Demam Porang: Jangan Lupakan Pangan !!!

Porang | Media Indonesia 24 Jan 2020

Heboh !! Muncul sekejap, berbondong-bondong petani langsung banting setir dari pangan ke porang. Apa yang bisa dijadikan pelajaran dari hiruk pikuk ini? 

Sebetulnya, kehebohan porang tidak beda jauh dengan histeria komoditas yang sudah sering datang silih berganti. Sejarah komoditas pertanian/perkebunan selama ini menyodorkan pengulangan yang sama, yakni ketika menduduki singgasana pasar komoditas histeria itu menerobos cepat ke kampung-kampung, kemudian dicampakkan seketika saat konsumen beralih ke hasrat yang lain. Sementara petani bergeming disana, bergulat pada lahan-lahan mereka yang haranya makin tergerus untuk melayani tuntutan pasar global. 

Berpartisipasi dalam mengembangbiakkan komoditas puncak ibarat kemeriahan karnaval. Ramai sekejap, kemudian kemeriahan berlalu dan diikuti sepi yang seketika. Meskipun meriah, alangkah baiknya untuk petani menarik napas agak dalam, mengambil jeda, kemudian berefleksi. Misalnya, semahal-mahalnya porang, tetap saja tiap hari kita makan nasi. Karena itu, jangan mengkonversi lahan pangan utama seperti padi dan jagung untuk porang. Sisakan lahan untuk pangan pokok agar jatah makan sehari-hari tidak perlu beli dengan melanglang buana jauh-jauh ke pasar. 

Memang, komoditas semacam ini dari dulu sejak era kopi, karet, dan deretan “mau”nya orang luar sana, selalu menggiurkan. Bikin cepat kaya uang, yang tentu saja bisa membeli ukuran kemewahan. Bisa beli pulsa, HP baru buat gaya, perabotan rumah atau bahkan kendaraan. Semuanya ini adalah ukuran OKB (Orang Kayu Baru) di kampung-kampung yang pada dasarnya meniru gaya hidup urban. 

Gemerlap kemewahan hidup kota yang menyilaukan mata menjadi ukuran “naik kelas” bagi orang-orang di kampung. Sekian lama, mereka hanya bisa pandangi kemewahan itu di layar kaca melalui sinetron, film, dan sejenisnya. Sekarang, dengan kelimpahan uang dari surplus komoditas, petani di kampung bisa ikut merayakan remah-remah gemerlap hidup semacam itu: agar keren. 

Namun perubahan gaya hidup selalu dimotori uang. Uang adalah mesin utama dari ekonomi pasar yang tidak dikontrol petani. Ruang kemudinya jauh dari tangan berkeringat dan selimut lumpur yang petani alami sehari-hari. Mereka yang mengontrol uang adalah pemain tidak berwajah, apalagi nurani. Pasar uang saat ini meminimalkan peran manusia dan diganti robot. Perhitungan operasionalnya tidak menggunakan ukuran manusia yang pakai “rasa” tetapi angka statistik. 

Maka, ketika nilai uang jatuh dan demikan pula harga porang serta komoditas sejenisnya, jangan pernah bermimpi mendapatkan belas kasih dari pasar komoditas. Alih-alih membantu, tangisanmu akan mereka masukkan dalam berita konyol; contoh kebodohan abad 21. Sebab, risiko adalah lokomotif yang menarik dan menggerakan cara kerja sistem ekonomi ini. Karenanya, mereka yang meratapi kebangkrutan harga dianggap bertentangan dengan prinsip risiko alias melawan pasar.  

Karena itu, petani siapapun itu harus punya kesadaran berikut ini: bahwa makin besar ia tergantung pada ekonomi uang makin hilang pula kemandiriannya untuk menentukan ekonomi diri dan keluarganya. 

Mandiri, kata kamus bahasa Indonesia berarti, “dalam keadaan dapat berdiri sendiri; tidak bergantung pada orang lain”. Dalam pengertian hidup petani sehari-hari, mandiri secara sederhana berarti makanan di atas piring tidak tergantung pada orang lain, tetapi hasil dari tanah sendiri. Kata orang tua dulu, “hasil keringat sendiri”. Atau dalam bahasa anak jaman now, “tidak pake beli”. 

