Putusan Kasus Lingkungan

Banyak pelaku perusakan lingkungan, terutama kebakaran hutan dan lahan 2015 sudah dihukum. Triliunan rupiah ditetapkan hakim sebagai vonis baik sebagai ganjaran maupun tindakan untuk pemulihan lingkungan. Tetapi belum ada perusahaan yang membayar sesuai putusan tersebut. Singkat cerita, putusan-putusan itu hebat di kertas tetapi ompong dalam tindakan.

Apa penyebabnya?

Banyak analisis yang fokus pada persoalan penegakan hukum. LeIP (2018) menelusuri sebab tidak kunjung dieksekusinya putusan-putusan tersebut. Beberapa di antaranya adalah menyangkut kondisi lapangan sudah berubah, tidak ada yang mengawal putusan dan jangka waktunya, nilai kerugian dalam putusan berbeda dengan valuasi, tidak ada jawaban yang pasti bagaimana mengeksekusi putusan, tidak ada hukum acara perdata untuk kasus-kasus lingkungan hidup, PN dan aparat penegak hukum setempat tidak serius melakukan eksekusi, belum jelas skenario penerapan untuk putusan melakukan tindakan tertentu, dan seterusnya. Semua analisis ini nampaknya mengarah pada prosedur judisial penegakan hukum.

Saya tidak mencari tahu lebih jauh hasil penelusuran LeIP, tetapi mengajukan tesis dari aspek lain, yakni terdakwa pra-kasus. Mengapa para terdakwa ini tidak perduli dengan pencegahan dini, padahal putusan pengadilan adalah soal reputasi yang super penting untuk kelanjutan investasi.

Sebagaimana dapat ditelusuri dari domisili hukum perusahaan-perusahaan yang terjerat kasus karhuta, dampak kasus-kasus ini berada di luar horizon sosial pelaku. Sebagian besar investor kebun maupun kehutanan yang terlibat dalam mata rantai kejahatan kerusakan hutan dan gambut adalah orang-orang kota, jauh dari jakarta, bahkan dari Malaysia. Mereka bukan orang setempat yang terimbas langsung masalah. Kerusakan hutan dan akibatnya, tidak mereka alami sendiri karena semuanya itu not in my backyard. Isu tanggung jawab sosial sama sekali tidak terinternalisasi dalam semangat investasi perusahaan-perusahaan itu. Lebih dari itu, hukuman sosial tidak mereka terima secara langsung baik berupa bully atau dicemooh sepanjang waktu karena mereka berjarak dari dampak.

Coba bayangkan skenario lain. Perusahaan dimaksud berdomisili di lokasi kebakaran. Semua operasinya disana dan terimbas langsung dengan kebakaran. Saya menduga usahanya akan lebih keras dikerahkan untuk mencegah kebakaran. Sebab kalau kebakaran terjadi, dampak yang dia terima tidak hanya fisik tetapi berbenturan dengan warga yang mengamuk karena kesal dengan asap.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s