“Po”, Lebih Hebat dari “Bang Lawo”

Banyak aktor dalam ekosistem yang tidak mendapatkan penghargaan sepantasnya. Mitos yang penuh prasangka membayangi keberadaan mereka. Sebagian kerap dianggap tabu, bahkan cenderung dipandang musuh. Po atau burung hantu adalah salah satu yang menderita tuduhan hoax itu. Tidak saja di Flores, di banyak suku Po benar-benar ditakuti. 

Demikianlah. Saat malam makin gelap, apalagi janji listrik tinggal kenangan kampanye politik, tiba-tiba Po berbunyigalak. Langkah kaki ke pintu jadi urung. Tadinya mau buang air. Memang repot kebanyakan makan di kampung yang bermodalkan petromaks. Serba salah. Apalagi saat musim penti,** diundang makan kenyang di tiap rumah, bikin panggilan alam menggeruduk pas tengah malam. Bunyi Po demikian menyalak. “Po…Po…Po…!” Dia bertalu-talu dari rumpun kopi dan pohon-pohon rindang. Malam tanpa bulan makin pekat, bikin hati bergidik. 

Itulah Po. Sarat mitos, hingga bunyinya yang lantang laiknya sirena duka. Lebih dari Teingkotoe yang membawa kabar (lihat tulisan sebelumnya), kehadiran Po bahkan lebih horor. Ia tidak hanya ghoib yang lewat tapi Poti (hantu) itu sendiri. Karenanya, kerap kali bunyi Po adalah seranta suara hantu “Po..Po…Po..Poti..Po..”. Entah benar atau tidak, hanya Po yang tahu. 

Meski adakalanya mempunyai mitos serem seperti kita, negeri-negeri barat relatif lebih fair terhadap Po. Dalam mitos mereka, burung ini tidak semata-mata horor. Arkeolog sekaligus Antropolog Amerika berdarah Lithuania, Marija Gimbutas menelusuri pemujaan burung hantu sebagai dewi di antara burung lainnya. Ia melacak hal itu hingga budaya Eropa Kuno, yakni Indo-Eropa yang diyakini mengawali demikian banyak sub-kebudayaan di Daratan Eropa. Yunani Kuno, moyangnya tradisi Eropa saat ini melukiskan burung hantu sebagai pendamping Athena, sang Dewi Kebijaksanaandan juga seorang prajurit. Karena itu, film-film Disney menaruh tempat terhormat pada Po, yakni personifikasi kebijaksanaan dan cinta pada pengetahuan.  

Merupakan anggota ordo Strigiformes, Po tersebar di hampir semua tempat di muka bumi, kecuali Antartika. Di Flores, burung ini tersebar di semua tempat. Secara nyata, ia adalah jasa alam yang punya nilai amat vital bagi manusia. Lupakan dulu suaranya yang sarat dengan teror mitos. Dalam rantai makanan, burung ini gemar berburu tikus yang jadi musuh utama petani. Disitu, Po seharusnya menjadi mitra kerja ideal untuk pertanian saat ini.

Berbagai analisa menyebutkan sepasang burung hantu bisa melindungi 25 hektare tanaman padi. Dalam waktu satu tahun, satu ekor burung hantu dapat memangsa 1300 ekor tikus. Burung hantu juga merupakan predator tikus yang efektif di perkebunan kelapa sawit. Sinar Mas, salah satu raksasa perkebunan sawit tak segan-segan menggunakan burung hantu untuk menangkal hama tikus dalam lebih dari 15 tahun terakhir. Demikian halnya dengan Asian Agri. Menurut mereka, penggunaan burung hantu bisa menurunkan serangan tikus pada tanaman kelapa sawit muda hingga di bawah 5 persen. Dari segi biaya, pengendalian serangan tikus menggunakan burung hantu lebih rendah 50 persen dibandingkan penanggulangan secara kimiawi. Asian Agri bahkan menempatkan satu kandang burung hantu di setiap 25 hektar lahan perkebunan untuk mengundang Tyto Alba (salah satu spesies burung hantu) bersarang.

Daripada pakai produk kimia yang justru merusak tata ekosistem, kenapa tidak terpikir menggunakan Po untuk membasmi tikus? 

Tentu saja akan ada soal dengan tradisi. Selain icon hantu yang diutarakan di atas, di Manggarai peran Po akan berkompetisi dengan grup “bang lawo”.***  Berbeda dengan abang yang umum dikenal dalam panggilan Betawi seperti Bang Bakso, Bang Sayur, Bang Toyib dan belakangan ini abang berdompet tebal yang bikin jablai mendekat, “bang lawo”adalah teknik berburu tikus (lawo) dengan jasa anjing pemburu. 

Pelaku “bang lawo” biasanya membawa anjing mereka di tempat-tempat yang diindikasikan sebagai sarang tikus. Anjing-anjing itu mencangkul hingga dalam dan menyalak keras untuk mengganggu tikus yang barangkali sedang tertidur pulas (mirip koruptor). Terkadang pelaku menggunakan api, kemudian mengipaskan asap untuk menambah efek kejut bagi tikus. Kaget karena diganggu anjing atau asap, tikus-tikus itu lari tunggang langgang dari persembuyian mereka. Ibarat menunggu “bola muntah” si abang menunggu tikus di lubang-lubang keluar. Dia hanya mengayunkan bampang****. “Bukkk…” Tikus menggelepar. Sama seperti Po, pelaku “bang lawo” memburu tikus-tikus itu untuk menambah sedap menu makan mereka. Konon, dagingnya renyah. Hmmm…

Namun, dalam kalkulasi sederhana, sehebat apapun teknik “bang lawo”, tidak akan sanggup menjelajahi 1 hektar tanaman padi dengan mudah. Selain lama, teknik ini juga merusak pematang sawah. Seringkali pelaku “bang lawo” kena damprat kasar pemilik sawah gara-gara bongkar-bangkir terasering yang sudah tertata rapih. Bahkan teknik api bisa memicu kebakaran hutan dan lahan yang hari-hari ini jadi momok di berbagai daerah. Bisa runyam dan tidak efisien. 

Tidak seperti “bang lawo”, burung hantu sangat efektif dan tidak perlu merusak. Meskipun terkendala oleh penglihatan yang terbatas, burung hantu mempunyai kelebihan pendengaran. Ia bahkan bisa mendengar suara tikus yang menginjak ranting dari ketinggian 23 meter. Pembasmi yang unggul dan perbendaharaan ekosistem yang belum sepenuhnya dimanfaatkan, Po seharusnya mendapatkan nilai yang lebih terhormat daripada sekedar anyir dukacita. 

Istilah

*Po: burung hantu

**penti: pesta panen Orang Manggarai

***bang lawo: berburu tikus dengan anjing pemburu

****bampang: pemukul dari kayu keras 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s