Kritik Menurut Forum Negara Pancasila Pak Tedjo

“….Kali ini kita akan menjawab pertanyaan Saudara Beni dari Medan. Saudara Beni bertanya tentang apa hubungan antara sila ke-4 Pancasila dengan koperasi. Baik, saudara Beni, saya akan menjawab pertanyaan Anda…”

Demikian Tedjo Sumarto, pengkhotbah ulung berapi-api tentang Pancasila versi Soeharto puluhan tahun silam. Tak henti-hentinya tiap minggu pak Tedjo mengunjungi kuping pemirsa melalui suatu acara radio RRI bertema Forum Negara Pancasila. Sepanjang yang saya ingat, Tedjo jauh dari guyon. Semua jawaban haruslah serius. Selucu dan sekonyol apapun pertanyaan pemirsa, om Tedjo tetap datar. Pernah suatu ketika, ada permirsa yang entah usil atau bersungguh-sungguh bertanya mengenai pemasangan bendera terbalik, apakah upacara tetap sah. Om Tedjo mengupas dari kerangka filosofis, sosiologis, hingga yuridis. Mantab tenan !!Tentu, beda dengan anak gaul jaman now yang nyeleneh sampai jauh. Bendera dipasang terbalik pun, jadi viral. Biar tenar. Sungguh tarlaluuu..!!

Namun, seramai apapun forum itu, Tedjo bukanlah sosok mandiri. Dia hadir sebagai memo dari konfigurasi politik masa itu. Banyak kesempatan tanya jawab digunakannya untuk menyisipkan doktrin utama Orde Baru: anti-komunis dan kontrol ketat terhadap kebebasan berekspresi atau yang disebut dengan “melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen”.

Suatu waktu pak Tedjo secara tegas menolak pers yang mengkritik tanpa tedeng aling aling kebijakan Pemerintah Soeharto. Perilaku itu, kata Tedjo bukanlah watak Pancasilais karena Pancasila adalah refleksi budaya kita yang santun. Kritik haruslah santun. Yang muda permisi ketika mengkoreksi yang tua, yang salah tidak boleh disoraki, kepentingan umum diutamakan, dan rupa macam tata krama lainnya. Saya agak sulit membayangkan implikasi praktisnya, tiap kali kritik harus permisi. Apalagi masa itu tidak ada aplikasi WA, Line, dan sejenisnya yang mudah untuk minta permisi, lengkap dengan rupa macam emoticon unyu.

Kesulitan lainnya adalah ketika menuangkan secara praktis, bagaimana rupanya kritik santun itu. Apalagi kalau dikonversikan ke Bahasa Inggris, leluhurnya kata kritik. Di berbagai artikel saya hanya temukan kata “constructive criticism”, bukan polite criticism. Bahasa Inggris menyematkan sejumlah rajutan makna pada kata kritik, yakni ekspresi ketidaksetujuan berdasarkan kesalahan atau kekeliruan yang disadari dan juga penilaian yang berimbang antara manfaat dan mudarat berbasis pada sumber data yang jelas. Sehingga dalam dirinya sendiri, kritik mempunyai implikasi membangun dengan cara menunjukan kesalahan dan mengarahkan pilihan yang lebih pantas. Dari sana suatu hal atau seseorang dapat menuju ke orientasi yang dipandang tepat dan yang lebih penting tidak mengulang-ulang kesalahan serupa, tidak seperti keledai dungu yang terperosok ke lobang yang sama berkali-kali. Kritik membongkar, menyingkap, mengurai, hingga menunjukan arah. Disitu, kritik pastilah tidak sopan. Coba bayangkan…! Apa yang sopan dari perilaku menyingkapkan sesuatu hingga telanjang bulat dilihat orang. Kritik sopan dalam terminologi Om Tedjo, benar-benar contradiction in terminis, bertentangan dalam dirinya sendiri. Tapi itulah Orde Baru, segala sesuatu mungkin.

Demikianlah, tidak benar-benar jelas “kritik santun” dalam pengertian Forum Negara Pancasila itu. Yang muncul berulang-ulang dalam penjelasan Tedjo adalah batas kritik sebagai ruang kedap suara, bahwa sejauh-jauhnya berpantun dan bersorak haruslah yang paling kencang kembali ke telinga sendiri, bukan ke orang lain, apalagi penguasa. Menurut Tedjo, kita (manusia ORBA) adalah manusia Pancasila yang harus pertama-tama menghayati kesantunan ke dalam perilaku bermasyarakat. Terjemahannya tentu beda, bukan santun dalam pengertian sesungguhnya. Tetapi apa yang disebut dalam wacana politik sebagai double negation, alias menyatakan kontra secara berganda terhadap suatu hal tetapi untuk menyembunyikan tindakan politik sistematis yang kasar dan brutal. Secara faktual, kesantuan dalam versi Orde Baru adalah hak politik dalam urusan bernegara, bukan merdeka untuk menyampaikan apa adanya, tetapi meredam sedalam-dalamnya keburukan agar yang tampil ke permukaan adalah kemilau pembangunan, memuliakan raja merendahkan kawula.

