Antara budaya panggung dan pilihan politik

Kultur publik saat ini sarat dengan taburan bintang. Ruang publik melalui media elektronik atau dunia kaca kerap dikuasai oleh dunia selebriti yang glamour. Impian yang melampaui batas realitas dipenuhi hampir bulat-bulat oleh dunia kaca melalui imajinasi karakter impian proyektif seseorang tentang sesuatu. Pahlawan, gentlement, pecinta yang hebat, suami yang baik, istri yang soleha, nasib mujur, dan seterusnya ada secara benar-benar di dunia kaca. Itulah dunia panggung, sebuah kultur manipulatif yang menghidangkan orang dengan kenyataan imajinatif ideal, betapapun palsunya.

Beberapa waktu silam, banyak pakar menilai dunia panggung adalah angan-angan. Anggapan itu tidak banyak benarnya dan sulit dipertahankan secara utuh saat ini. Dunia kaca bukan sekedar angan-angan. Faktanya, banyak orang terpesona karena disitulah khayal bisa tersentuh. Kegembiraan yang ditawarkan dunia kaca tetap lah punya bentuk faktual entah tertawa, bersuka ria dan perasaan lepas dan bebas. Dia tidak lagi berada di luar jangkauan kita tapi bisa direngkuh dan mempengaruhi perasaan, emosi bahkan pada tingkat yang lebih konkrit mengubah rencana manusia. Dunia kaca, dengan demikian, bukan lagi pelarian dari yang nyata ke yang semu, tapi pijakan dari kenyataan yang satu ke kenyataan lainnya.

Dunia kekinian dalam berbagai urusan manusia, termasuk urusan publik merupakan tipikal budaya panggung tetapi dengan perubahan skene yang ekstrim. Secara tradisional, budaya panggung mengenal pemain yang terpisah dari dunia penonton. Namun secara perlahan skenario panggung berubah. Masyarakat penonton adalah mayoritas yang tidak terlibat dalam keputusan publik akibat demokrasi perwakilan. Mereka diarahkan panggung untuk menonton dan bergemuruh, tertawa dan marah, cinta dan benci. Histeria penonton diwadahi oleh panggung atau dunia kaca, terutama televisi dan internet. Hasilnya, menakjubkan. Tak peduli fakta di belakang panggung, penonton akan melihat proyeksi idealnya semata-mata pada apa yang dipentaskan di panggung. Seseorang yang terperangkap dalam ukuran dunia panggung, tidak diajak berpikir menggunakan kreativitas kritis nalarnya sendiri tapi diarahkan untuk membeli suatu produk jadi. Dia melakukan lompatan melampaui horizon kesadaran. Karena itu seorang penonton disini akan mengidentifikasi dirinya sebagai bagian dari panggung dan merasa turut menjadi aktor/aktris lalu akhirnya mengenakan perilaku panggung pada sikap politik maupun kesehariannya. Seseorang tidak lagi berjarak untuk menilai pilihan politiknya untuk mendukung calon A. Tetapi dia serta merta menjadi calon A yang ikut merasakan gejolak suka dan duka derap dinamika panggung.

Produk panggung dipajang secara lengkap dan hampir sempurna. Karena itu, budaya panggung sangat peduli dengan janji yang menawarkan air kata-kata. Sesuatu yang muluk-muluk justru membuat histeria semakin seru dan menjanjikan. Panggung  tidak terlalu peduli dengan kerja keras, apalagi kegagalan. Dia hanya senang dengan idealitas, macho dan super hero. Ciri ini menjauhkan seseorang dari kenyataan sehari-hari yang penuh kerja keras dan nasib malang. Budaya panggung pula yang menghukum seseorang yang mengumbar vandalisme dan kecabulan. Publik lebih suka yang baik dan benar, bukan yang onar. Orang yang berkata jujur dengan maksud benar tapi tidak disukai penonton bisa jadi dianggap kurang ajar. Akibatnya, dia akan tersingkir dari pilihan publik. Karena itulah, imej menjadi sangat penting. Jangan sampai watak bobrok dan brengsek dari kenyataan sehari-hari dibongkar di panggung.

Politik saat ini telah dikemas ke dalam dunia panggung dimana urusan publik seharusnya dipertontonkan secara transparan. Maksudnya agar setiap orang punya preferensi yang jelas atas orientasi politiknya. Tapi politik disini juga tidak lepas dari kreativitas dunia kaca. Tidak sedikit preferensi pemilih jatuh pada sosok yang diciptakan dengan efektif oleh dunia kaca. Menghapus sejarah buruk dan kelam kemudian menciptakan manusia dewa sangat mungkin dibentuk oleh dunia kaca. Karena itu, satu kesuksesan kecil bisa saja dipoles sedemikian rupa untuk menjadi cerita besar. Figur atau sosok politik impian yang barangkali hilang dari ruang politik bisa dibentuk melalui ruang kaca. Demikianlah, segalanya bisa terjadi.

Namun, sandiwara panggung bisa sangat tidak produktif untuk politik. Sebagai arena publik yang mengatur urusan bersama semua orang, politik punya syarat kualitatif yang tidak bisa dipenuhi dunia panggung. Syarat itu adalah track record atau sejarah. Panggung bisa memanipulasi janji, bisa pula mengubah sejarah. Tapi panggung tidak punya sejarah, namun tidak bisa melepaskan diri dari sejarah. Panggung adalah histeria euforik atau sarkatis atas akibat sejarah tertentu, entah kegagalan maupun kesuksesan. Karena itu, seimanjiner apapun dunia panggung, tidak pernah bisa lepas dari kerikil sejarah.

Sayangnya dua dunia ini berdiri pada pijakan syarat kualitatif yang berbeda. Dunia panggung adalah dunia histeria. Dia tidak perlu bergelut dengan refleksi atas buku-bukut tebal, riset yang dalam dan mengundang diskusi yang tajam dan dalam. Sejarah hanya bisa diperiksa oleh suatu kesadaran akal sehat yang utuh dan kritis sebagai cara untuk secara benar menjalani situasi masa kini dan membesarkan masa depan. Beda dan bahkan eskstrim dengan dunia panggung yang hanya menawarkan obat saat ini dan mengabaikan penyakit kronis yang dituturkan sejarah. Tidak peduli pada pertimbangan yang dalam dan kritis. Dia memberi minum hingga mabuk kepayang pada imajinasi tinggi, setinggi-tingginya. Perasaan ditinggal oleh kenyataan sangat efektif diisi oleh dunia khayali panggung. Dia adalah candu yang menodai akal sehat. Karena itu, dunia panggung pada dasarnya adalah mobilisasi dan kesepian berpikir. Dalam bahasa politik yang konkrit, tidak perlu sadar akan sejarah ketika memilih. Cukup membayangkan si gentlement gatot kaca, itulah sudah pilihan kita.

Kita perlu menggarisbawahi bahwa kecanduan akan dunia panggung adalah parasit bagi politik yang sehat. Panggung bisa digunakan sejauh menampilkan secara kritis akan sejarah. Panggung manipulatif yang hanya punya punya target memenuhi libido kekuasaan adalah sesat. Seharusnya panggung seperti itu jangan pernah menjadi bagian dari proses politik. Sebelum memilih, buatlah pilihan kritis dengan menyadari secara utuh sejarah politik masa lalu sebagai basis membangun masa kini dan membentuk masa depan. Namun di tengah dunia instan dimana banyak orang alergi dengan perdebatan, apalagi buku-buku tebal, apakah mungkin kesadaran itu bisa dibangun secara utuh.

Jakarta, 25 Juni 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s