Dimulai dari Piring (2)

Di masa pandemi ini, seluruh dunia cemas tidak saja pada virus yang sekarang berkecamuk, tetapi pada ramalan bahwa akan makin banyak jenis virus dan bakteri baru yang tidak bakal sanggup diatasi manusia. Dunia memang makin berubah, pertama-tama bukan karena faktor-faktor alamiah tetapi karena ulah manusia. Karenanya, para ahli menyebut jaman ini sebagai era antroposen, yakni periode apokaliptik bumi dimana faktor-faktor penentu kehidupan berubah bukan karena kehendak alamiah bumi itu sendiri tetapi akibat intervensi manusia.

Ada pepatah lama yang patut dikemukakan berulang-ulang pada jaman ini. “Lain padang lain belalang lain lubuk lain ikannya”. Kemanapun engkau pergi, dimanapun engkau berada, di setiap tempat ada adat dan tata kramanya. Karena itu, “dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung..”

Tahu diri alias jangan sombong dan serakah dalam berelasi, apalagi di negeri orang, seringkali diutarakan sebagai makna dari dua pepatah legendaris ini. Namun, bukan tanpa alasan pepatah ini mengambil metafor alam. Leluhur yang bijak mengutarakan itu dalam pergulatan mereka dengan relasi dunia sosial sekaligus lingkungan tempat ia dibesarkan. Mereka paham sepenuhnya, tanda-tanda alam yang digunakan pada kata, tidak hanya bermakna sosial antara manusia dan manusia. Tetapi juga relasi ekologis. Antara manusia dan alam, bahkan manusia dengan Pencipta. Karena itu, ketika nasihat pada pepatah itu dilanggar maka bukan hanya relasi sosial yang babak belur, tetapi juga relasi ekologis.

Asal muasal dari refleksi ini berawal dari pertanyaan-pertanyaan berikut. Pernahkah kita berpikir, kenapa kita lahir, dibesarkan kemudian bertumbuh di tempat dimana kita ada saat ini, dengan iklim yang panas, matahari sepanjang tahun, makanan utama nasi, jagung, dan seterusnya? Kenapa kita tidak lahir sebagai orang Inggris yang makan roti dan susu?

Ilmu biologi mengajarkan anak-anak sejak dari Sekolah Dasar bahwa apa yang kita makan membentuk diri biologis yang menyusun sel, rangka, otot, otak, dan semua indera yang kita miliki. Karena itu, hidup dan besar di suatu tempat berarti tulang belulang, darah dan daging seseorang juga dibentuk oleh tanah itu, bumi tempatnya berpijak. Relasi ekologis kita dibina dari sana yang berwujud pada tubuh dengan kompleksitas senyawa pembentuknya. Itulah relasi ekstrinsik (ekologis) yang menjelma menjadi komponen intrinsik (biologis).

Dimensi ekstrinsik yakni alam itu sendiri, jujur apa adanya. Ia tidak membesarkan suatu kehidupan yang secara asali tidak mendukung kehidupan itu. Misalnya, saya orang Indonesia dihadirkan di tanah tropis karena alasan asali saya memang tepat di iklim tropis. Karena itu, “lain padang lain belalang, lain lubuk lain ikannya” adalah ekspresi ekologis ekstrinsik sekaligus intrinsik bahwa kita lahir, dibesarkan dan bertumbuh di suatu tempat karena pada alam setempat itulah relasi kehidupan kita berkembang. Alam percaya bahwa pada ekosistem itulah logaritma biologis akan menetapkan perkembangan tubuh dan apa yang cocok untuk orang itu, sekaligus cocok dalam relasinya dengan alam setempat. Termasuk disana adalah apa yang layak untuk tubuh hingga tampilan fisik yang mengasosiasikan orang itu dengan tempat asalnya (fenotipe). Karena itu, ketika berhadapan dengan orang tertentu kita dapat menduga-duga asal muasalnya. Dia mewakili alam tempatnya bertumbuh.

Namun demikian, tubuh juga elastis menerima perubahan dan perbedaan. Daya lenting adalah bagian dari adaptasi yang telah menjadi bagian dari cara kehidupan berkembang. Dalam kasus manusia, migrasi dan akhirnya globalisasi membuat batas antarkebudayaan dan juga batas biologis menjadi lentur. Di antara mereka relasi sosial berjalan, dipadu dengan inovasi dan teknologi untuk menghasilkan perubahan yang mungkin diharapkan. Dalam perkembangannya, batasan adaptasi yang tadinya lentur itu berubah jadi lumer. Ukuran sana serta merta dianggap cocok disini. Tidak ada lagi filter mengikuti hukum adaptasi; yakni bahwa yang cocoklah yang digunakan. Sementara yang tidak, jangan dipakai. Dus, terjadilah globalisasi pada semua aspek. Tidak hanya sistem sosial, sikap, perilaku. Tetapi juga selera makan.

