Om Pote

Beliau seorang pedagang lokal. Buka kios di sebelah utara komplek Seminari Kisol. Kami tidak tahu persis sejak tahun berapa dia memulai bisnis kios. Tetapi patut diakui, meskipun mungkin tidak belajar manajemen, beliau adalah pelaku bisnis handal yang memperhitungkan dengan tepat pertimbangan ekonomi dalam menentukan lokasi kios. Semua ahli manajemen bisnis paham sepenuhnya bahwa lokasi bisnis ditentukan oleh keunikan alamiah, keunggulan geografis, dan nilai tambah. Om Pote barangkali memikirkan dua yang terakhir: geografis dan nilai tambah. Secara geografis, Om Pote memilih lokasi dekat jalan utama yang menghubungkan Kota Kabupaten Ruteng dan Kota Kecamatan terdekat, Kota Borong dengan kampung-kampung terjauh Manggarai Timur (ketika itu Manggarai belum dibelah tiga). Kios itu juga hanya sepelempar batu dari asrama anak-anak seminari yang sedang dalam usia doyan belanja. Tidak besar memang, jauh dari anggaran sosialita SMA jaman now. Tapi dalam radar Om Pote, ini pula yang memenuhi kriteria terakhir: kios itu memberikan nilai tambah bagi seminaris seperti saya kala itu. Bagian ini yang akan diungkapkan dalam tutur berikut ini.

Baiklah…cerita berikut ini dimulai dari hobi kami menghabiskan waktu sore. Daripada ti’i jerawat dan melamun kreatif sejauh-jauhnya, lebih baik jalan-jalan. Yang satu ini harus kuras kantong, dimana lagi kalau bukan berlabuh di kios hampir serba ada punya Om Pote. Saya lupa nama kios itu. Untuk mudahnya, masa itu kami menyebutnya Kios Om Pote, saja. Saya juga tidak pernah tahu nama lengkap Om Pote. Mungkin ada yang lebih ingat, silahkan tambahkan. Tentu kalau boleh, tidak hanya menukil nama tetapi juga cerita lain. Lebih seru. Lebih menguras tawa dan geli. [belakangan kraeng Firman de Morin, teman seangkatan di Kisol, menambahkan nama Om Pote: Yoseph Pote de Rozari].

Sore itu tebas rumput cukup melelahkan. Mandi, wangi, tetapi perut lapar. Masakan dapur sesumbar dengan wangi masakan para pastor. Godaannya mampir lewat di hidung. Aduhhh….bikin tambah lapar. Cek uang di dompet, ah ada sedikit. Ini sudah akhir bulan, sebentar lagi mungkin ada kiriman. Meski seringkali orang tua selalu menganggap anak kampung seperti saya tidak perlu uang. Tak apalah berharap sedikit. Amplop surat selalu dinanti. Selain sekilas berita dari kampung, biasanya di tengah-tengah lipatan surat diselipkan satu atau beberapa lembar untuk doyanan. Walau hanya untuk sebatang pisang goreng.

Kembali ke perut lapar. Bertiga kami kumpul di tempat makan. Tidak usah saya sebut dua orang ini, biarlah dosanya saya pikul. Soalnya, bisa bikin malu hati. Apalagi kalau saat ini keduanya sudah jadi pejabat. Kuatir saya digugat dengan tuduhan pencemaran nama baik. Ad multorum exhaurienda peccata, biarlah saya tanggung dosa-dosanya. Siapa tahu ada pahalanya. Ha ha ha ha ha ha…Setelah hitung-hitung sebentar, sepertinya duit cukup buat beli biskuit, plus bisik-bisik rencana comrades in crime sore itu. Sembari jalan sore, santai menunggu datangnya jam belajar sore, kami lenggang kangkung ke Kios Om Pote.

Kejahatan kecil itu pun dimulai. Modusnya kira-kira begini. Saya berdiri di depan bersama rekan yang satu menutupi pandangan Om Pote. Beliau sudah cukup umur. Ditengahi kaca mata positif tebal, kami yakin sepenuhnya beliau tidak cukup awas menyapu satu ruangan kios-nya secara cermat. Sohib saya yang lain beraksi dengan tangkas, persis kode lama*. Rogo sana sini, pegang le lau. Dia telah cukup siap memakai celana agak longgar untuk menampung harta jarahan. Satu bungkus gula, satu biskuit, dan beberapa jajanan lain. Sekilas saya lihat, bagian depan celananya agak menonjol. Bahasa manggarainya, tombur. Sedikit pengorbanan untuk tujuan yang lebih besar: akan ada pesta sore itu. Tugasnya pun untuk sementara selesai. Sampai disitu kami cukup lega. Sekarang adalah urutan paling akhir dalam siklus kejahatan kecil itu. Bayar apa yang nampak diambil. Celakanya, kawan ini terlalu terburu-buru untuk segera menuntaskan babak akhir. Alhasil, tersandung. Dannnn, tanpa bisa dia cegah merosot lah tumpukan gula dan biskuit dalam celana. Gula tumpah kemana-mana. Jarahan lain juga terpencar kesana kemari.

Om Pote bergeming. “Itu apa?” Kami bertiga diam. Sudah bisa dibayangkan, kabar sore itu naik sampai ke Romo Perfek. Untuk diketahui, Romo yang satu ini juga kaca mata pantat botol. Dia adalah Hitler kecil pada masa itu. Acapkali kami merasa hukumannya tidak masuk akal.

Tunggu dan tunggu…ternyata kami berdua tidak dipanggil. Hanya dalang utama yang diminta menghadap. Entah apa yang terjadi. Saya tidak berani tanya.

Ingatan itu terus terngiang. Om Pote sudah berangkat menghadap Allah. Semoga Tuhan memberinya kemurahan hati. Untuk mengenangnya cerita ini dituturkan. Di tengah kemarahannya sore itu, dia telah menjadi seorang Bapak yang menyematkan satu nilai klasik bagi kami: Perintah Ketuju “Neka Tako”

*kode lama: kera yang sudah cukup senior sehingga mengepalai gerombolan kera

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s