Suatu Senja: Aku, Dia dan Pertanyaan tentang mereka

Screen Shot 2017-08-16 at 16.22.13Aku, dia, berhadapan membicarakan mereka. Bukan menelisik apa kata mereka tentang “aku” dan “dia” tapi mengkoleksi kata-kata semata-mata tentang mereka. Banyak sengkarut kata meliuk-liuk seperti semilir angin pantai sore ini, tak bertujuan tapi kaya dengan interpretasi makna.

“Kamu mengerti apa itu cinta”, dia memulai.

“tidak banyak,” jawabku. “Hanya dari sebilah pengalaman”, lanjutku.

Begitulah. Pembicaraan dimulai. Entah berapa lapis dan liku topik telah kami ganti, berlalu, helai demi helai memutar, memitir lalu kembali lagi ke soal awal, “apa itu cinta”. Ada enggan sekaligus hasrat, ketika semua kata yang membuncah dalam pembicaraan itu selalu mengambil orang lain sebagai contoh. Proyeksi tentang mereka yang kembali pada kita, kami berdua, yang duduk merapat dengan mulut menari, tetapi hati yang senyap. Si pasangan anu sangat menyedihkan, si pasangan ini sangat menyenangkan.  Tapi kenapa, kita tidak bisa bicara tentang kita? Seolah “kita” itu jauh tak tergapai. Padahal “kita” disini. Aku, kau, hampir tak berjarak.

Dua tahun silam, pertemuan kita tak disangka di pojok terminal bis kota, berujung pada pembicaraan ngelantur tentang metro mini dan angkutan publik. Obrolan pembunuh sepi berhenti. Beberapa bulan silam, kita tiba-tiba dipertemukan kembali di suatu tempat lain, tidak lagi mengupas deru debu knalpot metro mini yang bikin limbung, tapi tentang negara. Bis kota dan negara. Dua hal yang tidak ada titik sambungnya. Tapi oleh kita menjadi satu garis pertemuan yang terjejer rapih.

Pertemuan-pertemuan berikutnya menjadi litani rutin. Kita kumpulkan dosa pejabat ini dan itu, bobroknya sistem hukum, dan hal-hal besar di luar jangkauan lima jari. Semuanya ditampung dalam laptop, sebuah mesin yang paling partisipatif tapi tetap bisa diajak rapih. Mesin ini bisa membuat alfabet dosa A-Z. Bahkan lengkap dengan jenis dosa porno. Entah kenapa, mesin ini begitu akomodatif dan tidak kesulitan dengan pertentangan moral antara dua kamar yang berdekatan. Antara folder A yang isinya wejangan moral dan folder B yang berhimpitan di sebelahnya penuh dengan foto cabul. Kita pernah bikin joke. Demokrasi liberal ibarat laptop. Semua bisa saja ada dan hadir. Harmonis dan well-ordered. Satu-satunya yang jadi soal adalah kalau satu folder lebih besar dari yang lain. Lebih ruwet lagi, bila yang kelebihan besar adalah video cabul para politisi.

Ah…itu semua cerita tentang mereka.

Sore ini seharusnya kita masuk ke dalam. Bicara tentang kita. Tapi sekali lagi, selalu dan selalu mereka. Bahkan soal cinta yang hanya bisa kita raba dan rasa dari bicara tentang kita. Gelora perasaan mereka bisa kita gambarkan. Tidak tentang kita.

Setelah pembicaraan ini selesai, saya merasa “kita” memang telah berhenti, tidak lagi jadi “aku dan kamu” tapi ditelan mereka.

Kita seringkali jadi tiada, hanya penanda ketika bicara tentang mereka. Terlalu sering berujar tentang mereka membuat kita kehilangan apa artinya tiap menit buat kita sendiri. Waktu menjadi absen untuk kita tapi begitu melimpah buat mereka. Saya kesepian. Ingin rasanya pertautan bis kota dengan negara juga menjadi pertautan kita. Benar-benar tentang kita.

Negara…kota…si anu..si itu.., dimulai dari kita

…..bersambung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s