Ketika “Tingkotoe” Tidak Lagi Menandai Hujan (1)

Sawah ManggaraiKita hidup dari alam dan mendengar alam

kini tidak lagi

Makanan tidak lagi dari perut bumi

Kepalsuan melanda dimana mana: Beras palsu, telur palsu, buah palsu, dan etalase kepalsuan lainnya

Kita makhluk alam pun jadi palsu

Makanan kita palsu, tubuh palsu dan masyarakat pun palsu

Kurang lebih dua puluh tahun silam, sistem pertanian kami masih teratur mengikuti jejak leluhur. Alam bercerita dalam setiap episode kehidupan dan kami pun mendengar lalu melakukan.  Setiap bab dalam pergantian waktu bergerak dari bel ekosistem yang teratur menuturkan kepada kami untuk berotasi. Dan mulailah setiap masa, setiap musim, setiap hari, dan kadang setiap moment kami beranjak setelah mendengar burung bernyanyi, pohon meranggas, jangkrik melengking, dan tanda-tanda yang bertutur benar dalam sejarah kecil komunitas kami.

Ini adalah sepotong cerita, dimulai dari seekor burung bersayap kecil. Tidaklah penting bagi dunia yang besar. Bagi dunia kecil kami, burung ini lebih dari putaran roda waktu. Dia tidak hanya mengajak kami untuk beranjak tetapi meyakinkan kami selama ratusan tahun tentang siklus pertanian yang produktif dan menggedor gerbang pergantian musim komunitas kami dari generasi ke generasi.

Burung itu namanya Ting-ko-toe. Saya tidak mengetahui persis arti namanya. Tapi bunyinya yang melengking “ting” barangkali secara onomatope masyarakat menamainya dengan nama itu. Pernah orang tua saya bercerita, tingkotoe adalah burung pembawa kabar, suka maupun duka. Dia mulai ramai manakala ada orang di kampung yang sekarat menunggu panggilan Ilahi. Ketika burung itu melengking dengan bunyi “ting”, artinya malaikat maut sudah siap menjemput. Bunyi “toe” sebaliknya, jemputan itu belum kunjung datang. Burung itu juga membawa kabar jauh. Keluarga dapat membaca seorang sanak saudara di perantauan telah berpulang saat burung itu berceloteh dekat rumah, apalagi di malam hari. Saya masih mengalami orang tua saya menyapa burung itu, “diamlah,  kami sudah mengetahuinya”. Berita duka pun akan menunggu waktu.

Tidak hanya dukalara. Tingkotoe kembali semarak jelang musim hujan. Saat tubuh kami mulai jenuh karena musim panas dan debu yang beterbangan, tingkotoe mulai berdendang. Makin semarak dia, makin bergiat petani membuka ladang karena iramanya yang meninggi juga simbol sukacita bahwa hasil musim panen berikut akan melimpah. Di saat itulah hujan turun. Tetua adat memanggil para sepuh dan membuat acara peralihan musim menuju musim tanam. Semuanya dibuka secara serempak, saat panen pun kurang lebih sama. Bertahun tahun sistem pertanian lokal belajar bahwa kontrol atas hama terjadi karena kemampuan mengendalikan waktu dan jenis tanaman. Keduanya secara simultan diperingatkan oleh burung penanda waktu, si Tingkotoe. Kegaduhannya menandai pergeseran waktu untuk bergegas membajak sawah. Saat itu hama dalam satu hamparan sawah bisa diringkus dan ditangkal secara bersama-sama.

Tahun-tahun ini dan barangkali yang akan datang tingkotoe tidak lagi berjanji. Dia bingung dengan gejala alam yang tidak lagi mengenal peringatan. Musim hujan terus berubah, membuat tingkotoe tidak pernah kembali secara tepat. Tingkotoe yang dulunya adalah sebuah periode waktu, saat ini tidak lebih dari sekedar burung bodoh yang terus berceloteh sepanjang waktu. Panenan dalam 10 tahun terakhir merosot dan tak ada masanya untuk pulih. Alhasil masyarakat kami tidak lagi bersawah. Orang-orang beranjak ke komoditas yang segera mendatangkan rupiah. Dunia kecil kami tidak lagi mini tapi merangsek masuk ke mata rantai pasar dan demikian sebaliknya. Kampung kecil itu dipilin dalam produk global. Pusaran waktu tidak lagi lokal tapi menarik banyak tangan. Sepiring nasi yang kami makan dikepung karung-karung asal vietnam atau promosi beras murah. Tingkotoe tinggal kenangan. Yang tersisa dari kampung kami adalah bayangan mengerikan dan gelap dari sebuah perubahan. Banyak gejala hepatitis B, typhus, demam berdarah, dan jenis wabah laknat lainnya yang tidak pernah ada dalam lembaran cerita di kampung ini ratusan tahun silam. Mereka merintih di rumah sakit, datang dan pergi. Entah kenapa kami jadi rindu…rindu sekali dengan masa lalu. Sayang, waktu tidak bisa pulih seperti Tingkotoe yang tidak pernah kembali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s