Kemandirian petani mulai goyah dari awal ketika petani menggadaikan semua lahannya untuk komoditas yang bersandar pada ekonomi uang. Tadinya sawah, lalu berubah jadi kopi, vanili, cengkih. Tadinya jagung dan talas, sekarang jadi porang. Sementara untuk konsumsi sehari-hari harus beli di pasar. Beras dibeli, lauk dibeli, bahkan sayur dan cabe pun dibeli. Plus, belanja pulsa, HP baru, bensin, dan plus-plus lainnya yang diciptakan oleh ekonomi uang. Hampir tidak beda antara biya hidup tinggal di kota besar dengan pengeluaran di kampung cikot*. Hanya beda tempat. 

Sumber pangan utama saat ini mengandalkan beras yang lahannya terus tergerus tiap tahunnya. Menurut Kementerian Pertanian,laju konversi lahan sawah ke non-sawah cukup tinggi, rata-rata 100.000 ha per tahun. Secara nasional, statistik lahan pertanian menyebutkan bahwa 8.092.907 ha lahan sawah pada 2015 telah menyusut menjadi 7.463.948 ha di tahun 2019. Tidak hanya di sentra-sentra produksi padi seperti Jawa dan Sulawesi, NTT juga mencatat penyusutan lahan sawah dari 177.238 ha di tahun 2015 menjadi 155.520 ha pada 2019. Di Manggarai Timur, misalnya, 15.032 ha tahun 2017 menyusut menjadi 13.627 ha pada 2019. Ke depan, seiring dengan meningkatnya kebutuhan lahan untuk non-pertanian, tekanan terhadap lahan sawah makin tinggi tiap tahunnya.

Jika lahan pangan terus merosot, bahkan lenyap, biaya hidup di kampung hampir pasti akan lebih tinggi daripada di kota. Pertama-tama, selain membeli beras dan kebutuhan pokok lainnya, pengeluaran untuk kebutuhan ekstra juga bertambah, bahkan lebih tinggi. Harga TV, HP, bensin, dan kebutuhan ekstra lainnya pasti jauh lebih mahal di daerah seperti Flores, Sumba, Puncak Jaya Wijaya daripada di Jakarta. Perbandingan sederhananya seperti ini: harga bensin 1 liter oleh Pertamina ditetapkan berdasarkan jenis. Per Januari 2021, harga Pertalite di NTT dan NTB ditetapkan Rp 7.650/liter dan Rp. 7.850/liter di Maluku dan Papua. Dengan jarak tempuh dan medan yang lebih berat, pemakaian BBM di daerah-daerah ini pasti jauh lebih boros daripada jalan aspal, mulus dan rata seperti di Jawa. Mustahil perjalanan PP di tempat-tempat itu hanya bermodalkan bensin 1-2 liter. Minimal 10 liter untuk jarak tempuh pendek. Bandingkan dengan harga beras kualitas bagus Rp. 10.750 per kg yang dapat dikonsumsi 3-4 hari. Dalam perbandingan sederhana ini, pengeluaran untuk bensin rata-rata tujuh kali lebih besar daripada pengeluaran untuk beras. Tentu akan lebih besar lagi jika ditambah pengeluaran untuk pulsa, bayar listrik atau beli bensin untuk generator listrik, perawatan TV, dan lain-lain. 

Meskipun masih perlu penelitian terfokus dan ekstensif, saya yakin pengeluaran petani saat ini jauh lebih besar dipakai untuk merawat “kemewahan” daripada kebutuhan pokok. Karenanya, keterikatan mereka pada ekonomi uang pun makin tinggi dan bergurat akar dalam hidup sehari-hari. 

