Mengenang Pak De Sridadi

Tinggi, kekar, dan tegap. Melihatnya sekilas bisa segera kita pastikan, ia adalah pekerja keras yang menguras tenaganya sebesar-besarnya agar bumi bisa dituai dan kehidupan tumbuh dan berkembang. Pak De Sridadi, demikian kami memanggilnya, adalah petani ulet yang tak lelah menyambangi tanah dan air dan mempercayakan disana kebajikan pada dunia tempatnya bertumbuh sebagai Pujian akan Allah.

Keuletan dan ketangguhan yang sama pula ia tujukan pada imannya akan Kristus. Ketika Khatolik ditawarkan sebagai pilihan keselamatan pasca gejolak politik 1965, ia adalah tokoh terdepan di kampungnya untuk mewartakan itu. Seutas rosario besar berayutan di leher Pak De Sridadi untuk mengundang orang, bahwa Kristus tidak lain adalah jalan keselamatan itu sendiri. Petani sekaligus pewarta ternyata dua hal yang secara mudah bertemu dalam diri Pak De. Itu semua ditopang keuletan, konsistensi, sekaligus kebajikan. Karena itu pula, dua anaknya meneruskan pewartaan itu sebagai Imam. Berkah Allah tidak jatuh jauh dari pohon.

Secara pribadi, pertemuan dengan Pak De Sridadi tidak mudah dilupakan. Meski hanya beberapa kali kami berjumpa, senyumnya yang lebar meyakinkan saya, ia adalah orang baik. Dia membuka jabatan tangannya dengan cengkraman erat dan senyum lebar. Menyapa dengan amat sangat ramah, ditimpali suaranya yang halus seperti semilir angin yang meniup hamparan sawah, tempatnya bergulat tiap hari.

Orang baik itu pula yang menyirami kepala saya dalam acara siraman pernikahan kami beberapa tahun silam. Saya bersyukur dia menjadi salah satu di antaranya sebagai pengingat pada saya dan istri akan cinta dan kesetiaan. Tanpa ia berkata pun, saya menyadari siramannya itu adalah ekspresi kebajikannya. Puji Tuhan sudah mempertemukan kami.

Dalam perjalanan waktu, kami bertemu kembali di rumahnya setelah didahului oleh suatu pelayanan kesehatan di Granting Klaten; suatu kegiatan yang bertopang pada ajaran Kristus. Ketekunan dan kebaikannya pula yang saya yakini mempertemukan kami di tempat itu. Pak Anton yang mengajaknya berdialog tegas mengatakan “Orang tua ini adalah orang baik..kebaikan itu pula yang membuatnya hampir tidak mengenal sakit”.

Pak De, Selamat Jalan…

Engkau dipanggil sang khalik karena memang waktunya.

Syukur pada Tuhan bahwa kami pernah mengenalmu

Selamat bertamasya di kehidupan kekal.

Ada kata-kata bijak bilang “seutas senyum tulus di bibirmu adalah cinta sedalam samudera…”

Engkau akan terus kami kenang sebagai wajah kasih dalam senyummu yang lebar sedalam lautan..

Jakarta 31 Mei 2021

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s