Yang lebih aneh lagi, kritik bagi Om Tedjo mengenal masa atau waktu. Kritik adalah metode ketika kita masih berada dalam penindasan kolonial. Wong Londo layak mendapatkan hujatan hingga ke tulang belulang karena mereka memang dari sono-nya penjajah. Saat ini (ORBA) adalah masa kemerdekaan, apa pula yang mau dikritik. Lebih dari itu, ini (ORBA) adalah generasi membangun. Gapailah pembangunan itu dengan teknik pembangunan. Sehingga mereka yang mempunyai kemampuan teknik pada masa ORBA adalah para pelopor yang harus diberi tempat dan medan utama dalam politik pembangunan. Penghormatan terbesar dan sedalam-dalamnya didedikasikan bagi intelektual teknokratis. Merekalah tampilan sesungguhnya watak “pembangunan” Orde Baru, sekaligus pancasilais sejati.

Tedjo Sumarto barangkali tinggal kenangan. Kotbahnya yang menggebu-gebu menjadi memori sepi bagi setiap generasi yang pernah dikungkung dalam mesin doktriner ORBA. Tetapi argumen Orde Baru ala Tedjo kerap berulang pada banyak kesempatan saat ini, ketika pejabat publik enggan “dicolek”. Barangkali itu semacam bawaan menjadi pejabat, warisan atau apalah namanya. Di sana sini kita bisa melihat pejabat yang kupingnya tipis, tidak tahan dengan kritik, atau bahkan sekedar menyimak pandangan yang berbeda. Untuk suatu kebijakan pembangunan, misalnya, beberapa di antaranya menyatakan begini, “mbok ya jangan kritik gitu, kan baru mulai, tunggu hasilnya ada dulu…barulah dikritik”.

Sayangnya akibat dari pilihan kebijakan yang salah atau perilaku ceroboh tidak selalu menunggu hasil akhir. Selama proses menuju kesana (hasil) banyak rentetan kerugian yang terlanjur bikin runyam babak belur unit sosial, ekonomi maupun lingkungan hidup, hingga akumulasi hasil yang diimpikan pun tidak cukup untuk mengembalikan situasi seperti sedia kala, alias jadi abu. Contohnya, utang luar negeri jaman ORBA menjulang ke langit hingga bebannya ditimpakan ke generasi-generasi berikutnya. Pinjaman ketika itu berjalan tanpa kritik, cenderung diamini demi menyeimbangkan neraca keuangan dan mantra pembangunan ekonomi.

Ogah dikritik juga bisa diperiksa dalam banyak kebijakan pasca ORBA. Salah satu contoh utamanya adalah berlanjutnya pembukaan lahan gambut besar-besaran. Saat ini, tidak ada solusi mudah untuk memulihkan gambut yang ternyata rumit dan sarat dengan lapisan ekosistem mikro itu. Tetapi ketika semua kebijakan pembukaan itu dimulai, argumen sejumlah pejabat selalu sama, dulu hingga sekarang. Konon, lahan itu dapat dimanfaatkan dengan teknik atau teknologi yang tepat. Ini didukung pula oleh “pakar” atau warisan teknokratis dari sejumlah universitas beken, yang insya allah jadi pakar karena sering dipakai, bukan karena publikasi ilmiahnya di berbagai jurnal akreditasi Internasional. Demi buaian manfaat kita terima para teknokrat itu tanpa kritik. Namun pengalaman kita sejak merdeka, kecerobohan sejalan dengan keyakinan. Yakin bahwa suatu hal bisa dicapai, tetapi kecerobohannya juga bukan kepalang. Minim pengawasan. Tidak ada uji tuntas. Teknologi yang katanya tepat, ternyata tidak tepat-tepat amat, bahkan melenceng dari perkiraan. Teknorat yang katanya pakar, rupanya hanya punya satu dua penelitian kelas regional. Dan banyak daftar lainnya. Akibatnya, tiap tahun kita menelan asap. Negara tetangga menuding kita demikian hebatnya, bikin malu sampai sumsum: hanya bisa ekspor asap dan tentu saja manusia (TKI).

Entahlah…mungkin pak Tedjo benar. Kritik setepat dan sejujur apapun di negeri ini, tidak banyak gunanya. Orang lebih suka dengan kesantunan, kata-kata yang elok permai, dan mungkin juga seperti masa ORBA, tepuk tangan membahana, meski sebetulnya tidak paham juga, “orang itu ngomong apa, sih”. Di balik itu semua, tutur halus tidak lebih dari persembunyian rapih atas kebobrokan manajemen, tidak bisa kerja. Lebih baik jadi selebriti saja, main sinetron. Meminjam kata Slamet Rahardjo, “mending main sentilun..”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s