Mengapa Kita Harus Kurangi Makan Daging

Setiap kita bukan hanya warga lokal, tapi juga nasional dan global. Sebagai warga lokal dan barangkali nasional, ada hal-hal sepele untuk menjalankan panggilan itu. Misalnya, tidak semena-mena membuang puntung rokok. Ratusan ribu hektar kebakaran hutan acapkali berawal dari jentikan ibu jari puntung rokok. Demikian halnya dengan plastik, bungkus ini dan itu  dan seterusnya yang tidak hanya sulit terurai, tetapi juga tersangka utama banjir hebat di kota-kota besar.

Nah..dalam status sebagai warga planet, setiap individu umat manusia diminta bertanggung jawab terhadap planet bumi. Salah satu yang paling mungkin dilakukan adalah mengontrol menu makan. Setiap orang dapat melakukannya karena jenis makanan berada dalam jangkauan tangan, bukan hasil diskusi politik berbusa-busa di luar sana. Menu makan jelas ditentukan oleh alasan subyektif seperti selera, kesehatan atau isi dompet yang terbatas. Karena itu pertimbangan-pertimbangannya personal. Alasan ini pula, di samping peluangnya untuk berhasil juga menjadi soal utama karena menyangkut keleluasaan atau kebebasan individu.  

Lalu apa urusannya makanan dengan kelangsungan bumi?

Dalam tahun-tahun belakangan ini setiap orang pasti mengalami sendiri perubahan lingkungan yang signifikan. Contohnya iklim mikro. Banyak tempat yang dulunya dingin sekarang berubah hangat. Di banyak daerah, makin rutin dialami bencana akibat cuaca ekstrim. Belakangan ini, muncul pula virus-virus baru yang mendadak keluar dari kepompong mereka akibat lonjakan temperatur yang berlangsung permanen. Di sektor pertanian, hama mengganas. Selain karena secara perlahan musuh petani itu makin lentur dengan insektisida yang disemprotkan puluhan tahun, rombongan biang baru pun muncul yang diindikasikan sebagai akibat perubahan iklim.

Perubahan iklim ini terjadi akibat meningkatnya Gas Rumah Kaca (GRK) dalam atmosfer bumi. Gas-gas ini  cukup banyak. Selain karbondioksida (CO2) yang sering dikutip oleh berita lingkungan, ada juga dinitrogen oksida (N2O) dan metana (CH4). Untuk mempermudah hitungan emisi GRK, para pakar mengkonversi  semua gas ini dalam satu unit hitungan yakni karbondioksida.

Disebut gas rumah kaca karena gas-gas ini terperangkap dalam atmosfer bumi. Penjelasan mudahnya adalah dari awal ciptaan atmosfer berfungsi sebagai selimut dimana di dalamnya terdapat gas-gas ini yang tidak dilepas keluar angkasa, tetapi dipantulkan kembali oleh atmosfer ke bumi mirip cara kerja rumah kaca. Peran utama mereka adalah menghangatkan suhu bumi. Karena itu, dalam ukuran proporsional, gas-gas ini secara alamiah memberi manfaat besar bagi kehidupan bumi. Tanpa GRK, suhu rata-rata bumi bisa melorot jauh sampai -180C. Tidak ada manusia yang dapat bertahan dalam suhu konstan seperti itu.  

Namun sejak revolusi industri 1750, konsentrasi GRK dalam atmosfer bumi meningkat drastis sebesar 45 %. Dari angka 280 ppm (part per million) pada 1750 menjadi 415 ppm pada 2019. Para ahli menyimpulkan peningkatan tersebut terjadi akibat ulah manusia.

Ulah paling dominan berasal dari konsumsi bahan bakar fosil seperti minyak bumi, batu bara dan gas alam. Selama ini, tiga energi utama ini menopang 80 % energi dunia yang digunakan untuk berbagai kepentingan pembangunan. Meskipun mendatangkan manfaat ekonomi, ongkos lingkungannya juga amat besar. Pada 2018, penggunaan fosil fuel menyumbang 89 % dari emisi global. Sumbangan terbesar berasal dari batu bara yang mencapai 40 % dari total emisi global. Di samping itu, penggunaan batu bara juga mengemisi merkuri yang sangat berbahaya bagi kesehatan.