Hari-hari ini, orang yang nongkrong di sudut satu kota tropis, tidak lahir dan besar di Italia bisa memesan keju mozarella yang diperah dari sapi-sapi pegunungan selatan Italia, hanya dalam sekejap. Cukup dengan menjentikkan jari tangan pada pelayan restoran. Abrakadabra! Keju mozarella siap dilahap.

Pasar menyadari perkembangan ini, maka berkembangbiaklah industrialisasi makanan. Tidak cukup dari ekosistem sendiri. Petualang lidah meronta kemana-mana mencari menu yang berbeda dari hari ke hari. Dalam satu piring makanan, menunya bisa berasal dari banyak negara. Ikan salmon dari Norwegia, kacang ijo dari Brazil, domba panggang dari New Zealand, minyak zaitun dari Turki, bawang bombay dari India, semuanya ada dalam satu piring.

Apakah ini tidak ada dampaknya?

Tidak banyak orang yang mengajukan pertanyaan ini. Bahkan mungkin tidak ada yang berpikir soal dampak negatif. Umumnya, mereka yang mengambil peran sebagai intelektual publik memandang kebebasan memilih makanan sebagai sukses besar globalisasi yang harus dirayakan. Bahwa kehidupan dewasa ini lebih mudah untuk menjawab pertanyaan “mau makan apa” dibandingkan dengan era ketika leluhur kita hanya berhadapan dengan talas rebus dan jagung bakar. Masa itu, dunia demikian sempit dan “miskin”. Tidak ada pilihan menu bagi orang-orang tua yang menyedihkan itu, selain mengambil dari kebun dan halaman mereka sendiri.

Kalaupun ada sikap kritis pada globalisasi, analisis umumnya diarahkan pada soal-soal eksternal seperti sistem politik, ekonomi, perubahan sosial, dan barangkali dampak lingkungan. Sejauh-jauhnya analisis pada sikap subyek adalah terkait pada keengganan, resistensi, atau bahkan akseptansi seseorang pada perubahan nilai yang dampaknya adalah psikologis dan politikal. Dalam hal ini, rasa cemburu dari kelompok yang rendah akses pada dunia yang kosmopolitan terakumulasi menjadi sikap politik (psikologi politik) resisten seperti Trumpism atau populisme. Mereka menemukan bentuk ekstrimnya pada radikalisme. Karena itu, dunia demokrasi demikian takut pada gerakan ini sampai-sampai banyak pimpinan negara berusaha mencari cara menggali kembali semangat nasionalisme awal abad 20 yang telah lapuk di era teknologi nano saat ini. Barangkali kecemasan itu benar. Tetapi tidak ada yang tahu persis, kapan dan dimana. Kita hanya bisa menduga-duga bahwa dunia politik dan sistem sosial terus berubah dan tidak ada yang tahu kemana perginya.

Namun soal biologis demikian nyata karena terkait langsung dengan kesehatan. Kita tahu persis, jika wajah kesehatan publik masih terus seperti ini, masa depan dunia sudah pasti suram. Itu dimulai dari diri seseorang. Bahwa ketika seseorang didiagnosa cancer, lupus, diabetes, esok dan lusa sekurang-kurangnya dompetnya sendiri, harta istri dan anak-anaknya akan terkuras untuk biaya pengobatan. Ironisnya, semua obat yang rupa macam jenisnya tidak pula menjamin akan datang jam dan detiknya untuk sembuh. Belum lagi soal psikis yang hampir pasti ikut tergoncang.

Di samping itu, jelas dan gamblang bahwa proyek globalisasi makanan diikuti dengan kenyataan epidemik hingga pandemik. Tiap waktu ada saja jenis penyakit baru yang belum ketemu obatnya. Bukan saja atas dasar laporan ilmiah, tiap hari amat mudah kita menemukan masalah kesehatan. Misalnya, orang dengan obesitas hampir ada di setiap tempat dan waktu. Dampaknya, tentu saja tidak hanya masalah kesehatan tetapi juga sosial bahkan ekonomi.

Karena itu, ada beberapa premis spekulatif yang layak untuk dipikirkan terkait globalisasi makanan, ekologi lokal dan kesehatan tubuh.