Seperti dikemukakan di atas, petani tidak bisa mengubah struktur pasar yang menentukan segala-galanya termasuk harga. Studi ADB tahun 2018 terhadap komoditas kayu, cabe, ikan laut, dan bawang menunjukkan petani dan peternak hanya bisa menegosiasikan harga yang layak yakni sebatas biaya produksi. Mereka bisa mendapatkan hal itu dengan memperkuat posisi tawar melalui koperasi atau organisasi lainnya. Namun koperasi tidak mampu mempengaruhi skala transaksi pasar yang pada titik tertentu stagnan, sehingga tidak mampu menegosiasikan aspek risiko seperti risiko musim, hama, dan transportasi yang seringkali merugikan petani. Misalnya, bandar komoditas atau pemilik kapal mengenakan biaya angkut 10-20 % margin per pengiriman. Jika rata-rata jangka waktu pengiriman melalui laut adalah seminggu, mereka mengenakan tarif 40-80 %  per bulan. Biaya ini sepenuhnya ditanggung petani dan tidak masuk dalam komponen harga layak. Ini adalah pola lintah darat yang menghisap keuntungan hingga ke sum-sum. 

Lebih dari itu, euphoria komoditas dapat melebar ke aspek yang lebih luas, termasuk tuntutan akan lahan. Produktivitas hasil komoditas tuntutan pasar pada dasarnya rendah. Berbagai laporan pertanian menunjukan hal itu. Bahwa petani-petani kita sebagian besar masih mengikuti pola produksi tradisional yang berasal dari etos kerja subsisten alias “pertanian untuk hidup (makan sehari-hari)”, bukan pertanian untuk orang lain atau pasar. Dalam tradisi demikian itu, kalender petani cenderung longgar. Kadang-kadang komoditasnya ditengok sesekali. Sebagian besar waktu dihabiskan buat “joak”** di rumah tetangga. 

Di bawah tuntutan ekonomi pasar, komoditas harus berproduksi terus menerus dengan kualitas yang harus memenuhi standar tertentu. Teknik pertanian tradisional tidak sanggup mencapai batas produksi yang dimintas pasar. Tanpa keterampilan, teknologi dan input pertanian (pupuk dan anti-hama), tidak ada cara lain selain memperluas lahan. Masalah baru pun dimulai disini. Banyak keluarga petani memilih bertarung mendapatkan lahan yang dikuasai negara. Tidak lain ialah kawasan hutan. Konflik terjadi disini yang bisa berlangsung berlarut-larut dan berujung di terali besi. 

Dengan demikian, petani dimana pun ketika masuk dalam ekonomi pasar harus secara penuh menyadari risikonya. Tidak bisa setengah-setengah, apalagi nyemplung tanda sadar. Tindakan semacam ini bunuh diri karena pasar tidak dibentuk untuk menolong petani, tetapi menyerap sebesar-besarnya keuntungan dan menyisakan remah untuk aktor di luar itu. 

Sejalan dengan itu, lahan pangan utama semestinya tetap dipertahankan. Selain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, tradisi juga nampaknya melarang orang melepaskan lahan sawah. Saat ini pemerintah juga membuat kebijakan yang melarang alih fungsi lahan pangan untuk tujuan lain, terutama alih fungsi lahan sawah.  

Bahasa Manggarai

*cikot: pelosok 

**joak: bercanda

Bacaan pendukung

Firmansyah, F., Yusuf, M., & Argarini, T. O. (2021). Strategi Pengendalian Alih Fungsi Lahan Sawah di Provinsi Jawa Timur. Jurnal Penataan Ruang16 ( 1), 47-53

Pusat Data dan Informasi Kementerian Pertanian, Statistik Lahan Pertanian Tahun 2015-2019, Pusat Data dan Informasi Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian

Kontan.co.id (2021). Daftar harga BBM Pertamina terbaru 2021 di Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua

(https://personalfinance.kontan.co.id/news/daftar-harga-bbm-pertamina-terbaru-2021-di-nusa-tenggara-maluku-dan-papua)

Meisari, D., Marina, H., Kusumawardhani, Anshar, K., (2018). Indonesia: Inclusive Business in Indonesia— Improving Supply Chain Efficiency through Inclusive Business, Asian Development Bank (https://www.adb.org/sites/default/files/project-documents/46240/46240-001-tacr-en_2.pdf)

Roza, A.M., (2016), 3 Provinsi Dominasi Produksi Padi Nasional (https://katadata.co.id/padjar/infografik/5e9a56c85bc7f/3-provinsi-dominasi-produksi-padi-nasional)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s