Mengeruk Uang dari Orang Sakit

Profit adalah mantra yang melanda semua jenis bisnis apapun hari ini. Tidak terkecuali. Modusnya pun tidak malu-malu. Tidak hanya pada lembaga-lembaga yang memang tujuannya mengeruk keuntungan seperti bank, perusahaan investasi dan seterusnya. Lembaga-lembaga yang sejarahnya dibentuk untuk mengabdi pada kemanusiaan pun tidak bebas dari virus ini. Rumah sakit adalah salah satunya. Mengejar keuntungan barangkali bukan lagi minor tetapi bisnis mayor rumah sakit belakangan ini. 

Rumah sakit secara historis merupakan rumah kerahiman dan rumah sukacita. Bahasa Inggris masih menyimpan memori itu yang melekat dalam kata “hostpital”, kata dasar dari “hospitality”. Artinya, sukacita, kegemberiaan, sukaria. Pengertian ini menunjukkan rumah sakit sebagai ekspresi peradaban kemanusiaan yang sarat dengan solidaritas dan berbela rasa. Dalam tradisi di Eropa, di bawah payung rumah kemanusiaan itu, rumah sakit pertama kali hadir sebagai bagian integral dari pelayanan gereja untuk membebaskan manusia dari derita. Karena itu, banyak tabib sekaligus merupakan dokter masa itu. Misalnya, Konstantin dari Afrika (1020-1087) adalah seorang rahib yang merupakan figur intelektual yang melahirkan kanon medis di Eropa hingga abad ke-15. Peran keselamatan dalam tradisi tabib mencegah mereka memungut biaya yang eksploitatif. Penderitaan akibat sakit justru menjadi kesempatan bagi manusia lainnya untuk berbuat baik dengan mengunjungi si sakit dan memberikan penghiburan. Sakit adalah “via dolorosae” yang membawa orang menuju kemuliaan.

Ketika peran gereja berkurang dan urusan kesehatan publik dialihkan ke negara, rumah sakit masih meneruskan tradisi gereja sebagi rumah pelayanan. Negara membebaskan biaya dan sama sekali tidak menempatkan rumah sakit sebagai arena privat. Lebih jauh, negara menyekolahkan orang-orang berbakat untuk menjadi tenaga profesional yang membantu negara dalam melayani orang sakit. Watak rumah sakit seperti ini masih ditemukan di negara-negara sosial demokrat seperti negeri-negeri Skandinavia. 

Dalam perkembangannya, seiring dengan ekspansi kapitalisme maka rumah sakit dibuat jadi entitas swasta. Dari situlah tarif mulai ditetapkan. Pada 1985, Hasting Center Report menampilkan tulisan James A. Morone, Profesor Ilmu Politik di Brown University berjudul “The Unruly Rise of Medical Capitalism”. Dalam tulisan itu, Morone mengatakan bahwa pada awalnya bisnis rumah sakit masih diawali oleh prinsip rumah sakit yang membutuhkan pasien (permintaan membutuhkan penawaran). Namun kapitalisme rumah sakit membuat prinsip ini berbalik menjadi penawaran yang membutuhkan permintaan. Menurut Morone, pada titik itulah masalah besar akan dimulai. 

Dalam hal ini, pada awalnya pengenaan tarif rumah sakit bukan merupakan bagian dari rencana bisnis. Tarif semata-mata digunakan untuk menutup biaya operasional rumah sakit karena mayoritas biaya tenaga kesehatan dan infrastruktur rumah sakit masih dianggarkan oleh sumber-sumber publik. Pada titik ini, rumah sakit masih selamat dari kapitalisasi sumber daya. 

Namun ketika negara kehilangan sebagian besar otoritas publiknya, pasar berkuasa. Prinsip utama pasar adalah mengkomoditaskan semua aspek yang bisa dijual. Pada masa inilah rumah sakit berubah ekstrim dari rumah pelayanan menjadi pasar penderitaan. Bagaimana mendapat uang dari orang sakit adalah pertanyaan rutin rumah sakit hari ini. Disana, transaksi berlangsung antara si sakit dan penyelenggara rumah sakit dengan obyeknya adalah penderitaan. Berat ringannya biaya ditentukan oleh jenis penyakit. Makin berat jenis suatu penyakit, makin mahal pula biayanya. 

Belakangan ini bisnis penderitaan ini makin lama makin eksesif. Manajer pemasaran rumah sakit diburu target profit tertentu. Karena itu, jenis sakit dipasangi tarif. Bahkan berbagai fasilitas sekecil apapun memiliki tarif. Cotton bud, tisu, sabun, dan sejenisnya dikenakan biaya. Apalagi fasilitas yang lebih canggih dengan pelayanan yang lebih ramah. Abra kadabra, dompet pasien terkuras hingga kerontang. Tidak ada lagi kata gratis, bahkan hanya secuil senyum pun ada harganya. Cara mengutip uang pasien benar-benar vulgar. 

Konsep rumah sakit yang senyawa dengan kemanusiaan telah ludes ditelan bisnis. Kontras dengan sejarahnya, setiap rumah sakit hari ini adalah industri yang menempatkan pasien sebagai sumber pendapatan. Makin banyak pasien makin meningkat pula pundi-pundi rumah sakit. Karena itu, benarlah lelucon miris yang pernah beredar di berbagai medsos, bahwa orang miskin dilarang sakit di negeri ini. Ditiup oleh semangat profit, sampai kapan pun dana BPJS tidak akan pernah cukup. BPJS pasti akan merugi dan merugi untuk mengongkosi semua fasilitas rumah sakit yang haram untuk gratis itu. 

Sejalan dengan rusaknya pola makan dan cara hidup tidak sehat, pasien hari ini makin membludak. Rumah sakit tidak menawarkan lain selain alat deteksi, obat, dan terapi. Semuanya dirangkai jadi satu paket bisnis yang membuat narasi historis rumah sakit hanya tinggal cerita. Tidak ada lagi kemanusiaan. Tidak ada lagi belas kasihan. Yang ada hanya keramahtamahan palsu yang diselimuti uang dan keuntungan. Pertanyaan utama rumah sakit hari ini adalah bisnis yakni bagaimana mendapatkan uang sebanyak-banyaknya dari pasien. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s