Suku Yurok: Kedaulatan Seutuhnya

 

img-0831.jpgApakah Anda harus memerlukan ijin untuk ke gereja, tuan ?

Jelang sore di muara Sungai Klamat, sebuah kisah diperdengarkan. Tempat kami berdiri itu lebih dari sekedar sebuah titik yang mempertemukan wilayah leluhur suku Yurok dengan lautan Pasifik. Disitu adalah pertalian sebuah cerita kehidupan. Melalui ujung sempit muara Klamat, jutaan ikan salmon tiap tahunnya berenang ke hulu yang beriklim hangat untuk bertelur dan beranak pinak. Mereka menebar kehidupan bagi orang Yurok yang menamai dirinya suku ikan. Jack Matz, salah seorang anggota Parlemen Suku Yurok menggenapi cerita itu dengan menghela lebar kisah pergulatan panjang sukunya mengembalikan tanah leluhur ke dalam kontrol pemangku suku.

Sejak kehadiran pendatang putih pada awal abad 19, wilayah Yurok terbagi habis dan terkuras oleh perburuan kulit binatang, emas, dan yang terkini adalah industri kayu. Dianugerahi kekayaan alam yang melimpah ruah ternyata tidak mendatangkan pahala, orang Yurok justru disesah oleh kekejian panjang yang melenyapkan lebih dari separuh warganya. Genosida !! menurut pengertian hak asasi manusia pertengahan abad 20. Tetapi ketika itu, pembantaian sedemikian brutal itu adalah berkah untuk para pemburu rente. Dua metode utama dihadirkan secara efektif, shok dan ketakutan. Keduanya secara bergantian dipelihara untuk mempertahankan kontrol atas wilayah jajahan. Durasi eksploitasi yang panjang juga meninggalkan luka yang mengiris tajam ke dalam. Banyak warga suku melarikan diri. Yang bertahan dibayangi konflik internal dan kerap meletup karena akumulasi kekayaan pribadi punya pesona membuat lupa diri. Orang Yurok tidak lagi jadi komunitas yang seia sekata, tapi mengekori budaya selfish orang kulit putih yang lambat laun menggantang emas di dapur masing-masing.

Setelah sekian lama, Yurok melawan. Kesadaran akan tanah dan wilayah membuat mereka tetap bergeming. Mulailah kontak senjata hingga perebutan kembali sebagian wilayah leluhur. Pemerintah Amerika ketika itu menawarkan pakta agar mereka mendapatkan hak reservasi. Pakta itu ditandatangani sepihak. Yurok sendiri tidak mau terjerumus, mereka menolak menandatangani pakta, karena dipandang sebagai persetujuan tidak langsung atas tindakan sepihak kaum putih terhadap pengurangan luas wilayah mereka secara signifikan, suatu wilayah leluhur yang tidak demikian dalam cerita legenda nenek moyang dari generasi ke generasi. Alhasil, Yurok berjuang sampai hari ini. Tidak menandatangani pakta rupanya punya keuntungan sendiri, terutama karena setiap sejarah punya masanya. Abad 19 bukanlah cerita yang baik untuk hak-hak dasar manusia. Namun penghujung abad 20 dan perjalanan abad 21, sejarah berubah. Amerika sekonyong-konyong menjadi pelopor hak-hak dasar manusia. Yurok menang dalam perjalanan waktu sekaligus strategi yang barangkali tidak mereka sadari pada abad 19. Ketidakhadiran mereka sebagai subyek dalam pakta menghindarkan diri dari jebakan batasan konsepsi wilayah yang dipaksakan pakta yakni 1 mil kiri dan kanan sungai Klamat. Karena itu, pada masa kini mereka masih bisa terus dan terus meraih kembali wilayah leluhur, tidak lagi 1 mil, tetapi berpuluh puluh mil di sepanjang sungai Klamat.

bersambung…………..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s