Sekularisme Atheis

Keresahan berlangsung di berbagai belahan dunia mengenai masa depan peradaban kebajikan kolektif. Pada suatu masa, kebaikan bersama dibangun di atas moralitas spiritual yang diajarkan agama atau kepercayaan tertentu. Sekarang ini, tidak ! Moral dan amoral hampir tidak ada bedanya. Moralitas perilaku yang diterima, minimal oleh akal sehat, “kabur air”. Salah satunya adalah kejujuran. Demikian mudah kebohongan menjadi benar dan kebenaran menjadi bohong. Hoax, bukan lagi watak yang dijauhi tapi direngkuh sedekat-dekatnya sebagai suatu cara hidup. Banyak contoh lain yang menghabiskan bandwith untuk ditulis. Singkat cerita, fenomena ini bikin gelisah. Tidak hanya meresahkan bagi kaum konservatif yang dipandang tradisional dalam mengelola tata krama kehidupan sosial, liberal pun mulai tidak nyaman dengan perkembangan moralitas ruang publik.

Salah satu sebab utamanya adalah makin tersingkirnya agama oleh sekularisme yang atheis. Sekularisme tidak lagi merupakan produk kompromi untuk memisahkan antara agama dan negara seperti sejarahnya dalam Perjanjian Westphalia. Sekularisme dewasa ini merupakan arena atheisasi ruang publik, dimana kebajikan dari moralitas agama dan secara khusus pembicaraan tentang Tuhan ditentang. Pada tingkat yang paling ekstrim, ruang publik dibersihkan secara total dari kata “Tuhan”.

Dewasa ini, ruang publik telah menjelma dalam berbagai bentuk. Tidak hanya media konvensional seperti TV, media cetak, atau arena pembahasan kebijakan publik, tetapi juga media sosial dimana setiap orang dari seluruh dunia, hanya dengan ujung jarinya bisa mengakses informasi medsos. Anti-Tuhan melanda semua arena publik tersebut.

Kolumnis sekaligus dokter asal Norwegia, Mohammad Usman Rana, memandang bahwa agama adalah bek moral yang tersisa dan spiritualitas yang bertahan di saat banyak institusi publik lainnya dirundung badai relativisme moral. Melalui agama, tegas bagi seseorang untuk memilah antara kebaikan dan kejahatan. Agama pula yang memandang kehidupan sebagai harapan, bukan kematian dan derita. Pada agama, manusia diajak untuk menyuguhkan bahasa sebagai kebajikan dan memfasilitasi kebebasan sebagai kebaikan bagi kehidupan bersama.

Menurut Rana, absennya spiritualitas dari ruang publik berkontribusi pada defisit moral pada arena publik dewasa ini. Rana mengambil contoh lirik musik yang berisi pelecehan terhadap perempuan, mempertontonkan ketelanjangan alih-alih kualitas, kekerasan, kecanduan obat. Musik dewasa ini jarang memberdayakan lirik positif yang membangkitkan semangat generasi muda, mempromosikan dan menyampaikan pesan kebajikan.

Hinggar binggar kata-kata seronok dan jorok menjadi pandemi di ruang publik yang menggiring arena bersama itu menjadi tumpukan sampah busuk. Kontes silap kata dan perilaku amoral tidak hanya menjadi tontonan yang lenyap dalam hitungan detik, tetapi menular menjadi tindakan personal. Lenyapnya penghargaan terhadap orang tua, pertikaian dengan tetangga, caci maki di tengah keluarga, hingga terorisme adalah virus yang menyebar ke arena privat.

Pakar-pakar neurosains mengkonfirmasi dampak itu melalui berbagai penelitian bereputasi bahwa informasi dan kebiasaan positif menghadirkan tindakan positif sekaligus kesehatan pribadi yang tentu berkontribusi pada kesehatan kolektif. Sebaliknya, menu harian berupa kata-kata yang penuh amarah, caci maki, penghinaan, dan sejenisnya menumpuk menjadi perbendaharaan tutur yang siap dilontarkan kembali kapanpun.

Sekularisme dewasa ini membuat prasangka-prasangka baku terhadap agama. Bahwa agama dan spiritualitasnya adalah biang dari primordialisme yang memperanakkan fundamentalisme dan akhirnya terorisme. Prasangka ini menyembunyikan proyek utama sekularisme yakni pemujaan materi. Sekularisme hadir bersamaan dengan kapitalisme yang memuja harta, alih-alih Tuhan sebagai kebahagiaan dunia. Tuhan adalah penghalang untuk berhala materi, sekaligus turunannya berupa industri dan privatisasi ruang bersama menjadi kepunyaan pribadi.

Penganut sekular garis keras paham bahwa pesan-pesan agama merupakan hambatan serius bagi efektivitas mesin produksi dan propagandanya yang membawa manusia pada perhambaan materi. Karena itu, sumber-sumber legitimasi Tuhan harus disingkirkan dan dibuat stereotipe bahwa agama mengancam ruang publik. Pandangan moral harus dihentikan. Sebaliknya, tindakan dan kata-kata vulgar beranak pinak di ruang publik. Mereka dipayungi oleh berkah kebebasan yang diberi keleluasaan oleh institusi publik atas nama ekspresi.

Kata-kata kasar dan brutal adalah anak kandung dari sekularisme. Sebaliknya agama dan tradisi religius dikerangkeng menjadi geto rasial dan agama. Bukannya diamandemen agar menjadi kekuatan penyatu dunia, kapitalisme memanfaatkan kecenderungan ekstrim agama secara ekstrim pula menjadi kampung agama, perumahan agama, dan seterusnya. Komoditifikasi agama terjadi. Bukan agama itu sendiri yang membuatnya menjadi komoditas tetapi sekularisasi yang berkonco dekat dengan kapitalisme.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s