Tata Krama dan Medsos

Medsos hanya ruang layar bisa dipakai buat apa saja, no heart feeling. Mungkin nilai itu yang jadi pegangan pegiat medsos. Karena itu, banyak generasi muda yang maki-maki orang yang seumuran Bapak atau Emaknya seenak jidat (padahal jidat juga tidak enak). I don’t know you, so I can scold or vilify you whatever I want.

Betulkah begitu?

Medsos sendiri disebut media sosial oleh pencetus pertama istilah itu, Darrel Berry pada 1994 konon sudah menggunakan istilah itu dan pada 1995 dalam satu paper yang terpublikasi berjudul “Social Media Spaces, dia mengatakan pentingnya internet untuk melangkah ke depan sebagai jaringan bagi pengguna agar terlibat satu sama lain dan tidak semata-mata sebagai arsip dokumen. Berry adalah fotografer Australia yang tinggal di London Timur UK.

Banyak studi menyusuli Berry yang pada akhirnya terwujud jadi wadah nyata sampai pada bentuk medsos saat ini. Namun esensi historis dan melekat dalam kata itu tidak pernah boleh dilupakan bahwa medsos adalah ajang terlibat, bertukar pendapat, saling debat, saling cerita, dan seterusnya yang mengalihkan sebagian relasi sosial ril ke dunia virtual.

Tanpa perlu harus studi sosiologi atau antropologi, sudahlah amat jelas bahwa di belakang keterlibatan/interaksi sosial yang ril itu telah melekat values, norms, alias tata krama yang digunakan ketika berinteraksi. Karena itu, tiap kata ada konteks penggunaannya, tidak sembarangan. Hal itu sudah given karena muncul sepanjang seseorang bertumbuh dengan keluarga, relasi dengan tetangga, dan komunitas secara keseluruhan. Tidak ada orang yang sepenuhnya terampas dari tata krama, bahkan dalam organisasi preman paling brutal sekalipun. Tata krama adalah alat ukur yang melekat pada cara dan hasil yang disampaikan, sehingga segera memberikan informasi tentang siapa seseorang itu. Misalnya, kata “bajingan” kalau disampaikan dalam perang kata-kata tentu punya makna kemarahan yang kalau diterjemahkan dalam interaksi sesungguhnya, bisa dikonversi jadi tonjok, baku pukul, dan kekerasan fisik lainnya.

Nah..mari kita lihat medsos. Begitu kerap seliweran makian, kasar, kotor, dan vulgaritas jadi menu sehari-hari, bahkan tidak ada lagi orang tua, teman, saudara. Semaunya orang menyemburkan sumpah serapah pada orang lain. Tidak ada lagi tata krama kehidupan ril. Perilaku itu lambat laun menyerang kehidupan sosial sesungguhnya karena orang jadi sakit hati. Meskipun disebut virtual, tidak kenal orangnya, tapi omongan kotor itu tetap bikin makan hati. Hal ini menegaskan bahwa tiap tutur dan jenis kata melekat pada nilai dan norma di belakangnya. Penggunaannya yang serampangan tentu segera mencederai tata krama sosial sehari-hari.

Jelas bahwa Medsos adalah wadah sosial yang dipindahkan ke ruang virtual. Dia tidak ada bedanya dengan pertemuan RT, relasi dengan tetangga, orang tua, saudara, sahabat dalam pergaulan sehari-hari. Jika medsos terus dipertahankan menjadi ajang kekerasan kata-kata seperti yang umum terjadi saat ini, wadah itu bukan lagi media atau perantara sosial, tetapi disintegrasi yang luar biasa. Kita sudah sering melihat kekerasan akibat perang kata-kata di media, dan barangkali ke depan akan melihat masyarakat tidak lagi punya tata krama. Semuanya suka-suka, bahkan lebih vulgar dari hukum rimba.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s