagai buah dari kerja hingga berpayah-payah dari beberapa orang saudara sekampung saya itu. Beberapa lembaga yang sangat keras menghadapi tambang juga berpendirian ”mengutuk” pertambangan.

Pengalaman berbeda dijalani oleh orang-orang dari kampung saya. Sebagian besar dari mereka adalah pelarian dari pekatnya kemiskinan dan konflik tanah yang makin ganas dengan sesama saudara di kampung. Konflik bahkan berujung pada putusnya hak atas tanah hingga taruhan nyawa. Dari cerita burung, orang-orang yang berdiri di pinggir frustrasi itu mendengar nun jauh di Kalimantan sana ada mimpi yang menjual kebahagiaan dari gelondongan kayu, kelapa, perut bumi dan macam-macam cerita indah lainnya. Barangkali benar tapi namanya kabar burung boleh jadi cerita itu berkembang dari bunga ke bunga mirip kelipatan utang ijon yang selalu menjadi nasib tahunan bagi mereka. Penghasilan dari kebun sepetak di kampung sendiri tidak cukup menutup malu dari utang yang makin menumpuk, sementara anak terus berkembang biak, perang batas tanah cenderung menghantar nyawa ke liang lahat, tuntutan ritual adat juga terus berjalan. Daripada hidup hanya menjadi beban, lebih baik berangkat menjaring mimpi di Kalimantan.

Di negeri kayangan itu, rupanya mimpi tidak semudah cerita membeli mimpi yang dijual murah di Manggarai. Tersedia banyak kerja yang rupa-rupa bebannya seperti memikul bumi. Melelahkan memang, tapi hanya itu tawaran yang tersedia untuk pendidikan yang tidak lulus SMU. Dalam benak saya, terngiang satu artikel kecil saya yang menolak tambang mati-matian. Mungkin jika dikuantifikasi secara fisik, energi untuk memperjuangkan penolakan tersebut tidak jauh beda dengan tunggang langgangnya perjuangan saudara sekampung saya itu. Saya terhenyak, ini bukan soal salah benar tapi soal memanfaatkan pilihan terbatas dari beberapa pilihan paling buruk yang tersedia. Satu-satunya aktor yang bisa dituding, dalam hal ini adalah Pemerintah. Mereka diberi mandat untuk mengurus warganya tapi dibiarkan terlunta-lunta hingga morat marit seperti saudara-saudara saya yang menggadaikan taruhannya di Kalimantan. Cerita ini juga membuat saya juga sadar, perlawanan terhadap daya rusak tambang seharusnya dimulai dari perlawanan terhadap pemerintah yang malas menjalankan mandat untuk mengurus warga dan negara.

Banjarmasin, 23 Juli 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s