Pabrik Semen: Risiko Ekologis Jangka Panjang

Bekas Tambang Mangan Tak Terurus, Sirise Manggarai Timur

Dampak lingkungan dari operasi pabrik semen sudah pasti ada. Namun skala kerusakan secara detail tergantung kapasitas ekosistem mikro yang memperhitungkan tingkat goncangan dan adaptasi terhadap perubahan. Untuk mengantisipasi masalah ini, perusahaan bisa saja menggembar-gemborkan sedemikian rupa intervensi teknologi dengan perhitungan canggih. Tetapi pengalaman empirik pabrik semen sudah bisa memberikan indikasi kecenderungan umum yang terbaca secara cepat di sejumlah tempat.

Fakta berbasis studi ilmiah

Studi di sejumlah pabrik semen di wilayah Ariyalur, India (Rames et al., 2014) menemukan rusaknya kualitas komposisi tanah, air, dan tanaman yang berada di wilayah tersebut. Keberadaan pabrik semen mengakibatkan adanya kandungan bahan limbah  di tanah, air, dan bahkan pada tanaman dimana letak pabrik semen berada. Limbah menyebabkan proses biomagnifikasi yaitu  proses perpindahan polutan  yang mengikuti arah dari rantai makanan yang akhirnya akan terakumulasi pada rantai makanan paling atas yaitu manusia. Buangan pabrik yang mengalir ke sungai maupun laut mempengaruhi rantai makanan di wilayah tersebut. Dampaknya pun tidak hanya terurai secara lokal, tetapi bersifat lintas teritorial, mengikuti perpindahan rantai makanan.

Di Sub-sahara Afrika, penelitian lain (Adeyanju dan Okeke 2019) mengindikasikan bahwa debu semen menyebabkan morbiditas pada manusia atau rentan terhadap penyakit, kerusakan kronis pada paru-paru, kelahiran prematur, psikastenia (gangguan jiwa), gangguan endokrin, dan infertilitas. Tingkat keparahannya tergantung pada durasi paparan, konsentrasi dan unsur unsur debu, dan sensitivitas individu. Mereka yang terkena dampak utama adalah buruh kasar di pabrik. Pada tumbuhan, dampak yang dapat diobservasi adalah pertumbuhan terhambat, daun yang kusut, klorosis (warna daun menguning atau pucat), dan akhirnya mati, yang akan mengurangi hasil produksi pertanian jangka panjang. Artinya, wilayah ini dan sekitarnya sulit dikembangkan untuk budidaya pertanian.

Selain itu, pertambangan dimanapun jarang memperhitungkan harga jasa lingkungan. Tidak usah rumit, air adalah contoh mudahnya yang merupakan kebutuhan semua makhluk hidup. Pabrik semen dan tambang batu gamping membutuhkan air rata-rata 300 liter per ton klinker untuk pabrik yang sangat efisien dan 500 liter per ton kliner untuk pabrik yang boros. Ambil lah rata-rata 400 liter per ton kliner. Kebutuhan air per orang di pedesaan menurut studi WHO rata-rata 60 liter per hari. Sehingga 400 liter kebutuhan tambang semen merupakan jatah dari 6-7 orang per hari. Jika suatu pabrik memproduksi 1 juta ton klinker saja, maka kebutuhan airnya 1jt x 400 liter adalah 400.000.000 liter air. jumlah tersebut jika dibagi dengan jatah air per orang maka dapat memenuhi kebutuhan 6.6 juta jiwa.

Kalau diperhitungkan dalam harga pasar, kalkulasi kasarnya dapat diperhitungkan berdasarkan harga air kemasan. Jika 1.5 liter air saat ini dihargai Rp. 5000 saja maka per orang membutuhkan 40 botol tiap hari. Jumlah itu kalau dikonversi dalam kebutuhan harian, 40×5000 adalah Rp. 200.000 per harinya. Perhitungan yang sama jika dikenakan untuk kebutuhan perusahaan maka dapat dijabarkan sebagai berikut. Kebutuhan tambang dan pabrik sebesar 400 juta liter jika dikonversi ke botol kemasan 1.5 liter menjadi sebanyak 266.666.666,6 botol. Jumlah itu jika dikalikan dengan harga Rp. 5000 per botol, nilainya bisa mencapai lebih dari Rp. 1.3 triliun. Meski perhitungan seperti ini sudah cukup banyak, misalnya pada kasus Kendeng, hampir tidak pernah ditemukan perusahaan tambang memasukan biaya demikian ini dalam ongkos produksi mereka. Karena itu, soal air selalu jadi masalah, apalagi untuk kawasan karst di Manggarai Utara permukaan rupa buminya relatif kering.

