Dimulai dari Piring (1)

Small is beautiful. Sebuah frasa klasik yang diluncurkan Ekonom Inggris kelahiran Jerman, E.F. Schumacher melalui bukunya Small Is Beautiful: A Study of Economics as If People Mattered (1973), kiranya relevan untuk berbagai konteks. Dalam buku itu, Schumacher mengkritik ekonomi arus utama yang mengagungkan ekspansi raksasa dan eskalasi ekonomi skala besar, namun membawa dunia pada krisis energi dan lingkungan. Penulis itu meyakini bahwa teknologi yang simpel dan pemberdayaan ekonomi skala kecil lebih lebih bisa diandalkan untuk memberdayakan lebih banyak orang “kecil”.

Hal-hal kecil memang jarang diperbincangkan sebagai ukuran kebijakan publik atau bahkan aturan kehidupan bersama pada skala mikro. Dalam isu lingkungan hidup pun demikian. Tidak sedikit omongan kelestarian lingkungan dilakukan dengan macam-macam konsep dan pendekatannya hendak menggapai hal-hal besar. Yang kerap kita dengar, misalnya, tanam pohon 1 milyar, mengatasi masalah ozon, pengurangan emisi global, dan seterusnya. Semuanya adalah daftar target-target makro yang terekam dengan mudah dalam catatan statistik. Program pemerintah ditentukan oleh proyeksi dan catatan naik dan turunnya angka-angka itu. Para pengusungnya pun gemar dengan narasi besar. Tak jarang seabrek gelar dipajang untuk menguatkan potret diri seseorang, bahwa memang benar yang dia bicarakan itu ada gunanya.

Mungkin semua itu benar dan dalam hal tertentu perlu. Apalagi narasi pengetahuan kita dalam berbagai metodologi dan sistem ilmu membutuhkan mayoritas untuk dapat dikatakan sebagai bukti. Soal kuantitas. Tetapi ada hal-hal kecil yang sederhana dan jarang dibahas dalam pembicaraan lingkungan hidup. Bahkan dianggap sepele, remeh, tidak masuk hitungan, meski hal itu umum dan lumrah ditemukan. Salah satu yang lumrah itu adalah soal apa yang kita makan. Soal nasi sepiring, lauk sepotong, dan sayur setumpuk.

Pernahkah kita berpikir berapa banyak biaya dan beban yang harus dipikul lingkungan untuk menghidangkan sepiring nasi beserta lauk pauknya. Bahwa untuk sampai di ujung sendok, nasi membutuhkan mata rantai yang panjang dan sarat dengan ongkos lingkungan. Belum lagi ketika orang-orang yang hebat di kota doyan steak impor, buah impor, sayur impor. Ongkosnya makin bertambah.

Mari kita berhitung sederhana. Misalnya, dari padi menuju nasi. Hamparan sawah butuh air mulai dari penyemaian hingga menjadi bulir-bulir yang siap dipanen. Ketika hendak dihidangkan di atas meja pun, dia butuh air. Beberapa bulan awal, anakannya yang baru tumbuh sempoyongan membutuhkan suplai air yang konsisten. Sejumlah catatan penelitian menyebutkan kebutuhan air untuk pola sawah konvensional adalah 10.000 m3/ha/musim atau sama dengan 10jt liter/ha/musim (6 bulan). Angka ini setara dengan konsumsi air 794 orang dalam satu musim (2100 liter/bulan). Jika harga per liter air dihitung hanya Rp. 3.000 saja, maka nilai air untuk sawah per hektar tiap musim adalah sebesar Rp. 30 Milyar.

Saat ini banyak sistem pengairan tidak lagi ditopang irigasi sungai tetapi mengandalkan sedotan air tanah. Setelah berkurangnya debit sungai-sungai besar, petani tidak lagi mendapatkan suplai air yang konsisten. Agar bertahan dengan sistem pertanian sawah, tidak ada pilihan lain selain mengebor air tanah. Bisa dibayangkan berapa air tanah yang disedot untuk 1 ha sawah. Seluruh tanah jawa diperkirakan mempunyai total luas sawah kurang lebih 3.458.000 ha. Seandainya separuh saja yang mengeruk air tanah, milyaran liter air dihisap untuk mengairi sawah.

Itu baru nasi. Bagaimana dengan lauk pauk. Ikan sepotong yang diusahakan nelayan, dan rekan-rekannya di atas piring. Semuanya minimal membutuhkan bahan bakar, biaya transportasi, pengemasan, penyimpanan, dan seterusnya. Berapa biaya yang harus keluar untuk membuat semua pabrik rasa itu sampai ke kerongkongan, yang sayangnya tidak menghasilkan emas dan berlian. Tapi kakus dan tempat sampah.

Betapapun ongkos untuk menghidangkan nasi sepiring amat besar, upaya melayani rasa tidak berhenti. Industri memfasilitasi kebutuhan rasa, agar tidak hanya soal kenyang tapi juga nikmat, sedap, dan kalau perlu candu. Rasa macam ini diciptakan. Sehingga meski hanya tinggal di “cikot”**, selera orang bisa melanglang buana hingga ke Kentucky Texas Amerika, pusat pabrik rasa KFC.