Premis pertama, tak kenal maka tak sayang. Globalisasi makanan mengubah dan barangkali membuat tubuh disorientasi karena mengalami sesuatu yang tidak ia kenal (asing). Tadinya lokal yang bertopang pada pangan lokal dan ekosistem pendukungnya yang dikenal tubuh, sekarang berubah global yang tidak jelas muasalnya dari mana. Para ahli ekologi telah bersepakat bahwa prinsip dasar hubungan ekologis yang sehat berdiri di atas relasi saling kenal. Dalam hal ini, tubuh telah berelasi erat dengan ekologi lokal melalui pertemuan rutin yang dia alami sehari-hari. Karena itu, makanan yang masuk ke tubuh adalah jenis yang telah dikenalnya dan berelasi sehari-hari. Karena berelasi maka tubuh menerima asupan alam dari tempatnya bertumbuh sebagai suatu kesinambungan. Asupan itu membuat ia bertahan dan berkembang baik sesuai tuntutan dan panggilan bumi yang membuatnya hidup. Ini merupakan keniscayaan eksistensial ekologis. Bahwa tanpa alam lokal, tubuh biologis itu tidak ada.

Premis kedua, gangguan pada mekanisme adaptasi. Bahwa perubahan asupan pada tubuh biologis memerlukan adaptasi. Namun perubahan yang terus menerus pasti membingungkan mekanisme adaptasi. Seperti paradoks keledai buridan, terlalu banyak pilihan akhirnya mati lemas karena bingung memilih. Tiap waktu tubuh harus mengalami penataan ulang terus menerus untuk berkenalan dengan jenis makanan dari ekologi yang berbeda-beda dan terus berubah tiap waktu seiring dengan berubahnya pola makan. Hasilnya, bukan suatu bentuk tubuh baru yang gagah perkasa sakti mandraguna seperti Gatot Kaca. Tetapi suatu tubuh yang chaos, yang tidak menentu akan jadi apa. Ia tidak lagi berkembang menjadi diri yang merupakan satu kesatuan dengan bumi tempatnya berpijak tetapi tercerabut dan tercerai berai. Sel-sel pembentuknya tidak kompatibel dengan jejaring lingkungan yang lebih luas, akhirnya terbuang. Tubuh semacam itu adalah paria dalam ekosistem setempat. Wujudnya yang paling nyata adalah tubuh tersebut sakit, sehingga lebih senang berdiam di rumah sakit daripada di alam bebas.

Dengan demikian, begitu banyak jenis sakit dan penyakit hari ini jangan ditanyakan pada industri farmasi dan medis. Mulailah dengan memeriksa piringmu sendiri, dari relasimu dengan makanan. Kamu makan dari sumber yang mana? Jangan-jangan seperti dua premis di atas. Terlalu banyak keramaian di piring makan maka lalu lintas dalam tubuh pun tak terkendali. Akhirnya, relasi antara aspek pembentuk kehidupan kacau balau. Semuanya serba asing. Makanan asing, sel asing, penyakit juga asing. Itulah derajat kesehatan kita belakangan ini.

Dimuat di: https://www.lensanews.co/dimulai-dari-piring-bagian-2/

Dimulai dari Piring (1)

Small is beautiful. Sebuah frasa klasik yang diluncurkan Ekonom Inggris kelahiran Jerman, E.F. Schumacher melalui bukunya Small Is Beautiful: A Study of Economics as If People Mattered (1973), kiranya relevan untuk berbagai konteks. Dalam buku itu, Schumacher mengkritik ekonomi arus utama yang mengagungkan ekspansi raksasa dan eskalasi ekonomi skala besar, namun membawa dunia pada krisis energi dan lingkungan. Penulis itu meyakini bahwa teknologi yang simpel dan pemberdayaan ekonomi skala kecil lebih lebih bisa diandalkan untuk memberdayakan lebih banyak orang “kecil”.

Hal-hal kecil memang jarang diperbincangkan sebagai ukuran kebijakan publik atau bahkan aturan kehidupan bersama pada skala mikro. Dalam isu lingkungan hidup pun demikian. Tidak sedikit omongan kelestarian lingkungan dilakukan dengan macam-macam konsep dan pendekatannya hendak menggapai hal-hal besar. Yang kerap kita dengar, misalnya, tanam pohon 1 milyar, mengatasi masalah ozon, pengurangan emisi global, dan seterusnya. Semuanya adalah daftar target-target makro yang terekam dengan mudah dalam catatan statistik. Program pemerintah ditentukan oleh proyeksi dan catatan naik dan turunnya angka-angka itu. Para pengusungnya pun gemar dengan narasi besar. Tak jarang seabrek gelar dipajang untuk menguatkan potret diri seseorang, bahwa memang benar yang dia bicarakan itu ada gunanya.

