Studi Gen: Antara Harapan dan Kenyataan

Sumber: http://foodexposed.co.za/environmental-factors-leading-contributor-to-autism/

Studi gen dianggap sebagai salah satu terobosan besar dalam sejarah manusia karena dipandang dalam membantu spesies manusia mengurai jenis gen penyebab penyakit dan sakit. Harapannya, tidak lain adalah menemukan cara untuk mengatasi gen semacam itu. Tidak mengejukan jika sudi ini dianggap sama gempitanya dengan pendaratan di bulan. Karena itu, studi genom yang diprakarsai Amerika sejak era Clinton dan dilakukan selama 13 tahun yang menghabiskan US$2.7 billion (£1.9 billion) tahun ditunggu-tunggu oleh semua pakar. 

Sayangnya, hasilnya tidak sehebat harapan. Studi ini tetap tidak mampu menemukan sebab munculnya penyakit dalam gen manusia. Malahan terdapat beberapa temuan aneh yang tidak diduga sama sekali. Misalnya, prediksi jumlah gen pada manusia yang sebelum 2000 diindikasikan sebanyak 300.000 dan minimal 40.000 ternyata hanya 21.000, jauh di atas gen bawang yang mencapai 60.000. Kebingungan tidak hanya disini, tetapi berkenaan dengan tujuan utama penelitian itu sendiri yakni dari mana sumber informasi tentang penyakit diperoleh? 

Para ahli menemukan bahwa Genom terdiri dari dua bagian, yakni penulis kode dan bukan penulis kode. Penulis kode hanya terdiri dari 1,7 % komposisi DNA manusia namun bertanggung jawab untuk membuat kode protein yang penting bagi kehidupan. Karena itu, gen dikenal demikian luas sekaligus membawa harapan karena kemampuannya untuk membuat kode protein. Memahami kode itu berarti selangkah lebih maju untuk mengidentifikasi penyakit genetis. Sementara itu, bagian yang bukan penulis kode sebesar 98,3 % tidak begitu digubris karena ahli menganggapnya sebagai DNA rongsokan yang tidak berguna bagi kehidupan. 

Namun, belakangan ditemukan bahwa genom bukan penulis kode lah yang bertanggung jawab menyediakan berbagai informasi yang mempengaruhi perkembangan penyakit pada manusia. Sesuatu yang dulunya dianggap sampah rupanya jauh lebih penting daripada dugaan sebelumnya. 

Lebih lanjut, pada genom bukan penulis kode terdapat faktor penambah yang tidak berasal dari dalam gen itu sendiri, tetapi dari luar (lingkungan) berupa asupan makanan. Itulah faktor yang menentukan jenis sakit dan penyakit. 

Dalam bagian non-coding dari genom ini, para peneliti menemukan bagian yang pendek dari DNA yang disebut enhancer (penambah). Ialah sebuah saklar gen yang menghidupkan dan mematikan gen di jaringan yang berbeda pada waktu yang berbeda. Peneliti menemukan bahwa enhancer yang diperlukan untuk membentuk embrio telah berubah sangat sedikit selama evolusi, sehingga memberikan gambaran bahwa enhancer inilah yang mewakili sumber utama dan penting bagi informasi genetik.

Studi ini menginspirasi salah satu peneliti, Alasdair, untuk mengeksplorasi kemungkinan peran enhancerdalam perilaku seperti asupan alkohol, kecemasan, dan asupan lemak. Dengan membandingkan genom tikus, burung, dan manusia, dapat diidentifikasi bahwa faktor-faktor lingkungan (fenotipe) termasuk pola makan amat menentukan jenis penyakit dan sakit pada manusia dibandingkan gen itu sendiri. Singkatnya, bukan semata-mata penulis kode yang mewarisi penyakit dari satu generasi ke generasi berikutnya. Tetapi faktor-faktor eksternal seperti keranjingan makan daging, alkohol, dan sebagainya. 

Dengan demikian, istilah penyakit turunan (genetis) seharusnya bisa dihapus, jika perilaku seseorang lebih sehat. Di tengah hiruk pikuk industri makanan, kepandaian memilih apa yang cocok untuk tubuh seharusnya dimiliki tiap orang dengan membaca tanda-tanda pada tubuhnya sendiri. Sehingga, alih-alih menuduh moyangnya sebagai pewaris gen buruk, seseorang harusnya bisa menentukan bagi dirinya sendiri cara hidup yang menghindari sakit dan penyakit.  

Sumber https://scitechdaily.com/the-human-genome-at-20-how-biologys-most-hyped-breakthrough-led-to-anticlimax-and-arrests/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s