Proyek Mars dan Hasrat Penciptaan

Sumber: NASA/JPL-Caltech

Sejarah perkembangan teknologi manusia banyak sekali mempertontonkan sesuatu yang absurd. Mereka tidak masuk dalam nalar solidaritas kemanusiaan yang dipelihara terengah-engah oleh peradaban modern. Proyek mars adalah salah satu contohnya. Menurut saya, petualangan ke Mars adalah pemborosan yang konyol terhadap sumber daya yang seharusnya dapat digunakan untuk kepentingan bumi. Informasi dari situs planetary science  (https://www.planetary.org/space-policy/cost-of-perseverance) menyebutkan, kendaraan penjelajah yang digunakan di Mars menelah biaya US$ 2.7 Milyar. Uang sebanyak itu dihabiskan sebagian besar untuk pengembangan pesawat ruang angkasa yakni US$ 2.2 Milyar. Sisanya adalah untuk biaya teknologi peluncuran dan biaya operasi dan analisis ilmiah proyek itu selama 2 tahun. 

Itu baru biaya untuk rover penjelajah dan tetek bengek teknologi pendukungnya. Masih banyak ongkos untuk komponen lain dari misi itu yang sulit dicerna oleh pertanyaan harian yang lumrah dari mayoritas penduduk bumi. Misalnya, apakah proyek itu akan memberikan roti atau minyak tambahan bagi ibu rumah tangga yang lintang pukang mencari cara menghidupi anak-anaknya di salah satu negara miskin di Afrika. Jawabannya, tentu tidak. 

Namun, jawaban yang muncul dari proyek-proyek semacam ini bersumber dari kebebasan tanpa batas untuk sains melakukan eksplorasi. Keyakinan ini adalah dogma yang dianggap fundamental bagi manusia dalam membangun peradaban masa kini. Banyak ilmuwan dan politisi sok ilmuwan meyakini bahwa tanpa dogma itu, tidak ada kemajuan dalam peradaban manusia. Mungkin ada benarnya. Tetapi mungkin juga ada yang salah. 

Kebebasan dalam sains berangkat dari satu tujuan yakni pencarian manusia pada dunia ideal atau kemajuan. Ideal merupakan gambaran yang dituju, tempat ia keluar dari kenyataan dunianya berpijak yang ia pandang/anggap porak poranda atau setidaknya tidak memenuhi hasratnya ideal. Proyek Mars menurut saya ada dalam tujuan ini yang dalam konsep NASA tertera dalam tujuan ke-4 yakni menyiapkan eksplorasi manusia di Planet Mars alias kolonisasi (lihat:https://mars.nasa.gov/mer/mission/science/goals/). Tujuan ke-4 ini dimulai dari tujuan-tujuan antara yakni identifikasi kehidupan di Mars (tujuan 1), iklim (tujuan 2), dan geologi (tujuan 3). Semuanya ini mewakili suatu anggapan akan idealitas yakni kehidupan manusia yang lebih maju. Konsep “maju” atau “kemajuan” merupakan perwujudan dari definisi abstrak tentang kebahagiaan yang merupakan dorongan terdalam dari semua proyek manusia modern, termasuk sains. 

Namun proyek Mars mempunyai sesuatu yang lain. Jika teknologi manusia yang kita kenal selama ini seperti teknologi kesehatan, komunikasi, transportasi, dihadirkan disini dan untuk mengklaim kreasi manusia atas bumi, proyek mars adalah sesuatu yang sama sekali lain. Semua orang tahu, karakter Mars dari dimensi dan ukuran apapun sebagai planet, tidaklah senyaman bumi, bahkan ketika dibandingkan dengan belahan bumi yang paling ekstrim sekalipun. Bumi tetap lebih nyaman untuk manusia. Bill Nye, CEO Planetary Society bahkan blak-blakan menolak ide eksplorasi untuk tinggal di Mars. 

I would love to go to space, you guys. But this idea of living on another world where we can’t be outside just doesn’t sound that appealing.

Bill Nye

Banyak analisis mencemooh, bahkan meratapi proyek Mars sebagai kekonyolan yang boros. Al Worden, Astonot Apollo 15, seperti dikutip jurnalis Antonia Jaramillo dari USA Today, menganggap proyek kolonisasi itu fiksi yang tidak perlu jadi cerita sungguhan. Menurut Worden, manusia tidak cukup baik mengelola bumi dan menunjukkan ketidakpedulian pada dunia kita berpijak. Perilaku yang tidak bijak itu mengancam keberlanjutan hidup di bumi. Worden menyimpulkan bahwa manusia lebih cenderung merusak rumahnya sendiri yang seharusnya diperbaiki daripada rencana melancong untuk kolonialisasi di planet lain.