Mungkin semua itu benar dan dalam hal tertentu perlu. Apalagi narasi pengetahuan kita dalam berbagai metodologi dan sistem ilmu membutuhkan mayoritas untuk dapat dikatakan sebagai bukti. Soal kuantitas. Tetapi ada hal-hal kecil yang sederhana dan jarang dibahas dalam pembicaraan lingkungan hidup. Bahkan dianggap sepele, remeh, tidak masuk hitungan, meski hal itu umum dan lumrah ditemukan. Salah satu yang lumrah itu adalah soal apa yang kita makan. Soal nasi sepiring, lauk sepotong, dan sayur setumpuk.

Pernahkah kita berpikir berapa banyak biaya dan beban yang harus dipikul lingkungan untuk menghidangkan sepiring nasi beserta lauk pauknya. Bahwa untuk sampai di ujung sendok, nasi membutuhkan mata rantai yang panjang dan sarat dengan ongkos lingkungan. Belum lagi ketika orang-orang yang hebat di kota doyan steak impor, buah impor, sayur impor. Ongkosnya makin bertambah.

Mari kita berhitung sederhana. Misalnya, dari padi menuju nasi. Hamparan sawah butuh air mulai dari penyemaian hingga menjadi bulir-bulir yang siap dipanen. Ketika hendak dihidangkan di atas meja pun, dia butuh air. Beberapa bulan awal, anakannya yang baru tumbuh sempoyongan membutuhkan suplai air yang konsisten. Sejumlah catatan penelitian menyebutkan kebutuhan air untuk pola sawah konvensional adalah 10.000 m3/ha/musim atau sama dengan 10jt liter/ha/musim (6 bulan). Angka ini setara dengan konsumsi air 794 orang dalam satu musim (2100 liter/bulan). Jika harga per liter air dihitung hanya Rp. 3.000 saja, maka nilai air untuk sawah per hektar tiap musim adalah sebesar Rp. 30 Milyar.

Saat ini banyak sistem pengairan tidak lagi ditopang irigasi sungai tetapi mengandalkan sedotan air tanah. Setelah berkurangnya debit sungai-sungai besar, petani tidak lagi mendapatkan suplai air yang konsisten. Agar bertahan dengan sistem pertanian sawah, tidak ada pilihan lain selain mengebor air tanah. Bisa dibayangkan berapa air tanah yang disedot untuk 1 ha sawah. Seluruh tanah jawa diperkirakan mempunyai total luas sawah kurang lebih 3.458.000 ha. Seandainya separuh saja yang mengeruk air tanah, milyaran liter air dihisap untuk mengairi sawah.

Itu baru nasi. Bagaimana dengan lauk pauk. Ikan sepotong yang diusahakan nelayan, dan rekan-rekannya di atas piring. Semuanya minimal membutuhkan bahan bakar, biaya transportasi, pengemasan, penyimpanan, dan seterusnya. Berapa biaya yang harus keluar untuk membuat semua pabrik rasa itu sampai ke kerongkongan, yang sayangnya tidak menghasilkan emas dan berlian. Tapi kakus dan tempat sampah.

Betapapun ongkos untuk menghidangkan nasi sepiring amat besar, upaya melayani rasa tidak berhenti. Industri memfasilitasi kebutuhan rasa, agar tidak hanya soal kenyang tapi juga nikmat, sedap, dan kalau perlu candu. Rasa macam ini diciptakan. Sehingga meski hanya tinggal di “cikot”**, selera orang bisa melanglang buana hingga ke Kentucky Texas Amerika, pusat pabrik rasa KFC.

Akibat kecanduan rasa, banyak industri menggenjot produksi hingga berlebih. Secara global, diperkirakan sepertiga dari semua makanan yang diproduksi berakhir menjadi sampah. Jumlah itu setara dengan 1,3 milyar buah-buahan, sayur, daging, susu, makanan laut, kacang-kacangan yang diproduksi berlebihan, rusak selama proses distribusi, sisa konsumsi yang terbuang di restoran, hotel, sekolah, hingga dapur rumah tangga.

