“Kating Poti” dan Wabah Ketakutan Palsu

Orang-orangan sawah. Bukan sungguhan. Tapi hanya “antul” atau “pantulan”. Tujuannya hanya bikin bergidik, agar sasaran lari terbirit-birit sebelum sempat menikmati santapan. Itulah “kating poti”. “Kating”: horor. “Poti”: setan/hantu. Meski dapat diterjemahkan sebagai horor setan. Maknanya tidak persis demikian. Tapi suatu frasa majemuk yang punya makna konotatif. Ialah suatu stempel ketakutan palsu yang dalam tradisi pertanian Orang Manggarai disematkan pada segala jenis pajangan untuk menakut-nakuti, khususnya burung pipit dan sejenisnya di sawah. Meski hanya semu, kadang-kadang jebakan orang-orangan sawah efektif. Burung pipit kabur terbirit-birit dibuatnya.

Faktanya, barang palsu tidak mematikan. Meski menakutkan, yang berbahaya bukan “kating poti” tetapi justru ketakutan itu sendiri yang lebih membunuh. Coba andaikan ketakutan itu terjadi pada manusia. Lari tunggang langgang tidak lihat jurang. Bisa celaka.

Karena itu, tidak ada gunanya mengorangkan orang-orangan sawah. Toh hanya bayangan. Pipit bertengger disitu pun, nyantai sembari boker. Gak ngaruh. Yang penting jangan kuatir dan takut. Dia hanya mainan yang dikemas seolah-olah sungguhan. Padahal palsu. Fake. Tipuan belaka. Mau apa?

Namun, orang-orangan seringkali menakutkan. Acapkali mereka dibuat sedemikian rupa mirip sungguhan. Patut diakui, dalang “kating poti” hebat karena mampu membungkus kepalsuan itu jadi nyata. Mereka ditugasi kinerja untuk mempabrik ketakutan. Jika efek itu terjadi, mereka mendapat legitimasi. Karena itu, keberadaannya hanya diakui jika dan hanya jika menciptakan efek ketakutan. Tanpa efek itu legitimasinya melempem. Tidak ada faedahnya. Tidak lebih dari seonggok obyek yang akan segera hangus jadi umpan api.

Politik “Kating Poti”

“Kating poti” dapat dipinjam sebagai metafor untuk mereka yang punya peranan mengerahkan efek ketakutan palsu. Mereka ditugasi menggertak, menghardik, bisa juga mengancam. Tetapi hanya sampai disitu. Tidak lebih. Meski demikian, efeknya juga setimpal. Banyak lawan tidak berani mendekat. Kuatir kalau-kalau orang-orangan palsu itu menghajar dengan pukulan sungguhan. Kadang lebih dari itu. Lawan menjauh dan tidak berani melakukan apa-apa.

Akibat dari ketakutan palsu amat jelas. Sang dalang bisa menikmati semua santapan tanpa curiga bakal diganggu. Sepi tanpa kritik. Ia bisa menyabet semaunya jatah semua orang tanpa hambatan. Garong pun dapat dilakukan dengan mudah. Tidak perlu kuatir ada yang berteriak atau mampir lewat meski sebentar.

Penguasa yang korup atau mereka yang mau meraup untung dengan menghalalkan semua cara seringkali menggunakan “kating poti” sebagai strategi. Untuk meredam protes maupun curiga, ketakutan-ketakutan disebar, kecemasan dipromosikan. Ujung-ujungnya adalah dalang utamanya memanen keuntungan.

Ketakutan terhadap “kating poti” adalah jenis kekuatiran palsu. Sayangnya efek kekuatiran ini tidak palsu. Akibat surplus ketakutan, dalang kekuasaan maupun modal menikmati perbendaharaan kekuasaan dan benefit demikian mewah. Keuntungan itu demikian besar. Untuk menjaga ritme keuntungan maka teror ketakutan palsu harus dipelihara. Bila perlu dipropaganda. Kemasan ketakutan didandan sejauh-jauhnya dengan mengekspos kengerian terdalam pada tiap manusia, yakni kematian. Meski semua orang akan mati, tetap saja teror itu membawa dampak yang menggegerkan.

