Antarctica ice melt has accelerated by 280% in the last 4 decades, So What ??

Judul ini diambil dari beita CNN 14 Januari 2019. Sudah banyak doomsday scenario yang diproyeksikan pakar. IPCC sejak awal berdirinya tidak kurang-kurang bersalawat tentang kiamat kecil, separuh, bahkan akhir bumi jika kita tidak mengatasi perubahan iklim. Tetapi tidak ada aksi yang serius untuk mengatasi ini.

Trajektori pembangunan banyak negara dipimpin oleh USA masih menggelorakan pentingnya mengeruk perut bumi, menghabisi sumber daya sedalam-dalamnya, hampir tanpa menyisakan imajinasi sedikit pun bahwa sumber daya ada batasnya, dan bahwa generasi berikut juga seharusnya punya kesempatan yang sama untuk menikmati sumber daya tersebut. Trump dan gerombolannya adalah contoh paling ekstrim. Kelompok lainnya bersembunyi di balik target masing-masing negara. Tidak ada sama sekali gerakan masif yang politikal nyata selain janji-janji dalam komitmen pada perundingan iklim. Banyak yang melihat Paris Agreement sebagai batu penjuru untuk menuju pemangkasan radikal terhadap konsumsi energi fosil. Tetapi bahkan tanpa perjanjian itu pun, UNFCCC tahun 1992 sudah cukup progresif untuk membuat semua negara seharusnya punya agenda yang nyata dan dalam terhadap perubahan iklim.

Jadi, daripada menyuarakan demikian banyak temuan, ujung-ujungnya tidak ada aksi. Lebih baik tiap-tiap orang yang percaya bahwa perubahan iklim itu nyata melakukan caranya masing-masing. Sebab, jangankan kesepakatan politik yang demikian heboh dan besar itu, bahkan mengubah perilaku suami, istri, dan anak pun, jangan-jangan kita gagal. Liberalisme abad 21 yang pengaruhnya  masif melalui teknologi menusuk masuk ke tindakan dan perilaku subyek, menghadirkan wajah subyek yang berbeda yang punya kekuatan ke dalam untuk menentukan dan keluar dalam kerangka menyerukan pengambilan keputusan bersama. Institusi politik saat ini jauh jauh lebih lemah daripada sebelumnya. Karena itu, mulailah dari subyek untuk mengendalikan konsumsi pribadi. Tidak ada era lain yang lebih menentukan daripada saat ini, manakala kita diminta untuk berpartisipasi sebagai warga global untuk mempunyai batas sendiri, sebelum batas-batas konsumsi bersama (kolektif) ditentukan.

Tidak perlu kesepakatan politik maupun hukum untuk mengubah diri menjadi lebih mampu menghindari produk massal yang merusak lingkungan. Dari belanja rumah tangga, perilaku subyek, dan barangkali sedikit lebih tinggi berupa kesepakatan keluarga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s