Solidaritas dari Goa Tham Luang

Tidak sedikit tragedi kemanusiaan modern, diikuti dengan spirit terbesar dalam kemanusiaan yakni solidaritas. Berbagai media melaporkan perang di berbagai negara Timur Tengah bergerak sejalan dengan gerombolan bala bantuan kemanusiaan yang berjejal jejal kesana tidak membawa senjata, tetapi mengabdikan diri, seringkali menyabung nyawa untuk kehidupan orang lain. Tragedi Goa Tham Luang bukan kekecualian. Tiga belas negara terlibat menolong bocah-bocah yang masih punya asa panjang menjadi pemain sepak bola. Mimpi menjadi atlet profesional bisa berakhir duka di sebuah goa yang justru menjadi kebanggaan warga lokal. Asa para bocah itu pula yang mengundang warga banyak negara mengulurkan tangan ke goa dan menarik mereka keluar dari bayangan kematian.

Solidaritas bukan sesuatu yang baru dalam sejarah manusia. Usianya setua kehadiran homo sapiens. Pada masanya, solidaritas bergerak mengikuti kelompok dalam suatu gerombolan yang saling berbagi. Solidaritas adalah prasyarat untuk survival. Tanpa nilai itu, gerombolan sapiens tidak akan bertahan menghadapi gempuran para predator yang lebih ganas: harimau, singa, serigala lainnya.

Sejalan dengan makin mengglobalnya relasi antarmanusia, mulai dari revolusi budaya pertanian, hingga revolusi teknologi, solidaritas tidak lagi dibatasi teritori dan gerombolan seperti masa purba. Dia adalah prasyarat keutuhan global yang mengharuskan adanya kerja sama sebagai penopang peradaban teknologi dan informasi masa kini. Tanpa kerja sama, tidak akan ada produksi pangan, teknologi, bahkan demokrasi serta hukum yang mewakili representasi kebudayaan masa kini. Tengok saja konsumsi yang kita miliki saat ini, sebagian besar berasal dari negara lain. Karena itu, solidaritas masa kini tidak memiliki lingkar batas, tetapi ditarik jauh, sejauh-jauhnya imajinasi prinsip-prinsip besar yang menaungi kerja sama global.

Namun solidaritas Goa Tham Luang diperlukan hadir dan bila perlu dikumandangkan senyaring mungkin saat ini karena sejumlah alasan. Pertama-tama, solidaritas disana menengahi gejala politik belakangan ini yang berusaha menghalau humanisme lintas batas ke sudut sepi yang tak berfungsi. Kebijakan isolasi bahkan diikuti pengusiran migran di US adalah kutub yang kontras dan berseberangan dengan semangat solidaritas. Demikian halnya dengan kebijakan tutup pintu bagi pengungsi yang diikuti dengan peringatan kaum kanan terhadap ancaman keroposnya nilai-nilai Eropa, merupakan gambaran kotor yang buram dan kumal terhadap pencapaian solidaritas abad modern. Sehingga, solidaritas yang muncul dalam misi penyelamatan itu harus dipandang tidak saja sebagai reproduksi yang mengemuka terhadap nilai-nilai dan ketetapan etis yang kita junjung seperti penghormatan terhadap derajat dan martabat manusia, toleransi, tenggang rasa, dan seterusnya. Tetapi juga mengajak kita semua untuk menyambangi kembali pernyataan faktual prinsip-prinsip etis tersebut dalam tindakan nyata. Karena itu, solidaritas yang menyolok dari sudut goa di Thailand sana bermakna teguran terhadap gejala politik selfish yang menampung para pialang etnis, agama, dan teritorial untuk menyingkirkan semangat kebersamaan dalam tradisi kemanusiaan.

Selain itu, peristiwa solidaritas skala global seperti itu merupakan kesempatan edukasi terbaik untuk mendidik generasi muda, apalagi korbannya adalah anak-anak. Gemanya yang meluas melalui berbagai media memberi efek resonansi mengenai universalisme kemanusiaan. Dalam hal ini, solidaritas lintas batas negara bermakna paedagogik. Dia diharapkan menyiapkan generasi berikut untuk terinsipirasi oleh prinsip-prinsip etik seperti demikian itu dalam memandang sesamanya manusia.

Karena itu, Goa Tham Luang bukan sekedar cerita kepahlawanan tetapi juga aksi nyata. Bagi kita semua, peristiwa itu harus ditunjukan kehadirannya tidak hanya saat bencana, tetapi ketika prinsip etik kemanusiaan kita tercoreng atau dinodai, terutama saat ini ketika upaya membesarkan eksklusitivitas terus menggebu-gebu sembari mengecilkan kerja sama dan solidaritas.

Dalam pesawat dari Palangkaraya ke Jakarta, 12 Juli 2018

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s