Bahasa Lobi

Beberapa kali menyenangkan. Tetapi manakala lobi jadi rutinitas, bosan pun melanda. Kadang dramaturgi harus dimainkan, antara front stage dan back stage harus dijaga. Di depan, try to play nice. Di belakang sana, bisa jadi sumpah serapah, “why I have to talk with this asshole..” Gerutuan demikian dialami oleh banyak orang, pelobist.

Tetapi lobi adalah bagian terkini dari jejak peradaban manusia menuju tertib sosial yang damai. Tidak bisa diingkari, lobi adalah kemampuan mengendalikan prasangka, emosi, sembari pada saat yang sama menggunakan kata untuk menjangkau lawan menjadi kawan atau memecahkan kebekuan komunikasi hingga leleh menjadi cairnya persahabatan.

Pelobi memadukan mental baja, atau bahasa kasarnya muka tembok dengan kemampuan hebat seorang jawara bahasa. Mereka sabar menunggu kesempatan, sembari terus-menerus menawarkan opsi dan solusi. Mereka beda dari marketing yang asal jual, kecap manis yang penting laku. Pelobi membawa suatu kualitas teruji di dalamnya. Mereka dipercaya bukan karena “kecap manis” tetapi terutama karena kemampuannya menjaga ritme dan kualitas yang diinginkan suatu tertib sosial yang diidamkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s