Wafatnya Keheningan

Mencintai keheningan adalah barang mahal tetapi perlu dalam dunia yang hinggar binggar saat ini. Dunia saat ini adalah wadah yang subur untuk histeria, bukan semata-mata karena soal psikis belaka. Histeria adalah komoditas baru yang jika momennya pas, akan menjadi barang yang amat laku.

Artikel Philip Bagus dkk (2021) berjudul “COVID-19 and the Political Economy of Mass Hysteria” mengindikasikan bahwa informasi negatif seperti kasus Covid yang disebarkan secara berulang melalui media massa menimbulkan histeria massal dan efek nocebo yang berpengaruh terhadap kesehatan. Orang yang terguncang cenderung mengalami disorientasi yang amat mudah diarahkan untuk melakukan apapun, ibarat kerbau dicocok hidung. Karena itu, Public hysteria adalah pretext untuk kontrol dan bentuk ekonomi baru yang mendatangkan untung yang bergelimang. Pandemi adalah contoh terbaik soal ini yang bikin panik dan histeria massal. Semuanya berasal dari laporan Neil Ferguson dari Imperial College Inggris yang meramalkan akan ada 65 juta orang yang mati karena Covid.

Meskipun tanpa peer review, laporan itu ditelan bulat-bulat oleh media massa dan menciptakan kepanikan masal. Politik, tidak ada cara lain untuk mempertahankan momentum selain mengendarai laporan bodon itu menjadi basis keputusan politik. Larangan global pun ditempuh secara massal di semua negara. Belakangan terbukti, Feguson salah besar baik pribadi maupun laporannya. Ternyata laju kematian dan dampaknya tidak segalak proyeksi Ferguson. Ia sendiri juga melanggar protokol dengan diam-diam mengunjungi selingkuhannya, seorang perempuan bersuami, selama masa lockdown. Ia memang mundur dari jabatannya sebagai pembisik perdana menteri Inggris.

Namun publik sudah terlanjur histeris. Apalagi media senang menggoreng kesusahan. Jadilah histeria itu berantai dan membentuk kesadaran palsu bahwa pandemi di depan mata. Akibatnya, meskipun ramalan Ferguson tidak terbukti, pengetatan sosial berdampak luas. Seluruh tatanan ekonomi dan sosial yang dibangun pasca PD II lebur berantakan. Kebijakan isolasi sosial adalah bunuh diri kolektif. Tidak mudah memulihkan peradaban yang dibangun saat ini.

Semuanya ini berawal dari kegandrungan pada dunia layar kaca yang serba gaduh, riuh, dan melewatkan masa-masa hening untuk kepala beristirahat dan pause barang sejenak buat refleksi. Namun, histeria itu sudah seperti virus yang jauh lebih massal daripada pandemi Covid-19. Histeria memperanakkan histeria. Bahkan suatu tradisi yang senyap dan hening pun menjadi histeria baru. Tengok saja di tempat-tempat ibadah. Selama berlangsung ritual yang sangat sakral itu, orang tega membuka HP membalas WA bahkan telponan. Ngeri !!

Lihat: Bagus, P., Peña-Ramos, J. A., & Sánchez-Bayón, A. (2021). COVID-19 and the political economy of mass hysteria. International journal of environmental research and public health18(4), 1376. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7913136/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s