Namun, orang-orang seperti Elon Musk bergeming. Tak tanggung-tanggung. Ia memperkirakan akan mengeluarkan biaya US$ 100 Milyar- US$ 100 Triliun untuk rencana itu. Agar lebih nyata, denah untuk mengubah bentang alam Mars didesain yang diharapkan akan mengundang jutawan dunia tertarik berinvestasi. Perusahaan SpaceX dibangun dan megaproyek ekstraksi sumber daya terutama rare earth dirancang untuk mendukung upaya itu. Sayangnya, bukan proyek real estate atau apartemen mewah di Mars yang bikin ramai di media nasional, tetapi sebuah rencana pengosongan lahan di tanah Papua. Keriuhan itu bermula dari rencana Elon Musk membuka stasiun peluncuran roket SpaceX di Pulau Biak Papua. Rencana itu menuai penolakan orang asli Papua karena diperkirakan akan meremukkan ekosistem lokal dan mengambil lahan orang asli. 

Mimpi NASA atau orang-orang seperti Elon Musk pada kekuatan ilmu pengetahuan nampaknya ada pada upaya memperjuangkan sesuatu yang lain dari kebebasan sains, yakni melakukan penciptaan baru. Alias menggantikan Tuhan. Dampak kebebasan yang diagung-agungkan pada dogma sains modern adalah prinsip rasionalitas ilmiah menjadi agama baru yang melepaskan para penganutnya dari semua pakem standar sosial yang pernah ada. Korban pertamanya adalah Tuhan yang menjadi fondasi dari spiritualitas tradisional yang dibangun oleh agama-agama tua ribuan tahun silam. Hilangnya identitas Tuhan tidak serta merta menghapus konsep pencipta dan ciptaan dalam buku peradaban. Sains menenun kembali konsep itu dari narasi Tuhan menjadi narasi manusia. Karena itu, manusia yang Tuhan itu serta merta memandang dunia dan jagat rayat sebagai miliknya yang dikuasai dan ditundukkan. 

Dengan demikian, proyek Mars adalah uji coba penciptaan dimana manusia berhasrat menjadi pencipta dari kehampaan Mars. Di atas kekosongan itulah barangkali roh manusia melayang-layang untuk memberikan kehidupan pada planet merah itu. Karena itu, selain komponen roket yang mahal itu, uji coba tanaman yang tumbuh di Mars pun diupayakan, supaya manusia bisa bercocok tanam disana. Mars adalah taruhan dari kebebasan sains yang mati-matian berjuang menyingkirkan imajinasi Tuhan dari hidup manusia. Kesuksesan pada Mars akan menghapus kisah Kitab Kejadian pada ajaran Kristiani atau ajaran serupa dari agama-agama lainnya. Kitab Kejadian menuturkan bahwa Tuhan menciptakan bumi dengan segala sumber daya, keindahan, makhluk hidup, dan semua kebaikan yang disediakan untuk manusia. Melalui Proyek Mars membuat narasi baru, yakni bahwa kehidupan di Planet merah dapat berkembang oleh campur tangan penuh manusia. Proyek itu ingin menancapkan klaim manusia bahwa penciptaan bukan oleh karya Tuhan tapi kepandaian manusia. Tuhan akan dibuang menjadi onggokan sejarah, karena penciptaan Mars akan telak membuktikan bahwa konsep Tuhan hanya hoax belaka.  

Namun masih banyak soal yang terganjal pada definisi kebebasan sains yang demikian itu. Lucunya, ganjalan itu bukan pada napsu besar seperti penciptaan Mars, tetapi nampak pada kasus yang amat sepele dalam siklus kehidupan. Misalnya, mengapa manusia gagal menciptakan sel baru pada tubuh untuk menghapus sakit kanker dari daftar penderitaan. Atau, yang lebih ringan, menyingkirkan sakit flu dari jenis sakit yang diderita manusia. Mengapa harus repot-repot bikin Mars jika pada akhirnya kehidupan yang dibayangkan itu tetap berakhir pada siklus yang pasti: lahir, hidup (sakit-sehat), dan mati. Mengapa harus susah payah membuktikan diri sebagai pencipta, jika diri manusia sendiri saja adalah daging dan tulang yang amat rapuh tiap waktunya

Di luar itu semua, banyak orang termasuk saya sendiri, berandai-andai. Andai saja uang itu digunakan untuk memberi makan yang lapar, membangun rumah bagi tunawisma, memulihkan ekosistem yang rusak atau mengganti sumber energi yang bikin bumi kotor menuju energi terbarukan. Tentu bumi ini tidaklah porak poranda. Mungkin tidak seindah ratusan tahun silam, tetapi pastilah jauh lebih nyaman daripada Mars. Selain itu, hasrat mencipta rupanya tidak lepas dari ongkos terhadap sesama. Pulau Biak hampir saja masuk dalam menu untuk menutup biaya itu. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s