Takut Virus

Ketakutan palsu muncul dalam berbagai bentuk, bukan khas pelaku bursa politik. Bentuk lain yang paling jelas di depan mata adalah teror pandemi. Ketika takut mati membombardir psikis setiap orang, kritik demikian sepi. Tidak ada yang protes. Meski penanganan yang dianjurkan nampak konyol, kampanye takut mati demikian efektif. Lucu. Semua orang tiba-tiba menjadi astronot berbiaya mahal. Lebih konyol lagi, suami dan istri tidak boleh boncengan, meski di rumah mesra seranjang. Solidaritas hampir tidak beda dengan anti-sosial. Misalnya, orang terkapar di jalan, dibiarkan saja. Bahkan saudara serumah bersin, segera dijauhi. Takut tertular.

Apakah relasi seperti itu yang kita dambakan sebagai komunitas manusia. Bukankan itu semua bertentangan dengan semua standar nilai solidaritas yang diwariskan turun temurun. Homo sapiens awal pun berjuang berdampingan satu sama lain untuk bertahan di padang-padang perburuan. Manusia jaman teknologi yang bertumbuh dalam kerja sama global justru sebaliknya. Jauh dari ekspresi peradaban manusia, perilaku sedemikian itu lebih layak jadi komedi daripada peristiwa nyata.

Perlu ditekankan bahwa mitigasi penyakit memang perlu. Gaya penolakan seperti Jerinx sama sekali tidak menolong. Bahkan konyol. Bagaimanapun juga APD dan perilaku sederhana seperti cuci tangan tentu tetap perlu. Ada atau tidak corona,  cuci tangan adalah perilaku hidup sehat. Namun patut disayangkan bahwa semua perilaku itu diterima berlebihan ibarat berhala. Seolah-olah cuci tangan adalah segala-galanya. Tidak ada wacana tanding yang membalikkan logika ketakutan menjadi kegairahan untuk hidup. Bahkan prinsip-prinsip lama dalam kesehatan seperti mencegah lebih dianjurkan daripada mengobati, tiba-tiba lenyap. Semua orang berpikir untuk pakai masker, beli disinfektan, beli face shield, dan seterusnya.

Ditutup oleh gemuruh ketakutan, sedikit sekali orang yang mewarnai publik dengan penuturan cara hidup sehat. Makan sehat, olahraga teratur, tidak stres, cegah ketakutan, memaksimalkan kebaikan, menghilangkan prasangka, berbagi, dan energi positif positif lainnya, semuanya cenderung diabaikan. Bahkan ada kecenderungan seolah-olah itu semua tidak penting. Tapi justru disitu pula celah yang harusnya diperiksa lebih jauh. Kalau memang tidak penting, kenapa banyak orang membawa virus (bahasa kerennya carrier) tapi tidak sakit. Disebutkan pula bahwa orang-orang tertentu yang mempunyai sejarah sakit tertentu yang terpapar sangat efektif. Sisanya aman-aman saja.

Jauh dari soal virus yang tidak bisa dipantau itu, yang lebih mengerikan adalah biaya tambahan. Bagi orang susah, pengeluaran membeli APD lebih mematikan daripada kematian akibat virus itu sendiri. Meski masalah itu disadari, sedikit sekali sorotan pada industri APD yang demikian merajalela menjerat dompet orang hingga kempes tak tersisa. Di saat-saat ini, industri demikian ini nyaris tanpa kontrol. Celakanya, dalam prinsip kapital industri bergerak mengikuti logika keuntungan. Dia berkembang biak dalam berbagai rupa. Dari APD, jadilah kalung. Minyak ini dan itu. Harganya pun mengikuti prinsip klasik supply and demand. Makin dibutuhkan, makin mahal pula harganya. Publik dikeruk untuk kesia-siaan. Jika sudah pada level ini, hanya menunggu waktu saja untuk mengubah fondasi ekonomi. Dari ekonomi yang berbasis stabilitas menjadi ekonomi yang berbasis ketakutan, goncangan teror, dan ancaman yang terus-menerus. Disini, hanya industri yang jadi pemenang. Sisanya orang kalah.