Dimulai dari Piring (3)

Sumber: detikhealth, 21 Agust 2013

Seperti yang sudah umum dipahami, relasi tidak hanya suatu konsep sosial, tetapi juga soal ekologis dan spiritual. Semuga agama mengajarkan, relasi dengan Allah penting karena pada hakikatnya manusia diciptakan Allah sehingga setiap waktu harus kembali padaNya untuk mendapatkan tuntunan. Demikian halnya dengan sesama, kita perlu mengembangkan kebajikan individual dan komunal untuk menjalin dan membangun kehidupan bersama yang sehat. Penjelasan macam ini sudah sering diperdengarkan. Namun sedikit yang melihat implikasi dari konsep relasi secara ekologis. Kalaupun ada, biasanya topik yang dibahas adalah dimensi makro dan berada di luar diri. Misalnya, buang sampah pada tempatnya, batasi limbah, bersih lingkungan dan seterusnya. 

Dalam tulisan ini, saya ingin mengemukakan bahwa dimensi ekologis yang paling dekat dengan tubuh adalah makanan. Merekalah yang membentuk tubuh tidak hanya fisik, tetapi juga psikologis yang sewaktu-waktu mempengaruhi relasi sosial. Misalnya, makan daging atau lemak berlebihan diasosiasikan dengan darah tinggi yang produknya adalah marah-marah dan berujung pada rusaknya relasi sosial. Karena itu, makanan berelasi intim dan dalam dengan diri. Bahkan lebih dekat dari suami, istri, anak, dan komunitas. 

Dalam pengertian relasi pula maka konsep makanan juga mengenal jarak. Yang paling dekat adalah yang dikenal tubuh, yakni makanan yang tumbuh dan berkembang di lingkungan sekitar. Makanan seperti talas, jagung, pisang adalah jenis yang paling dekat, sehari-hari kita temukan karena didukung oleh bumi tempat kita berpijak. Mereka sudah lama berelasi dengan ekosistem itu, sehingga menjadi sahabat orang-orang disitu dan makhluk lainnya yang tumbuh berkembang disana. 

Orang-orang yang hidup di kampung, cukup jalan-jalan sebentar saja, jenis makanan tradisional dapat secara mudah dijumpai tumbuh dimana-mana. Di kota pun, terutama sub-urban sebarannya masih banyak. Sayangnya, di pasar-pasar modern letak jenis makanan ini seringkali (di)pojokan, mengalah dengan makanan impor. Kemasannya pun buruk rupa, bikin orang tidak bersemangat membeli. Tetapi, adalah fakta terberi merekalah yang hadir dan tumbuh disini. 

Sepanjang sejarah pangan, jenis makanan tradisional itulah yang membentuk peradaban sekaligus komunitas dan tubuh biologis para pendahulu kita. Karena itu, mereka mengalami perjumpaan atau dialog dengan tubuh kita sejak lama, dari ketika nenek moyang kita mengunyah mereka hingga hari ini. Itulah relasi yang intim, yang disebut mendarah daging. Kita tidak bisa lepas dari jenis makanan itu.  

Makin jauh makanan itu berasal, makin sulit untuk tubuh mengenal. Makin dekat makanan itu diambil, makin dekat pula relasinya dengan tubuh

Beda halnya dengan makanan unknown origin yang tumbuh di negeri-negeri yang jauh, seperti gandum, bir jerman, keju belanda, kedele brazil. Sumber-sumber itu tidak dikenal tubuh dan lingkungan tempat kita tinggal. Karena itu, tubuh memerlukan waktu untuk mengenal jenis makanan itu sebelum memprosesnya jadi energi. Jika tidak dibutuhkan, tubuh yang sehat akan menendangnya keluar. 

Makin jauh makanan itu berasal, makin sulit untuk tubuh mengenal. Makin dekat makanan itu diambil, makin dekat pula relasinya dengan tubuh. Karena itu, mereka yang makan dari pekarangannya sendiri berumur panjang dengan tingkat kualitas kesehatan di atas rata-rata. Inilah yang terjadi pada wilayah-wilayah blue zone tempat para centenarian hidup. Misalnya, orang okinawa mengambil kentang dari kebunnya sendiri. Orang Sardinia mengambil keju dari peternakan sendiri. Tentang hal ini bisa dibaca di buku Blue Zone, karya Dan Buettner atau Ikigai yang ditulis Francesc Miralles dan Hector Garcia. Dua buku ini membuktikan secara nyata, mereka yang hidup lebih dari 100 tahun dan tetap produktif adalah orang-orang yang mengambil makanan dari lingkungannya sendiri. 

Soal makanan dan relasi bisa pula dibawa ke arena sosial. Yakni, dampak dari makan sesuatu yang asing, yang bukan kepunyaannya. Misalnya, orang yang makan dari hak orang lain, minimal dikejar hukum pencurian, penggelapan, korupsi. Belum lagi bicara relasi sosial dan spiritual. Mereka akan mengalami hukuman, setidaknya perasaan bersalah. Secara sosial, mereka tidak berhak atas porsi orang, melampaui piringnya sendiri dengan mengambil jatah orang. Orang-orang semacam itu pada akhirnya disingkirkan oleh masyarakatnya. 

Dalil relasi pada dasarnya berlangsung di semua arena dan dimensi. Bahwa relasi dimulai karena kenal. Dari kenal lalu percaya dan membina persahabatan. Itulah yang membentuk jejak pertemanan dan rekam persahabatan yang membuat relasi itu lambat laun tidak lagi berada di luar sana tetapi melekat pada diri, pada hati, dan emosi. Hal itu pula yang terjadi pada makanan yang kita makan. Mereka tidak lagi di luar sana, tetapi melekat dalam diri. Karena itu, makanan yang berelasi dengan kita yakni yang tumbuh dan besar bersama kita, itulah yang memungkinkan berlangsungnya ikatan relasi. Dari merekalah kehidupan kita berkembang hingga hari ini. Dengan demikian, jangan terlalu hobi memburu makanan yang tidak tumbuh dan besar disini. Mereka adalah tamu tak diundang yang tidak mengenalmu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s