Solusi dari bahan bakar kotor tersebut adalah energi terbarukan (renewable energy). Berbagai inisiatif revitalisasi industri dan pencarian energi terbarukan masih terus berlangsung. Tantangan utamanya adalah menemukan teknologi ramah lingkungan dan ramah biaya. Dalam kasus di Amerika, misalnya, pakar energi Philip Rossetti menyebutkan investasi sebesar 5,7 Triliyun USD diperlukan untuk membuat suplai dan penyimpanan energi di negara itu 100 % terbarukan. Angka itu lebih besar dari APBD setahun negeri Paman Sam yang tahun ini dipatok sebesar 4,79 Triliyun USD. Selain berbiaya mahal, menghijaukan industri juga bertarung dengan konfigurasi politik yang pelik. Perusahaan-perusahaan minyak raksasa adalah pelobi politik yang handal. Mereka tidak menerima begitu saja keputusan politik yang mengganggu dapur dan kelangsungan industri. Karena itu, kelompok-kelompok ini selalu merecoki kampanye politik. Seringkali sukses. Contohnya, kasus Trump saat ini.

Sulitnya berurusan dengan fosil fuel tidak menghentikan alternatif lain. Yang dipandang relatif lebih mudah adalah pertanian dan peternakan. Disini isu menu makan amat relevan. Pada 2019, 107 ilmuwan yang tergabung dalam IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) menemukan bahwa budaya kuliner global saat ini membuang terlalu banyak makanan. Emisi global yang diduga terkait dengan penghambur-hamburan makanan mulai dari posesnya di lapangan hingga ke dapur mencapai 8-10 %. Tidak hanya boros, perilaku itu juga merusak planet bumi.

Selain itu, produksi makanan massal saat ini mengkonsumsi banyak energi dan boros karbon karena melibatkan mata rantai panjang. Ilmuwan memprediksi 26 % emisi global disumbang oleh proses menghasilkan makanan dan sampah yang ditinggalkannya. Lebih dari separuh persentase itu disumbang oleh produk hewani, terutama sapi dan domba. Dalam laporan BBC (2019) disebutkan bahwa peternakan dianggap bertanggung jawab hingga 14% dari semua emisi rumah kaca dari aktivitas manusia. Laporan ini sejalan dengan sejumlah temuan ilmiah, antara lain dari Universitas Michigan. Pada diagram di atas disebutkan bahwa dari 10-30 % sumbangsih emisi makanan terhadap total emisi global, kontribusi terbesar berasal dari daging (56 %).

Di samping karbon dioksida, pertanian menghasilkan dua gas lain dalam jumlah besar: dinitrogen oksida dari penambahan pupuk dan limbah ke tanah, dan metana. Yang terakhir ini sebagian besar dikeluarkan oleh hewan pemamah biak – terutama domba dan sapi – dan menyumbang lebih dari sepertiga dari total emisi pertanian. Rata-rata hewan pemamah biak menghasilkan 250-500 liter metana sehari. Gas metana adalah komponen utama pada gas alam yang menghasilkan panas per satuan massa yang lebih besar dari hidrokarbon lainnya. Karena itu, penumpukan gas ini di atmosfer bumi meningkatkan dampak gas rumah kaca berupa pemanasan global.

Studi-studi ilmiah ini tidak hanya bukti gamblang yang bikin mata melotot. Lebih dari itu mengajak kita mengambilnya sebagai tindakan personal. Agar menjadi bagian dari mereka yang berkontribusi pada pengurangan 14 % emisi global. Memang kelihatan kecil. Tapi melakukan hal kecil itu juga tidak mudah. Apalagi semua yang disebutkan itu enak buat lidah dan nikmat di kerongkongan. Daripada omdo cinta lingkungan, barangkali baik dimulai dari piring sendiri. Pada akhirnya, kita turut menyelamatkan planet bumi dengan mengambil sebagian beban yang akan dipikul generasi berikut, anak dan cucu dari generasi saat ini.

Amat relevan kiranya pesan-pesan bijak di Kitab Suci berbagai agama agar tidak rakus makan. Kalau berlebih, bisa berbagi. Karena membuang makanan bikin runyam ibu bumi. Kurangi makan daging. Tidak hanya itu baik buat tubuh, tetapi sehat juga buat bumi.