Tawaran Teknologi

Teknologi sebetulnya sudah mengintervensi untuk mengurangi dampak buruk pencemaran. Dalam konteks investasi Manggarai Timur, Singa Merah memang menggarisbawahi isu lingkungan, sebagai salah satu prioritasnya. Tetapi sejauh yang bisa ditelusuri, hanya ada dua perusahaan semen asal Tiongkok yang terdaftar dalam inisiatif standar keberlanjutan global saat ini yakni CNBM dan West China Cement. Keduanya mengikuti GCCA Sustainability Charter yang berkomitmen pada pengurangan emisi, polusi, efisiensi air, patuh pada prinsip-prinsip hak asasi manusia, dan seterusnya. Raksasa-raksasa semen Tiongkok yang menguasai pasar dunia seperti TOP 11-20, Anhui Conch, Jidong, China Resources, Sinoma, Tianrui, dan Shanshui berada di luar inisiatif ini.

Meski demikian, perusahaan-perusahaan ini, termasuk Singa Merah kerap mengklaim mempunyai teknologi untuk mengurangi emisi. Sejarah perilaku mereka, sayangnya, tak semanis klaim itu. Banyak studi telah mempublikasikan laporan bahwa kinerja lingkungan sebagian besar perusahaan-perusahaan tersebut tergolong berkualitas rendah, bahkan di negaranya sendiri (Shen et al 2017, Environmental Performance Index 2018, Huang and Chang 2019). Akibat ulah mereka pula, Tiongkok menjadi salah satu dari 10 negara dengan pencemaran terburuk di dunia, bersaing di papan buncit dengan India, Bangladesh dan Nepal (Chan 2006, Environmental Performance Index 2018). Diduga kuat, ketatnya standar lingkungan dari Pemerintah Tiongkok belakangan ini, memotivasi perusahaan-perusahaan tersebut untuk berekspansi ke negara-negara yang sumber bahan bakunya masih kaya dan standar lingkungannya masih rendah (Shen et al 2017). Karena itu, teknologi Tiongkok, kalaupun telah berkembang saat ini, belumlah dikatakan mapan untuk bersaing head to head dengan teknologi-teknologi bersih yang ditawarkan pesaing mereka dari barat.

Dampak Lanjutan

Dampak buruk bagi kesehatan masyarakat setempat berimplikasi pada ekonomi biaya tinggi. Selain dari kemungkinan peningkatan kebutuhan fiskal daerah untuk sektor kesehatan, dampak buruk terhadap kesehatan juga mempengaruhi jumlah waktu produktif masyarakat setempat karena banyak waktu yang hilang akibat sakit. Potensi nilai ekonomi yang hilang ini seharusnya dapat diganti dengan nilai ekonomi yang diciptakan oleh aktivitas produksi pabrik semen. Namun, kondisi komposisi tenaga kerja profesional lokal yang terbatas, maka spillover positif dari aktivitas pabrik semen belum tentu dapat menutup biaya spillover negatif dari kegiatan pabrik semen tersebut.

Lapangan kerja akan berdampak jangka panjang jika Manggarai Timur menyiapkan sumber daya manusia yang terampil dan berpendidikan memadai untuk menduduki posisi-posisi strategis di perusahaan. Lebih dari itu, Manggarai Timur harus memiliki deposit mineral dan batuan yang cukup untuk menampung tenaga kerja jangka panjang. Namun, data pertambangan menunjukan, sumber-sumber deposit mineral di wilayah ini, kalaupun ada, jumlahnya terbatas dan sebagian besar beririsan dengan hunian masyarakat, lahan pertanian aktif, dan wilayah sungai. Jika wilayah-wilayah ini dibuka, akan terjadi perpindahan masal sejumlah kampung dan pergantian secara sistematis ekonomi pertanian menuju tambang. Karena itu, sulit bagi Manggarai Timur untuk menjustifikasi secara empirik dan perencanaan, bahwa ekonomi kabupaten didorong berbasis tambang.

Hal ini belum memperhitungkan biaya air yang menurut profil bisnis yang beredar, akan disedot dari Wae Pesi untuk memproduksi 8 juta ton klinker. Sungai ini adalah suplai utama bagi berbagai jenis pemanfaatan air di 3 kabupaten. Sehingga perhitungan jasa air harus dipertimbangkan untuk menggantikan hak dari setiap warga dan hak jurisdiksi tiga kabupaten yang layak mendapatkan air tersebut.

Ekonomi tambang saat ini, tidak hanya di Manggarai Timur, nampaknya dilakukan sporadis mengikuti investor yang berminat. Sehingga pilihan itu dibuat tanpa persiapan dan perhitungan implikasi yang matang. Selain bersilang sengkarut dengan wilayah ekologis penting, tambang saat ini justru menimbulkan risiko balik yang serius bagi kabupaten, yakni polusi dan biaya ekologi dan kesehatan jangka panjang. Keduanya belum diperhitungkan dalam risiko baik bagi warga terkena dampak langsung maupun bagi kabupaten. Karena itu, amat jelas disini skenario tersebut lebih banyak mudarat daripada manfaatnya.

Tulisan dimuat di Florespos: http://florespos.co.id/berita/detail/pabrik-semen-dan-risiko-ekologis-jangka-panjang