Kota Mauk !!

Siapa bilang nama tidak punya dampak. Beberapa nama lokal atau bahasa lokal amat mengganggu untuk sebagian orang. Tidak aneh untuk bahasa yang satu, tapi amat seronok atau jorok menurut bahasa yang lain. Kekayaan relasi dalam keberagaman persis disitu. Jika diucap begitu saja bikin dongkol. Tetapi kalau ditempatkan dalam konteks, tentu akan bikin harimu tersenyum lebar.

Kota Mauk adalah contohnya. Berlokasi di Tangerang, kota ini masuk daerah industri. Banyak pendatang menyerbu kesana. Selain harga kos masih terjangkau, biaya hidup di tempat itu masih terhitung murah dibandingkan daerah lain. Tak ayal, banyak orang ambil kontrak disana. Tidak ketinggalan pula perantau asal Manggarai.

Mauk, barangkali suatu memori penting dalam sejarah etnis Tionghoa. Tetapi buat Orang Manggarai harus pikir ulang. Dalam Bahasa Manggarai, kata itu berarti amat jorok. Sama dengan kue pukis serta sejenisnya. Hanya sebuah kata sih. Tapi yang namanya sebut bagian “tertentu” itu, tetap saja bikin sedeng. Jangan sendengkan telingamu. Sebab bisa keluar laknat dan sumpah serapah. Hahahaha…

Meski awalnya tidak terlalu yakin dengan pilihan ke tempat itu, karena alasan harga murah, banyak enu* manggarai ikut pula kontrak di tempat ini. Tidak sedikit yang dapat kerja disitu. Bertahun-tahun mereka ngontrak, tanpa diganggu. Tetapi itu semua bukan tanpa rasa malu (ritak) tiap kali ditanya oleh sesama perantau manggarai. Misalnya, “enu, tinggal dimana?”. Kalau sebatas alamat kos, mungkin cukup. Tetapi ada saja orang yang mau tahu sampai nama kota, desa dan kecamatan. Naas memang. Nama yang bikin tutup mulut itu terpaksa terucap. Tamat sudah!!

Alhasil belakangan ini, banyak enu manggarai yang migrasi dari tempat itu. Mereka makin tidak tahan karena tiap sore di perhentian bus atau angkot selalu kena “dowek” dari Sopir Angkot. “Mauk, mbakkk..! Ayo masuk”. Kadang-kadang sopir-sopir itu dengan jari telunjuk agak naik dan alis mata sedikit diangkat, “Mauk.., masih muat dua”. Mereka tidak tahu arti kata bodok itu. Tapi enu-enu ini gerah. “Ta…nana maram kos deu aaa, yang penting jangan tiap sore kena tindek dari jari telunjuk sopir angkot..”, kata mereka. Demikianlah, seorang enu sedang tunggu taxi di pinggir jalan untuk pindah kos. “Mauk mbak…mau pake? Murah aja..Kebetulan lagi sepi..” Dalam hati si enu menggerutu, “murah sempula** de hau..***” Hahahaha…

Istilah manggarai

*enu: mbak

**sempula: goblok

***de hau: punyamu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s