Akibat kecanduan rasa, banyak industri menggenjot produksi hingga berlebih. Secara global, diperkirakan sepertiga dari semua makanan yang diproduksi berakhir menjadi sampah. Jumlah itu setara dengan 1,3 milyar buah-buahan, sayur, daging, susu, makanan laut, kacang-kacangan yang diproduksi berlebihan, rusak selama proses distribusi, sisa konsumsi yang terbuang di restoran, hotel, sekolah, hingga dapur rumah tangga.

Makanan yang terbuang jelas merupakan soal lingkungan. Sama halnya dengan produksi beras di atas, makanan yang terbuang juga menyia-nyiakan energi dan air yang digunakan selama proses untuk membuatnya tumbuh, panen, transportasi, dan pengemasan. Makanan yang dibuang itu pada akhirnya memproduksi metan yang turut menyumbang emisi gas rumah kaca yang bikin panas planet bumi. Kurang lebih 11 % emisi Gas Rumah Kaca dapat dikurangi jika kita menata sistem pengelolaan makan agar lebih hemat dan berhenti membuang makanan. Di Amerika saja, emisi dari sampah makanan setara dengan emisi dari 37 juta kendaraan.

Membuang makanan juga merupakan soal keadilan. Jumlah makanan yang berakhir di tong sampah seharusnya cukup untuk memberi makan mulut-mulut lapar di negeri-negeri yang mengalami krisis. Sayangnya, hasrat untuk stok makanan menjadi gelombang baru, meskipun pada akhirnya hanya menjadi riasan semata. Distribusi yang sering jadi momok keadilan, seringkali bukan soal jalur transportasi yang buntu, tapi kikir dan rakus adalah motif utama. Makanan bukan lagi soal konsumsi tapi gaya. Pernah ada laporan sebuah media mengenai kelompok arisan sosialita di Jakarta yang menghidangkan makanan mewah di restoran bukan untuk dihabiskan tapi sekedar buat foto-foto.

Lebih konyol lagi, para pakar yang bicara lingkungan hidup enggan mengkoreksi piringnya sendiri. Hipokrit dimulai dari piring. Ada orang yang belepotan bicara neoliberalisme dan sibuk menuding tekanan pasar global sebagai pemicu kapitalisasi alam. Tetapi piringnya sendiri penuh dengan tumpukan daging impor yang sarat dengan beban emisi. Bagaimana bisa menuduh orang lain sedemikian rupa, tetapi diri sendiri adalah konsumen utama semua produk yang mencelakakan ibu bumi.

Bicara ekologi dan keberlanjutan lingkungan hidup tentu tetap perlu data dan konsep. Namun semua omongan itu harus sejalan dengan sikap pribadi. Apalagi membedah ekologi, oikos (rumah) dan logos (ilmu). Ilmu yang menekuni perilaku kehidupan, suksesi, materi dan interaksi antara mereka dalam membangun rumah tangga yang disebut bumi. Memang, tidak semua pernyataan harus tercermin pada setiap perilaku. Tetapi minimal dimulai dari hal kecil yang lebih sering tidak dianggap, tetapi amat menentukan masa depan lingkungan hidup karena rutin dijalani setiap waktu. Yang paling mudah tentu saja soal menu sehari-hari, dimana tidak perlu teori-teori hebat. Hanya butuh konsistensi dan kepedulian yang persis terjangkau tangan dan dompet.

Karena itu, mulailah dengan makanan lokal yang tidak perlu ongkos kargo. Selain menghidupi ekonomi petani setempat, makanan seperti talas, pisang, jagung, umbi-umbian dan sejenisnya dijamin lebih sehat bagi diri dan lingkungan. Sikap ini sejalan dengan wacana konseptual ekologi yang pada dasarnya membahas rumah bersama. Yang utama dan pertama-tama dalam urusan rumah adalah perilaku diri dari masing-masing orang, bukan perilaku orang lain. Ekologi diri adalah dasar untuk memulai itu semua. Tidak perlu besar. Cukup dari piring masing-masing.

Kini setelah hampir 50 tahun berlalu, karya Schumacher kembali bergema. Banyak kampanye saat ini mempromosikan ekonomi skala kecil. UMKM adalah salah satunya. Bahkan di negara kita, UMKM dan koperasi menjadi salah satu kementerian yang keberadaannya terus dipertahankan hingga sekarang ini. Dalam sejumlah laporan yang merefleksikan kembali krisis ekonomi 1998, UMKM inilah yang mampu bertahan membawa ekonomi pada tingkat akar rumput tetap menghidupkan transaksi antara para pelaku ekonomi. Sudah selayaknya, ekonomi skala kecil digaungkan. Selain daya lentingnya yang fleksibel menghadapi terpaan krisis ekonomi, manajemen “piring bisnis” pada skala kecil dapat ditata lebih cepat dan terkontrol untuk mengantisipasi risiko lingkungan dari usaha yang dikelola. Tidak perlu yang besar-besar untuk kehidupan sehari-hari dari mayoritas orang kecil yang mengisi planet ini. Cukup bisnis kecil.