Makanan yang terbuang jelas merupakan soal lingkungan. Sama halnya dengan produksi beras di atas, makanan yang terbuang juga menyia-nyiakan energi dan air yang digunakan selama proses untuk membuatnya tumbuh, panen, transportasi, dan pengemasan. Makanan yang dibuang itu pada akhirnya memproduksi metan yang turut menyumbang emisi gas rumah kaca yang bikin panas planet bumi. Kurang lebih 11 % emisi Gas Rumah Kaca dapat dikurangi jika kita menata sistem pengelolaan makan agar lebih hemat dan berhenti membuang makanan. Di Amerika saja, emisi dari sampah makanan setara dengan emisi dari 37 juta kendaraan.

Membuang makanan juga merupakan soal keadilan. Jumlah makanan yang berakhir di tong sampah seharusnya cukup untuk memberi makan mulut-mulut lapar di negeri-negeri yang mengalami krisis. Sayangnya, hasrat untuk stok makanan menjadi gelombang baru, meskipun pada akhirnya hanya menjadi riasan semata. Distribusi yang sering jadi momok keadilan, seringkali bukan soal jalur transportasi yang buntu, tapi kikir dan rakus adalah motif utama. Makanan bukan lagi soal konsumsi tapi gaya. Pernah ada laporan sebuah media mengenai kelompok arisan sosialita di Jakarta yang menghidangkan makanan mewah di restoran bukan untuk dihabiskan tapi sekedar buat foto-foto.

Lebih konyol lagi, para pakar yang bicara lingkungan hidup enggan mengkoreksi piringnya sendiri. Hipokrit dimulai dari piring. Ada orang yang belepotan bicara neoliberalisme dan sibuk menuding tekanan pasar global sebagai pemicu kapitalisasi alam. Tetapi piringnya sendiri penuh dengan tumpukan daging impor yang sarat dengan beban emisi. Bagaimana bisa menuduh orang lain sedemikian rupa, tetapi diri sendiri adalah konsumen utama semua produk yang mencelakakan ibu bumi.

Bicara ekologi dan keberlanjutan lingkungan hidup tentu tetap perlu data dan konsep. Namun semua omongan itu harus sejalan dengan sikap pribadi. Apalagi membedah ekologi, oikos (rumah) dan logos (ilmu). Ilmu yang menekuni perilaku kehidupan, suksesi, materi dan interaksi antara mereka dalam membangun rumah tangga yang disebut bumi. Memang, tidak semua pernyataan harus tercermin pada setiap perilaku. Tetapi minimal dimulai dari hal kecil yang lebih sering tidak dianggap, tetapi amat menentukan masa depan lingkungan hidup karena rutin dijalani setiap waktu. Yang paling mudah tentu saja soal menu sehari-hari, dimana tidak perlu teori-teori hebat. Hanya butuh konsistensi dan kepedulian yang persis terjangkau tangan dan dompet.

Karena itu, mulailah dengan makanan lokal yang tidak perlu ongkos kargo. Selain menghidupi ekonomi petani setempat, makanan seperti talas, pisang, jagung, umbi-umbian dan sejenisnya dijamin lebih sehat bagi diri dan lingkungan. Sikap ini sejalan dengan wacana konseptual ekologi yang pada dasarnya membahas rumah bersama. Yang utama dan pertama-tama dalam urusan rumah adalah perilaku diri dari masing-masing orang, bukan perilaku orang lain. Ekologi diri adalah dasar untuk memulai itu semua. Tidak perlu besar. Cukup dari piring masing-masing.

Kini setelah hampir 50 tahun berlalu, karya Schumacher kembali bergema. Banyak kampanye saat ini mempromosikan ekonomi skala kecil. UMKM adalah salah satunya. Bahkan di negara kita, UMKM dan koperasi menjadi salah satu kementerian yang keberadaannya terus dipertahankan hingga sekarang ini. Dalam sejumlah laporan yang merefleksikan kembali krisis ekonomi 1998, UMKM inilah yang mampu bertahan membawa ekonomi pada tingkat akar rumput tetap menghidupkan transaksi antara para pelaku ekonomi. Sudah selayaknya, ekonomi skala kecil digaungkan. Selain daya lentingnya yang fleksibel menghadapi terpaan krisis ekonomi, manajemen “piring bisnis” pada skala kecil dapat ditata lebih cepat dan terkontrol untuk mengantisipasi risiko lingkungan dari usaha yang dikelola. Tidak perlu yang besar-besar untuk kehidupan sehari-hari dari mayoritas orang kecil yang mengisi planet ini. Cukup bisnis kecil.